Cerpen berjudul "Tabokan Spontan di Sela Wangi Jenang: Kisah Si Laden Bersuara Lirih" ini mengisahkan tentang benturan antara tradisi unggah-ungguh dengan harga diri seorang pemuda bernama Bagus dalam sebuah perhelatan tingkepan di sebuah desa yang kental dengan nuansa kekeluargaan. Sebagai seorang laden yang bertugas menyajikan hidangan, Bagus kerap menjadi sasaran perundungan karena suaranya yang sangat lirih, sebuah "fitur" personal yang sering kali disalahartikan sebagai kelemahan. Konflik memuncak ketika Mbah Gito, seorang sesepuh desa, mengejek keterbatasan Bagus secara berlebihan dengan menirukan suaranya yang kecil di hadapan para tamu undangan. Dipicu oleh rasa lelah dan kejengkelan yang telah lama mengendap, Bagus melakukan aksi spontan yang tabu dalam tatanan sosial desa: ia menabok paha Mbah Gito yang sedang duduk bersila sambil melayangkan protes keras, "Ojo ngece aku ta!"
Melalui narasi yang kaya akan istilah lokal seperti laku dodok, andhap asor, dan subasita, cerita ini memotret ketegangan psikologis yang terjadi saat harmoni sebuah acara syukuran terganggu oleh ledakan emosi seorang bawahan terhadap atasannya secara umur. Cerita ini tidak hanya menyoroti tindakan ofensif Bagus yang dianggap nglancangi aturan, tetapi juga mengkritik perilaku guyon parikeno yang melampaui batas sensitivitas manusiawi. Dengan latar aroma jenang procot dan asap rokok klobot yang simbolis, penulis mengeksplorasi tema martabat pribadi di balik topeng kesantunan formal. Resolusi cerita membawa pembaca pada pemahaman bahwa penghormatan sejati bukanlah jalan satu arah yang ditentukan oleh senioritas, melainkan sebuah timbal balik yang menghargai keberadaan tiap individu, sekecil apa pun suaranya. Cerpen ini berakhir dengan pesan moral yang kuat bahwa keberanian untuk bersikap tegas tidak selalu merusak adat, melainkan menempatkan tatanan sosial pada tempat yang lebih adil dan manusiawi.
Suasana rumah Pak RT malam itu tampak begitu guyub. Asap rokok klobot dan aroma jenang procot beradu di udara, menandakan acara tingkepan—syukuran tujuh bulanan kehamilan menantunya—sedang berlangsung khidmat. Di sudut dapur, para pemuda karang taruna sibuk mengatur strategi. Tugas mereka satu: laden. Menjadi penyaji hidangan bagi para sesepuh dan tamu undangan yang duduk bersila memenuhi ruang tamu beralas tikar pandan.
Di antara barisan pemuda itu, ada Bagus. Pemuda ini rajin, geraknya cekatan, namun ia punya satu "fitur" yang sering jadi bahan perundungan kawan-kawannya: suaranya sangat kecil, nyaris seperti bisikan angin di sela daun bambu.
"Gus, nanti kalau bagi piring, suaranya yang agak keras. Jangan sampai tamu ngira kamu lagi baca mantra dalam hati," goda salah satu temannya sambil tertawa kecil. Bagus hanya tersenyum kecut sambil mengangkat nampan kayu yang penuh dengan piring berisi nasi gurih dan lauk pauk.
Bagus mulai melangkah masuk ke ruang utama. Dengan sikap andhap asor, ia berjongkok, berjalan dengan lutut (laku dodok) melewati sela-sela tamu. Di depannya, duduklah Mbah Gito, seorang sesepuh desa yang terkenal gemar bercanda, namun kadang becandanya melampaui batas sensitivitas anak muda.
Saat Bagus hendak menurunkan piring pertama tepat di hadapan Mbah Gito, ia berbisik sangat pelan, hampir tak terdengar, "Stepun, Mbah... (Silakan, Mbah...)"
