Kategori Cerpen

Teror Undangan "Dulur Dhewe": Labirin Salah Sambung

 

Cerpen ini mengisahkan tentang Satria, seorang pria yang terjebak dalam sebuah digital nightmare yang absurd sekaligus menyiksa. Tanpa alasan yang jelas, ia terus-menerus dimasukkan ke dalam sebuah grup WhatsApp keluarga bernama "Dulur Dhewe" oleh admin yang tidak ia kenali. Meski telah melakukan left group sebanyak sepuluh kali, memblokir nomor admin, hingga melakukan protes keras, Satria selalu ditarik kembali ke dalam lingkaran percakapan orang-orang asing tersebut melalui nomor-nomor baru.

​Ketegangan mencapai puncaknya ketika anggota grup justru melakukan gaslighting massal dengan memberinya wejangan moral—menganggap Satria adalah anggota keluarga yang sedang kualat atau kehilangan unggah-ungguh. Ternyata, segala kekacauan ini bermula dari ulah Revan, seorang anak kecil yang bermain dengan ponsel ayahnya. Karena faktor presbyopia dan kesalahan daftar kontak, sang ayah menyimpan dua nama Satria; satu adalah kerabat asli, dan satu lagi adalah Satria "sang sales" yang malang. Melalui sudut pandang yang ironis, cerita ini menyoroti bagaimana batasan privasi bisa hancur seketika di tangan ketidaktahuan kolektif dan sebuah glitch komunikasi dalam labirin dunia digital yang claustrophobic.

Siang itu, matahari sedang garang-garangnya memantul di layar smartphone milik Satria. Pria itu baru saja hendak menyesap kopi hitamnya ketika sebuah notifikasi familier muncul di bilah atas layarnya. Bunyi ting yang pendek, namun sanggup memicu detak jantungnya berpacu lebih cepat karena amarah.

"Anda telah ditambahkan ke grup 'Keluarga Besar Dulur Dhewe'"

​Satria meletakkan gelasnya dengan kasar. "Lagi?! Ini sudah yang kesepuluh kalinya!" geramnya tertahan. Jari-jarinya gemetar saat membuka aplikasi pesan hijau tersebut. Benar saja, dia kembali terjebak dalam pusaran grup keluarga entah berantah yang berisi ratusan orang yang sama sekali tidak ia kenali.

​Ia melihat deretan foto profil: ibu-ibu dengan pose memegang bunga, bapak-bapak berseragam dinas, dan balita-balita yang sedang lucu-lucunya. Masalahnya, Satria sama sekali bukan bagian dari mereka. Ia sudah mencoba keluar (left group) berkali-kali, memblokir nomor adminnya, bahkan mengganti pengaturan privasi, namun entah bagaimana, ia selalu ditarik kembali ke sana. Kali ini, admin yang memasukkannya menggunakan nomor baru.

​Seolah tidak peduli dengan privasi orang asing, anggota grup mulai mengirimkan pesan beruntun.

"Sugeng siang sedoyo, piye kabare?" tulis salah satu anggota dengan display name 'Pakdhe Jono'.

"Lho, ini Satria kok keluar masuk terus? Sinyalnya susah ya, Le?" timpal akun lainnya, 'Budhe Retno'.

​Satria menarik napas panjang, mencoba tetap cool, namun batas kesabarannya sudah menguap. Ia mulai mengetik dengan kecepatan penuh, jarinya menghantam layar seolah ingin menghancurkan benda itu.

​"Dengar ya, Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian," Satria memulai dengan pesan yang ditulis dalam huruf kapital semua. "SAYA. BUKAN. KELUARGA. ANDA. Saya tidak kenal siapa itu Satria yang kalian maksud! Saya sudah keluar sepuluh kali, saya sudah blokir nomor adminnya, tapi kenapa kalian terus melakukan spam ini ke saya? Ini sudah masuk kategori harassment! Tolong, hapus nomor saya sekarang juga atau saya laporkan ke pihak berwajib!"

​Suasana grup yang tadinya hangat seketika menjadi awkward. Namun, hanya berselang detik, sebuah balasan muncul dari nomor admin utama—nomor yang tersimpan dengan nama 'Bapak' di grup itu namun asing di kontak Satria.