Mbah Gito, yang memang sudah mengincar momen itu, bukannya menerima piring dengan tenang, justru malah memajukan wajahnya. Dengan ekspresi yang dibuat-buat dan suara yang dikecilkan hingga terdengar melengking lucu seolah mengejek, Mbah Gito menyahut:
"Apa, Le? Ngomong opo? Suaramu kok kayak semut lagi sariawan," ejek Mbah Gito dengan volume suara yang sengaja dibuat lebih kecil dan cempreng dari suara asli Bagus.
Beberapa tamu di sekitar yang mendengar langsung tertawa cekikikan. Wajah Bagus yang semula tenang mendadak merah padam. Rasa lelah karena seharian membantu persiapan acara seolah meledak menjadi kejengkelan yang tak terbendung. Belum sempat piring itu menyentuh lantai, tangan kanan Bagus yang bebas refleks mendarat di paha Mbah Gito yang sedang duduk bersila.
Plakk!
"Ojo ngece aku ta, Mbah!" seru Bagus. Kali ini suaranya keluar lantang, meskipun getar kemarahan jelas terasa di sana.
Seketika, tawa di ruangan itu terhenti. Suasana yang tadinya penuh canda berubah menjadi hening yang mencekam, hanya menyisakan aroma dupa dan tatapan kaget para sesepuh yang tak menyangka si "pemuda kalem" itu berani beraksi demikian.
Bunyi plakk itu seolah membelah kebisingan suara uplik dan obrolan ringan di ruangan tersebut. Mbah Gito ternganga, matanya membelalak menatap paha kanannya yang baru saja mendapat "stempel" telapak tangan Bagus. Keheningan yang tercipta begitu pekat, hingga suara detak jam dinding kuno milik Pak RT terdengar seperti dentuman martil.
"Lho... lho... Bagus, kamu ini ndak punya toto kromo?" gumam Pak RT yang duduk tak jauh dari sana, berusaha memecah kekakuan meski suaranya sendiri terdengar ragu.
Bagus masih berjongkok, tangannya gemetar. Emosi yang selama ini ia pendam di balik suara lirihnya meluap bak tanggul jebol. Ia tidak segera menarik tangannya, melainkan menatap Mbah Gito dengan tatapan yang tajam—sesuatu yang sangat tidak lazim dilakukan seorang laden kepada sesepuh.
"Mbah Gito kalau mau bercanda ya jangan keterlaluan. Saya ini sedang nyambut gawe, membantu hajat orang. Jangan suaranya orang kecil malah dibuat mainan," ucap Bagus lagi, kali ini dengan artikulasi yang sangat jelas, tidak ada lagi bisikan angin di sana.
Mbah Gito, yang biasanya punya seribu satu kalimat balasan, mendadak kelu. Wajah tuanya yang semula penuh seringai ejekan kini berubah pucat karena malu yang luar biasa di depan khalayak. Namun, ego sebagai orang tua membuatnya merasa harus membela diri.
"Lha... aku kan cuma guyon, Le. Wong cuma masalah suara saja kok sampai main tangan. Kamu itu laden, harusnya sabar, sumeleh. Jangan malah ngalup di depan rejeki begini," sahut Mbah Gito dengan nada bicara yang mulai meninggi, mencoba menutupi rasa malunya dengan otoritas usia.
"Guyon itu ada tempatnya, Mbah! Dari tadi di dapur kawan-kawan sudah meledek, sampai di sini sampeyan tambah lagi. Saya ini manusia, bukan preng yang bisa ditiup-tiup suaranya sesuka hati!" balas Bagus tanpa sadar bahwa suaranya kini menjadi pusat perhatian seluruh tamu tingkepan.
Beberapa sesepuh lain mulai berbisik-bisik. Suasana khidmat dari aroma jenang procot berganti menjadi ketegangan yang menyesakkan. Para pemuda laden lainnya yang berada di ambang pintu dapur hanya bisa terpaku, nampan-nampan kayu mereka tertahan di udara. Mereka tahu Bagus orang baik, tapi mereka tidak menyangka bahwa "si suara semut" itu bisa menyalak sekeras itu.