"Lho, lho, kok Satria jadi galak begini? Ini kan grup silaturahmi, Le. Ojo ngamuk-ngamuk, nggak elok dibaca orang tua," tulis admin tersebut dengan nada santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.

​Satria melempar ponselnya ke sofa. Ia merasa terjebak dalam sebuah glitch di dunia digital. Ia merasa seperti dikejar oleh hantu masa lalu yang salah alamat. Sementara itu, di sebuah ruang tamu yang jauh dari tempat Satria berada, seorang anak kecil bernama Revan sedang asyik mengutak-atik ponsel ayahnya yang tergeletak di meja.

​Revan tersenyum lebar. Baginya, ini hanyalah sebuah permainan puzzle. Setiap kali "Kak Satria" menghilang dari daftar peserta, Revan dengan sigap mencarinya di daftar kontak dan menekankan tombol add. Di mata polos Revan, ia hanya sedang membantu ayahnya mengumpulkan kembali semua anggota keluarga, tanpa menyadari bahwa daftar kontak di ponsel ayahnya menyimpan dua nama "Satria": satu adalah sepupunya yang sedang merantau, dan satu lagi—yang terus ia pilih secara acak—adalah seorang pria asing yang kini sedang berada di ambang gangguan jiwa ringan.

Satu jam berlalu, namun layar ponsel Satria justru semakin menggila. Bukannya merasa bersalah karena telah salah sasaran, anggota grup "Keluarga Besar Dulur Dhewe" malah mulai menghujani Satria dengan wejangan-wejangan moral yang terasa seperti gaslighting massal.

​"Le, Satria, jangan begitu sama orang tua. Ingat unggah-ungguh. Kita ini seduluran, jangan karena sibuk kerja di kota terus lupa silsilah," tulis akun 'Lilik Sumi'.

​Satria yang baru saja mencoba menenangkan diri, kembali meledak. Ia meraih ponselnya dengan kasar. "SAYA BUKAN SATRIA SAUDARA KALIAN! Saya Satria yang lain! Saya tinggal di Jakarta, tidak punya saudara namanya Pakdhe Jono atau Budhe Retno! Tolong cek nomornya baik-baik!"

​Namun, spam kiriman stiker ucapan selamat siang dan video ceramah singkat justru mengubur pesan Satria dalam sekejap. Di sudut lain, Revan, si bocah berumur tujuh tahun itu, melihat ada aktivitas seru di ponsel bapaknya. Ia melihat nama "Satria" kembali muncul dengan tulisan merah—tanda bahwa orang itu baru saja mengamuk. Karena merasa "Kak Satria" sedang bercanda atau mungkin "sedang error" di matanya yang polos, Revan kembali melakukan aksinya.

​Satria melakukan left group untuk kesebelas kalinya. Ia segera masuk ke pengaturan privacy dan mengubah setelan agar tidak sembarang orang bisa menambahkannya. Namun, sedetik kemudian, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor tak dikenal.

​"Halo, Sat? Kamu itu kenapa toh? Ini Bapak. Kok nomor Bapak diblokir? Ini Bapak pinjam HP-nya Om Haris buat menelepon kamu. Jangan aneh-aneh kamu, cepat masuk grup lagi, ini mau bahas arisan keluarga," suara berat seorang pria di seberang sana terdengar menuntut.

​"Pak, dengar saya baik-baik! Saya bukan anak Bapak! Nama saya memang Satria, tapi saya bukan Satria-nya Bapak! Demi Tuhan, berhenti meneror saya!" teriak Satria hingga urat lehernya menonjol.

Klik. Telepon ditutup sepihak. Satria merasa seperti terjebak dalam episode Black Mirror. Ia baru saja hendak mematikan ponselnya ketika notifikasi laknat itu muncul lagi:

"Anda telah ditambahkan ke grup 'Keluarga Besar Dulur Dhewe'"

​"ARGHHH!!!" Satria mengacak rambutnya frustrasi. Ia mulai mengetik di grup dengan membabi buta. "OKE! KALAU KALIAN TIDAK MAU BERHENTI, SAYA AKAN KIRIMKAN GAMBAR-GAMBAR MENGGANGGU DI SINI! SAYA AKAN BUAT GRUP INI KACAU!"

​Ia mulai mengirimkan foto-foto acak dari internet, mulai dari meme yang tidak sopan hingga foto horor, berharap mereka akan menendangnya (kick) secara permanen. Namun, respon grup tersebut sungguh di luar nalar.