"Sudah, sudah! Ojo dadi gegeran," lerai Pak RT sambil bangkit berdiri. "Bagus, letakkan piringnya. Mbah Gito, tolong dimaafkan, mungkin Bagus lagi capek."
Namun, api sudah terlanjur menyulut sumbu. Mbah Gito yang merasa harga dirinya jatuh karena ditabok anak muda di depan umum, malah menyingkirkan piring nasi gurih yang baru saja diletakkan Bagus.
"Aku ndak sudi makan kalau yang melayani tidak punya unggah-ungguh! Wis, acara ini jadi ndak enak gara-gara bocah ini!" bentak Mbah Gito sambil berusaha memperbaiki posisi duduk silanya yang berantakan.
Bagus berdiri tegak, sebuah tindakan yang sangat pantang dilakukan seorang laden sebelum semua piring turun. Ia tidak lagi menggunakan laku dodok. Dengan dada membusung, ia menatap nampan kayunya yang masih tersisa tiga piring lagi.
"Kalau Mbah Gito tidak mau makan, biar saya bawa kembali ke dapur. Tapi satu hal, jangan pernah lagi mengecilkan suara orang kalau tidak mau mendengar suara hatinya meledak!"
Suasana ruang tamu Pak RT benar-benar berada di titik nadir. Bau wangi jenang procot yang seharusnya melambangkan kelancaran persalinan, kini seolah tertutup oleh aroma ketegangan yang menyengat. Puncak ketegangan terjadi saat Mbah Gito, dengan tangan gemetar karena amarah dan malu, menepis tangan Pak RT yang berusaha menenangkannya.
"Ini bukan soal capek, RT! Ini soal kurang ajar!" teriak Mbah Gito, suaranya kini pecah, tak lagi dibuat-buat kecil. "Seumur-umur aku hidup di desa ini, baru kali ini ada laden ingusan berani menabok paha sesepuh. Apa orang tuamu tidak mengajarimu cara menghargai yang lebih tua?"
Bagus tidak mundur selangkah pun. Matanya yang biasanya redup kini menyala, mengunci pandangan Mbah Gito. Klimaks perasaan itu meledak tepat di tengah lingkaran para tamu yang terdiam mematung.
"Orang tua saya mengajari saya cara menghargai manusia, Mbah, bukan menghargai ejekan yang dibungkus guyonan," sahut Bagus dengan nada rendah namun penuh penekanan. "Sampeyan boleh lebih tua secara umur, tapi suara kecil saya ini pemberian Tuhan. Kalau sampeyan buat mainan, berarti sampeyan meremehkan yang memberi suara ini."
"Bagus! Cukup!" bentak Pak RT lagi, kali ini lebih keras. "Ingat di mana kamu berdiri! Ini acara syukuran, bukan tempat untuk adu harga diri!"
Bagus menarik napas panjang, dadanya naik turun. Ia melihat ke sekeliling. Teman-teman sesama laden menatapnya dengan campuran rasa ngeri dan kagum. Ia menyadari telah melintasi garis batas subasita yang sakral di desa itu. Namun, ada kelegaan yang luar biasa; seolah beban batu di tenggorokannya yang selama bertahun-tahun menghimpit suaranya, kini telah hancur.
"Mohon maaf, Pak RT. Mohon maaf untuk tuan rumah," ucap Bagus sambil membungkuk sekilas, namun suaranya tetap tegas, tidak kembali menjadi bisikan angin. "Saya akan keluar. Tapi piring ini..." ia menunjuk piring di depan Mbah Gito, "...adalah rezeki yang didoakan banyak orang. Jangan dibuang hanya karena sampeyan benci pada orang yang mengantarkannya."