​"Ya Allah, Satria... kamu kerasukan apa, Le? Kok kirim gambar serem-serem begini? Ayo istighfar," balas 'Budhe Retno' lengkap dengan emoji menangis.

​"Ini pasti gara-gara Satria terlalu banyak main game online. Otaknya jadi corrupt," timpal 'Pakdhe Jono' dengan sok tahu.

​Satria terduduk lemas di lantai apartemennya. Ia merasa sedang berhadapan dengan tembok raksasa bernama "ketidaktahuan kolektif". Sementara itu, di seberang sana, Revan tertawa cekikikan. Baginya, melihat foto-foto aneh yang dikirim "Kak Satria" adalah hiburan baru. Setiap kali ayahnya meletakkan ponsel untuk pergi ke kamar mandi atau mengambil kopi, Revan akan segera beraksi.

​Ia tidak tahu bahwa di daftar kontak bapaknya, ada dua nama Satria. Satu bernama "Satria Ponakan" (yang nomornya sudah tidak aktif karena ganti kartu di perantauan) dan satu lagi "Satria Sales Sparepart" (nomor yang pernah disimpan bapaknya saat mencari suku cadang motor dua tahun lalu). Dan sialnya, Revan selalu menekan nomor sang sales—Satria kita yang malang—karena foto profil Satria yang sedang berpose di depan mobil keren dianggap Revan sebagai "Kak Satria yang hebat".

​"Tambah lagi, ah. Kak Satria lucu kalau lagi main 'keluar-masuk' grup," gumam Revan polos, jemarinya yang mungil dengan lincah menekan tombol add untuk yang kedua belas kalinya, tepat saat Satria sedang mengetik pesan ancaman lapor polisi ke cyber crime.

​Dunia digital yang seharusnya menghubungkan, kini menjadi labirin claustrophobic bagi Satria, di mana setiap jalan keluar hanya menuntunnya kembali ke ruang tamu penuh orang asing yang memanggilnya "Le".

Kesabaran Satria bukan lagi menipis; itu sudah terbakar habis menjadi abu. Ruang apartemennya yang sunyi kini terasa pengap, seolah dinding-dindingnya ikut berbisik memanggilnya "Le". Ketika notifikasi ke-13 muncul dengan bunyi ting yang identik dengan lonceng kematian bagi kewarasannya, Satria tidak lagi berteriak. Ia mencapai tahap numbness—kekakuan emosional yang berbahaya.

​Dengan mata yang memerah akibat paparan blue light selama berjam-jam, ia mengetik dengan ritme yang tenang namun mematikan. Ia tidak lagi mengirim meme atau gambar horor. Ia mulai mengirimkan tautan-tautan acak yang ia klaim sebagai virus peretas data.

​"Kalau satu jam lagi saya tidak dikeluarkan dan nomor ini tidak dihapus dari kontak admin, saya pastikan seluruh saldo m-banking anggota grup ini ludes!" ancam Satria di kolom chat. Strategi bluffing terakhirnya.

​Di seberang sana, di sebuah rumah dengan teras luas di Jawa Tengah, suasana yang semula tenang berubah menjadi chaos. Bapak—si pemilik ponsel—akhirnya menyadari ada yang tidak beres. Ia melihat ponselnya bergetar hebat di tangan Revan yang sedang tertawa kegirangan.

​"Revan! Kamu apakan HP Bapak?!" bentak Bapak sambil menyambar ponselnya. Ia terbelalak melihat rentetan ancaman di grup keluarga yang kini dipenuhi ratusan pesan ketakutan dari saudara-saudaranya.

​"Itu Kak Satria, Pak! Lucu, gambarnya ganti-ganti!" jawab Revan polos tanpa dosa.

​Bapak segera menelpon nomor Satria melalui fitur WhatsApp Call. Di apartemennya, Satria melihat layar ponselnya menyala. Nama pemanggilnya: "Bapak".

​"MAU APA LAGI?!" Satria menjawab dengan raungan yang sanggup meruntuhkan plafon.

​"Heh, Satria! Kamu itu kesambet apa? Tega-teganya mengancam mau menguras tabungan saudara sendiri? Bapak ini yang menyekolahkan kamu, ya! Kamu di Jakarta jadi begini?" suara Bapak di ujung telepon terdengar gemetar karena murka bercampur sedih.