Mbah Gito hanya bisa terdiam dengan mulut setengah terbuka. Ia ingin memaki lebih jauh, namun tatapan para tamu lain mulai berubah. Ada sorot mata yang seolah setuju dengan ucapan Bagus—bahwa guyon parikeno atau bercanda ada batasnya. Bagus kemudian berbalik, tidak lagi menggunakan laku dodok, ia melangkah mantap keluar ruangan dengan nampan kosong di tangan. Di belakangnya, keheningan menyisakan tanya: apakah harmoni desa lebih penting daripada martabat pribadi yang diinjak-injak?
Langkah kaki Bagus yang mantap meninggalkan ruang utama menciptakan resonansi yang aneh di lantai kayu rumah Pak RT. Di dalam ruangan, Mbah Gito masih terpaku, tangannya yang semula hendak menepis piring kini menggantung kaku di udara. Keheningan itu pecah saat Pak Kaum, yang sedari tadi memimpin doa, berdehem pelan. Suara dehemannya seolah menjadi sinyal bagi gravitasi untuk kembali bekerja di ruangan itu.
"Sudah, sudah... rezeki jangan ditolak, amarah jangan dipupuk," ucap Pak Kaum lembut sambil meraih piring di depan Mbah Gito yang sempat terabaikan. "Mbah Gito, piring ini sudah diijabahi dengan doa keselamatan untuk si jabang bayi. Mari kita hargai niat baik tuan rumah."
Mbah Gito terdiam. Ada pergulatan hebat di wajah keriputnya antara rasa gengsu dan kesadaran. Ia melirik paha kanannya yang tadi ditabok Bagus—rasa panasnya sudah hilang, namun rasa malunya justru baru meresap hingga ke tulang. Di sudut ruangan, para sesepuh lain mulai menyendok nasi mereka dalam diam, sebuah gestur kolektif untuk meredam kegaduhan agar tidak merusak sasmita suci acara tingkepan tersebut.
"Saya... saya tidak bermaksud," gumam Mbah Gito lirih, kali ini tanpa dibuat-buat. Suaranya terdengar tulus, meski masih ada sisa-sisa getaran harga diri yang terluka. "Mungkin memang benar kata si Bagus tadi. Saya yang terlalu kelewatan menganggap semuanya bisa jadi bahan geguyonan."
Sementara itu, di halaman belakang yang gelap, Bagus duduk di atas lincak bambu. Napasnya mulai teratur, meski jantungnya masih berdegup kencang seperti tabuhan kendang. Seorang rekan sesama laden, sapaan akrabnya adalah Mas Jono, datang menghampiri sambil membawa segelas teh hangat yang masih mengepul.
"Ini diminum dulu, Gus. Suaramu tadi... gagah tenan," ujar Jono sambil menepuk bahu Bagus. "Baru kali ini aku dengar kamu bicara sejelas itu. Tapi ya itu, risikonya besok seantero desa pasti bakal sibuk ngerasani kejadian ini."
Bagus menerima gelas itu, menyesapnya perlahan. Rasa hangat teh nasgithel (panas, manis, legit, dan kental) itu seolah membasuh sisa-sisa amarah di tenggorokannya. "Aku tidak menyesal, Mas. Kalau selamanya aku diam, mereka tidak akan pernah sadar kalau bisikanku itu bukan karena aku lemah, tapi karena aku menjaga subasita. Tapi kalau harga diri sudah diinjak, buat apa aku pura-pura santun?"
Tak lama kemudian, Pak RT keluar menemui mereka. Bagus segera berdiri, hendak meminta maaf kembali, namun Pak RT mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Bagus tetap duduk.
"Gus, apa yang kamu lakukan tadi memang nglancangi aturan laden. Tapi aku paham," kata Pak RT dengan nada kebapakan. "Mbah Gito sudah mau makan. Dia juga titip pesan, katanya besok-besok kalau kamu lewat rumahnya, suaranya jangan dikecilkan lagi. Dia bilang dia kapok kena 'stempel' tanganmu."