​"SAYA BUKAN ANAK ANDA! SAYA BUKAN KEPONAKAN ANDA! SAYA SATRIA YANG JUALAN SPAREPART MOTOR!" Satria membalas dengan suara serak. "Demi Tuhan, Pak, lihat foto profil saya baik-baik! Apa saya mirip dengan Satria yang ada di album keluarga kalian? Saya pakai jas, Pak! Saya sedang berdiri di depan mobil kantor! Buka mata Anda!"

​Terjadi keheningan yang mencekam di seberang telepon. Dead air itu berlangsung selama hampir sepuluh detik yang terasa seperti selamanya. Bapak, yang selama ini merasa benar karena merasa sedang "menertibkan" anaknya yang membangkang, mulai menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia menyipitkan mata, menatap foto profil pria yang sedang mengamuk itu.

​Ia kemudian membuka detail kontak. Di sana, tertulis nama: Satria Sales Sparepart (Cari Filter Oli).

​Darah di wajah Bapak seketika surut. Ia baru teringat, dua tahun lalu ia menyimpan nomor seorang sales dari Jakarta untuk memesan suku cadang langka. Di bawahnya, barulah ada nama Satria Ponakan (Nomor Baru) yang ternyata sudah tidak aktif. Karena jempolnya yang besar dan penglihatannya yang mulai presbyopia, ditambah ulah Revan yang terus-menerus menekan nama teratas, ia telah menciptakan neraka digital bagi orang yang sama sekali asing.

​"Lho... ini... ini bukan Satria anaknya almarhum Kang mulyo?" bisik Bapak lirih, nyaris seperti embusan angin.

​"BUKAN, PAK! SAYA BUKAN SATRIA ANAK KANG MULYO!" Satria tertawa histeris, tawa yang terdengar lebih seperti tangisan frustrasi. "Saya cuma orang yang ingin minum kopi dengan tenang di hari Minggu! Tolong, saya mohon... stop... lepaskan saya dari grup ini!"

​Klimaks itu meledak ketika di dalam grup, 'Pakdhe Jono' justru mengirimkan sebuah pesan terakhir yang menjadi puncak dari segala absurditas ini: "Mungkin Satria kena hack. Jangan percaya suaranya, itu suara AI. Ayo semuanya, kita doakan bersama di grup ini supaya akun Satria kembali normal."

​Satria melempar ponselnya ke arah dinding. Layarnya retak, namun lampu notifikasi hijau di pojok atas masih berkedip-kedip centil, menandakan bahwa "Keluarga Besar Dulur Dhewe" masih belum selesai dengannya.

Suara retakan layar ponsel itu menjadi titik balik bagi Satria. Ia terengah-engah di lantai apartemennya, menatap nanar pada perangkat yang masih berkedip itu. Di seberang sana, di ruang tamu yang jauh, Bapak tertegun melihat layar ponselnya sendiri. Kesadaran baru saja menghantamnya seperti godam.

​"Ya Allah... astaghfirullah..." bisik Bapak dengan tangan gemetar. Ia segera menepis tangan Revan yang hendak meraih ponsel itu lagi. "Revan, berhenti! Ini bukan Kakakmu! Ini orang jauh, Cah Bagus!"

​Bapak dengan terburu-buru mengetik di grup dengan jempolnya yang kaku, mencoba menghentikan gelombang gaslighting yang masih deras mengalir dari saudara-saudaranya.

​"STOP! SEMUANYA STOP!" tulis Bapak dengan huruf kapital, meniru gaya Satria tadi, namun kali ini dengan tujuan penyelamatan. "Ini salah sambung! Ini bukan Satria keponakan kita. Ini Mas Satria yang jualan onderdil motor di Jakarta. Saya salah simpan nomor!"

​Grup yang tadinya riuh rendah dengan doa pengusir setan dan ceramah online mendadak sunyi. Dead air digital. Tak lama kemudian, 'Budhe Retno' membalas dengan satu kata yang terasa seperti anti-klimaks paling hambar sedunia: "Lho?"

​Di apartemennya, Satria memberanikan diri mengambil ponselnya yang retak. Ia membaca pesan permintaan maaf dari Bapak di kolom personal chat.

​"Mas Satria, saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Ternyata anak saya, Revan, yang terus memasukkan Mas ke grup karena namanya paling atas di kontak 'Satria'. Saya pikir Mas itu keponakan saya yang sedang kualat. Ngapunten sanget, Mas. Benar-benar khilaf."

​Satria membaca pesan itu dengan tawa getir yang kering. Ia tidak langsung membalas. Ia masuk kembali ke grup "Keluarga Besar Dulur Dhewe" untuk terakhir kalinya. Kali ini, bukan untuk mengamuk, melainkan untuk melakukan sebuah seremoni pelepasan.

​"Bapak-bapak, Ibu-ibu," ketik Satria, jemarinya kini lebih stabil. "Terima kasih atas dramanya. Saya doakan Satria yang asli segera ketemu, supaya kalian tidak meneror orang asing lagi. Saya pamit permanen. Please, delete my number from your contacts."

​Satu per satu, anggota grup membalas dengan rasa malu yang dibungkus keramahan khas orang desa.

"Oalah, maaf ya Mas Sales," tulis 'Pakdhe Jono'.

"Maaf ya Le, eh, Mas... kirain tadi keponakan sendiri yang lagi depresi," timpal 'Lilik Sumi'.

​Bapak segera menekan tombol remove pada nomor Satria. Tidak hanya itu, ia benar-benar menghapus kontak "Satria Sales Sparepart" agar jemari Revan tidak bisa menjangkaunya lagi.

​Satria menghela napas panjang saat melihat tulisan: Anda telah dikeluarkan dari grup ini. Ia segera mematikan ponselnya, mencabut kartu SIM-nya, dan melemparkannya ke dalam laci. Hari itu juga, ia memutuskan untuk pergi ke gerai operator seluler untuk mengganti nomor. Trauma sepuluh kali "undangan maut" itu terlalu dalam untuk disembuhkan hanya dengan kata maaf.

​Sambil melangkah keluar apartemen untuk mencari udara segar, Satria bergumam pada diri sendiri, "Mulai sekarang, nama profil saya di WhatsApp bukan Satria lagi. Mungkin 'Anonim' atau 'X'. Biar tidak ada lagi labirin salah sambung seperti ini."

​Di kejauhan, matahari sore mulai meredup, meninggalkan Satria dengan kesunyian yang amat ia rindukan—sebuah kemewahan yang sempat dirampas oleh sebuah grup bernama "Dulur Dhewe".

Tiga bulan telah berlalu sejak insiden yang menggoncang kewarasan Satria itu mereda. Apartemennya kini kembali menjadi oase yang tenang. Tidak ada lagi bunyi ting yang memicu trauma, tidak ada lagi rentetan ceramah online yang mampir ke notifikasinya. Satria yang baru telah lahir, lengkap dengan nomor ponsel baru dan kebijakan privacy yang seketat penjara high-security. Ia bahkan sengaja mengosongkan foto profilnya, membiarkan ikon abu-abu kosong itu menjadi tameng dari dunia luar.

​Sore itu, Satria sedang menikmati espresso di sebuah kafe pinggiran Jakarta. Ia membuka laptopnya, bekerja dengan tenang hingga sebuah surel masuk. Nama pengirimnya asing: haris_motopart@gmail.com.

​Dengan ragu, ia membukanya. Ternyata itu adalah pesan dari Bapak—si admin grup "Dulur Dhewe".​

"Mas Satria, ini saya, ayahnya Revan. Saya dapat email Mas dari kartu nama lama yang saya temukan di tumpukan koran. Saya cuma mau mengabari, Satria keponakan saya yang asli sudah ketemu. Ternyata dia ganti nomor karena terlilit pinjol, bukan karena benci keluarga. Sekarang dia sudah masuk grup 'Dulur Dhewe' yang asli."


​Satria tersenyum tipis, sebuah seringai ironic yang menghiasi wajahnya. Ia teringat bagaimana ia hampir kehilangan akal sehatnya hanya karena sebuah kesalahan database manusia.​

"Dan Mas... Revan titip salam. Dia sempat menangis waktu Mas saya keluarkan. Dia bilang, 'Bapak, Kakak yang suka kirim gambar hantu kok tidak main lagi?' Sekali lagi, maafkan kekacauan kami ya, Mas. Semoga Mas sehat selalu di Jakarta. Matur nuwun sudah sempat jadi 'keluarga' kami selama beberapa jam yang luar biasa itu."