Bagus tersenyum tipis. Sebuah senyum yang jujur, tanpa beban. Malam itu, di sela wangi jenang procot dan asap rokok yang mulai menipis, Bagus menyadari satu hal: ia tidak perlu berteriak untuk didengarkan, namun ia juga tidak boleh membiarkan suaranya hilang ditelan ejekan. Acara tingkepan itu tetap berlanjut dengan khidmat, namun bagi Bagus, malam itu bukan sekadar syukuran tujuh bulanan menanda kehamilan, melainkan lahirnya keberanian baru dalam dirinya.
Tabokan spontan itu mungkin akan menjadi buah bibir, namun gema dari kata-katanya di tengah ruangan tadi telah menetap secara permanen—mengingatkan siapa pun yang hadir bahwa di balik suara paling lirih sekalipun, terdapat jiwa yang menuntut untuk dihargai secara utuh sebagai manusia.
Malam merambat semakin larut, namun sisa-sisa ketegangan di rumah Pak RT belum sepenuhnya menguap. Di ruang tengah, acara tingkepan ditutup dengan doa bersama yang lebih khusyuk dari biasanya—seolah masing-masing tamu sedang merapal permohonan maaf atas kegaduhan yang sempat memecah kesucian sasmita malam itu.
Bagus masih terduduk di lincak belakang, menatap pendar lampu uplik yang menari ditiup angin malam. Ia memperhatikan telapak tangan kanannya; masih ada sedikit rona merah di sana, bekas kontak fisik yang tak terduga dengan paha Mbah Gito.
"Gus, piring-piring sudah bersih semua. Kamu tidak mau pulang?" tanya Mas Jono sembari memberesi sisa-sisa nampan kayu yang kini bertumpuk rapi di sudut dapur.
"Sebentar lagi, Mas. Rasanya kakiku masih sedikit berat untuk melangkah," jawab Bagus. Kali ini suaranya tidak lagi sekecil bisikan semut, namun tidak juga meledak seperti tadi. Suaranya berada di tengah—mantap, tenang, dan memiliki bobot.
Dari arah pintu dapur, langkah kaki yang terseret-seret terdengar mendekat. Sosok Mbah Gito muncul dengan sarung yang disampirkan di bahu, hendak menuju ke arah parkiran motor di samping dapur. Langkahnya terhenti tepat di depan Bagus. Suasana mendadak kaku kembali. Jono pura-pura sibuk mencuci gelas, memberikan ruang bagi kedua orang yang berbeda generasi itu.
Mbah Gito berdehem lama, lalu menatap Bagus dengan tatapan yang sulit diartikan. "Le, Bagus..."
Bagus segera berdiri, refleks andhap asor-nya kembali muncul, namun punggungnya tidak lagi membungkuk karena rasa takut. "Nggih, Mbah?"
"Tabokanmu tadi... lumayan panas juga di paha," ujar Mbah Gito sambil terkekeh hambar, mencoba mencairkan suasana. "Tapi ya sudah, anggap saja itu pengingat buat orang tua yang sudah pikun cara bercanda seperti aku. Aku minta maaf kalau omonganku tadi bikin hatimu tatu."
Bagus tertegun. Ia tidak menyangka seorang sesepuh yang dikenal keras kepala akan meluruhkan egonya di dapur yang remang-remang. "Saya juga minta maaf, Mbah. Saya sudah nglancangi sampeyan di depan orang banyak. Tidak seharusnya tangan saya lancang begitu."
Mbah Gito menepuk bahu Bagus pelan—kali ini bukan sebuah ejekan, melainkan pengakuan. "Kadang-kadang, orang memang perlu dipukul biar bangun dari tidurnya. Suaramu itu bagus, Le. Jangan dikecilkan lagi kalau bicara denganku. Aku lebih suka mendengar suaramu yang marah tadi daripada bisikan yang bikin aku harus memajukan telinga sampai mau jatuh."
Setelah Mbah Gito berlalu ditelan kegelapan malam desa, Bagus menghela napas panjang. Ia melihat para pemuda lain yang mulai berpamitan satu per satu. Kejadian malam itu memang menjadi geguyonan baru, namun ada rasa hormat yang berbeda di mata teman-temannya. Tidak ada lagi yang berani menyahut dengan suara melengking saat Bagus berbicara.