​Satria menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia membayangkan Revan, bocah kecil yang menjadi mastermind di balik teror digitalnya, sedang cemberut di depan layar ponsel bapaknya. Ada rasa geli yang aneh menyelinap di hatinya, menggantikan sisa-sisa amarah yang dulu membara.

​"Dasar bocah," gumam Satria pelan.

​Tiba-tiba, seorang pria sebayanya duduk di meja sebelah. Pria itu tampak frustrasi, memandangi layar ponselnya yang terus bergetar hebat. Satria bisa mendengar suara notifikasi yang sangat ia kenal—bunyi default aplikasi pesan hijau itu.

​"Sialan! Ini grup apa lagi? 'Keluarga Besar Bani Sudiro'? Siapa mereka?!" pria itu memaki pelan, jarinya bergerak cepat menekan tombol exit.

​Satria membeku. Ia melihat pria itu keluar dari grup, namun sedetik kemudian, ponsel pria itu bergetar lagi.

​"Lagi?! Saya sudah keluar lima kali!" teriak pria itu hampir histeris.

​Satria mematikan laptopnya dengan gerakan lambat. Ia menghampiri pria asing tersebut, menepuk bahunya dengan empati yang mendalam, lalu berbisik pelan, "Saran saya, Mas... matikan ponselnya, cabut kartunya, dan lari sekarang juga sebelum mereka mengirimkan stiker 'Sugeng Enjang'."

​Pria itu menatap Satria dengan tatapan bingung, namun Satria hanya memberikan senyum penuh rahasia—senyum seorang penyintas yang berhasil keluar dari labirin salah sambung.

​Dunia digital memang luas, namun bagi mereka yang terjebak dalam algoritma "salah nama", dunia itu hanyalah sebuah ruangan sempit penuh sanak saudara yang tak pernah mereka miliki. Satria melangkah keluar kafe dengan perasaan ringan. Di saku celananya, ponsel barunya sunyi senyap. Itulah melodi terindah yang pernah ia dengar.

Kisah Satria dan labirin digitalnya bukanlah sekadar anomali teknologi, melainkan sebuah refleksi tajam tentang bagaimana batasan privasi sering kali lumat di bawah kaki sentimen kekeluargaan yang berlebihan. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di era hyper-connectivity saat ini, sebuah jempol yang ceroboh atau ketidaktahuan kolektif bisa berubah menjadi bentuk digital harassment yang nyata bagi orang lain.

​Ada amanat tersirat yang tertinggal di antara retakan layar ponsel Satria. Pertama, mengenai pentingnya literasi digital dan etika dalam berkomunikasi. Menambahkan seseorang ke dalam grup tanpa izin (consent) adalah bentuk pelanggaran ruang personal. Kita sering kali berlindung di balik kata "silaturahmi" untuk membenarkan pemaksaan kehendak, tanpa sadar bahwa bagi orang lain, hal tersebut bisa menjadi sebuah distraction yang destruktif terhadap kesehatan mental mereka.

​Kedua, kisah ini menegur kecenderungan kita untuk melakukan gaslighting terhadap reaksi orang lain. Ketika Satria marah, anggota grup justru menghakiminya dengan standar moral dan pseudo-wisdom (kebijaksanaan semu), tanpa mau memvalidasi fakta bahwa mereka memang salah sasaran. Kesalahan teknis yang dibalut dengan keras kepala sering kali menciptakan situasi deadlock yang melelahkan.

​Terakhir, faktor manusiawi seperti presbyopia pada orang tua atau kepolosan seorang anak adalah variabel yang tak terelakkan. Namun, di dunia yang serba otomatis ini, verifikasi manual tetaplah menjadi kunci. Sebelum menekan tombol add, pastikan kita tidak sedang menyeret orang asing ke dalam ruang tamu pribadi kita.

​Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa setiap nomor ponsel adalah representasi dari manusia yang memiliki kesibukan, masalah, dan batas kesabaran. Jangan sampai atas nama seduluran atau persaudaraan, kita justru menjadi monster yang menciptakan teror di saku celana orang lain. Biarlah ruang digital menjadi jembatan yang menghubungkan, bukan labirin claustrophobic yang membuat penghuninya ingin segera melarikan diri ke dalam sunyi.


Posting Komentar

0 Komentar