Di sudut meja dapur, masih tersisa satu takir jenang procot yang belum disentuh. Bagus mengambil sendok kayu kecil, mencicipi jenang yang masih terasa hangat itu. Manisnya gula jawa dan gurihnya santan lumer di lidahnya, seolah merayakan perdamaian yang baru saja terjadi.
Malam itu, di sela wangi jenang dan sisa asap kemenyan, Bagus belajar bahwa unggah-ungguh bukanlah tentang menjadi bisu di hadapan ketidakadilan. Keberaniannya bukan merusak harmoni desa, melainkan menempatkan harmoni itu pada tempat yang semestinya: di mana yang muda menghargai yang tua, dan yang tua tidak menginjak martabat yang muda.
Kisah "Tabokan Spontan di Sela Wangi Jenang" itu pun abadi dalam ingatan warga. Bukan sebagai cerita tentang pemberontakan, melainkan tentang seorang laden bersuara lirih yang akhirnya menemukan volume suaranya sendiri—tepat saat harga dirinya coba dikecilkan oleh dunia. Bagus pulang dengan langkah ringan, membawa nampan kosong dan hati yang lebih lapang, sementara di langit desa, rembulan seolah tersenyum menyaksikan satu jiwa lagi yang baru saja "tingkepan" atau lahir kembali dengan keberanian baru.
Peristiwa di malam tingkepan itu bukan sekadar fragmen kekacauan di tengah ritual suci, melainkan sebuah cermin besar bagi siapa saja yang mengagungkan unggah-ungguh namun melupakan kemanusiaan. Bagus telah memberikan sebuah pelajaran tanpa kurikulum bagi warga desa; bahwa kesantunan tidak boleh dibeli dengan harga diri, dan diamnya seseorang bukanlah ruang kosong yang bisa diisi dengan cacian. Dalam tatanan masyarakat yang kental dengan hierarki, sering kali sosok yang lirih dianggap sebagai subjek yang sah untuk ditindas dengan dalih guyonan. Namun, tabokan Bagus adalah pengingat yang nyata bahwa setiap manusia memiliki batas sabar yang jika dilampaui, akan melahirkan resonansi yang mampu menggetarkan kemapanan tradisi yang timpang.
Amanat yang tersirat dari kisah si laden bersuara lirih ini begitu dalam. Pertama, bagi mereka yang lebih tua atau memiliki otoritas, gelar sesepuh seharusnya dibarengi dengan kearifan untuk ngayomi, bukan justru menjadi legitimasi untuk merendahkan yang muda melalui guyon parikeno yang kebablasan. Menghormati usia adalah keharusan, namun menghargai martabat sesama adalah kewajiban yang lebih asasi. Kedua, bagi mereka yang merasa "kecil" atau tak terdengar, keberanian Bagus mengajarkan bahwa subasita dan tata krama bukanlah belenggu untuk menjadi budak keadaan. Kita tetap bisa bersikap andhap asor tanpa harus menjadi keset bagi ego orang lain. Kesantunan yang sejati adalah ketika dua pihak saling menjaga perasaan, bukan ketika salah satu pihak dipaksa menelan harga dirinya bulat-bulat demi menjaga apa yang disebut sebagai "kedamaian semu".
Pada akhirnya, hidup bermasyarakat ibarat meracik jenang procot; ia membutuhkan takaran yang pas antara rasa manisnya penghormatan dan gurihnya keadilan. Jika salah satu bumbu mendominasi secara paksa, maka rasa harmoni itu akan hambar, bahkan pahit. Kisah ini berakhir dengan sebuah simpul yang kuat: jangan pernah meremehkan mereka yang bersuara pelan, karena sering kali, di balik lisan yang irit bicara, terdapat jiwa yang sedang menabung kekuatan untuk meledak demi kebenaran. Martabat tidak diukur dari seberapa keras seseorang berteriak, melainkan dari keberaniannya untuk berkata "cukup" saat ketidakadilan mulai dianggap sebagai kewajaran.

0 Komentar