Cerpen ini mengisahkan tentang Bondan, seorang pria keras kepala yang terjebak dalam obsesi untuk memperbaiki sendiri kerusakan pipa di rumahnya demi membuktikan efisiensi dan kendali dirinya. Namun, sebuah kecelakaan mekanis di bawah kolong wastafel—dipicu oleh tumpahan air yang slippery dan tekanan torque yang berlebihan—justru melemparnya melintasi sebuah quantum leap menuju masa depan yang asing.
Di masa depan yang steril dan penuh teknologi itu, Bondan berhadapan dengan dirinya versi tua yang hidup dalam penyesalan dan kesepian akibat sebuah time anomaly. Melalui pertemuan paradoksal tersebut, Bondan menyadari bahwa ambisi untuk mengendalikan segala hal secara mandiri dapat menciptakan mechanical failure pada garis hidupnya. Cerita ini bukan sekadar tentang perjalanan lintas waktu, melainkan sebuah refleksi mendalam mengenai kerendahan hati untuk menerima keterbatasan diri dan keberanian untuk melepaskan kendali demi menjaga momen yang paling berharga di masa kini.
Sore itu, dapur rumah Bondan bukan lagi tempat untuk menyeduh kopi, melainkan sebuah medan perang yang lembap. Aroma logam berkarat bercampur dengan bau sisa cucian piring yang mengendap, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Bondan, pria berusia dua puluh delapan tahun dengan kaus oblong yang sudah basah kuyup oleh peluh, sedang bergelut di bawah kolong wastafel yang sempit.
"Sialan, seal tape ini tidak mau menempel sama sekali!" gerutu Bondan sembari menyeka dahi dengan punggung tangannya yang kotor.
Istrinya, Maya, berdiri di ambang pintu dapur sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap skeptis pada tumpukan kunci inggris dan potongan pipa PVC yang berserakan di lantai keramik.
"Mas, sudah kubilang panggil tukang ledeng saja. Itu pipa drainase-nya sepertinya sudah corroded, bukan cuma bocor halus," ujar Maya dengan nada cemas.
Bondan mendengus, mencoba memutar kunci inggrisnya pada sebuah fitting kuningan yang keras kepala. "Hanya masalah sepele, May. Aku tidak mau membayar ratusan ribu cuma untuk memutar baut. Ini cuma soal torque yang tepat dan sedikit kesabaran."
"Tapi airnya sudah merembes ke mana-mana, Mas. Lantainya jadi slippery begitu," Maya mengingatkan, menunjuk pada genangan air sabun yang mulai meluas ke arah kaki Bondan.
"Tenang saja, sebentar lagi beres. Under control," sahut Bondan pendek, mengabaikan peringatan istrinya. Maya akhirnya menyerah dan berlalu menuju ruang tengah, meninggalkan Bondan yang semakin tenggelam dalam obsesi mekanisnya.
Bondan menarik napas panjang, mencoba memposisikan tubuhnya lebih masuk ke dalam kolong lemari dapur yang pengap. Ia menggenggam erat sebuah pipe wrench besar, bersiap memberikan tekanan maksimal pada sambungan pipa utama. Cahaya lampu senter yang diletakkannya di lantai menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding, seolah-olah dapur itu sedang mengamati perjuangannya.
"Ayo, berputar sedikit lagi saja..." bisiknya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, saat ia mengerahkan seluruh tenaga untuk melakukan final tightening, tangannya yang licin karena minyak dan air kehilangan cengkeraman. Kunci inggris itu tergelincir hebat. Pada saat yang bersamaan, tumit Bondan yang menumpu pada lantai keramik yang tergenang air sabun kehilangan traksi.
Tubuh Bondan terhentak ke belakang dengan kecepatan yang tidak wajar. Kepalanya nyaris menghantam sudut tajam lemari, namun sebelum itu terjadi, ia merasakan sebuah sensasi vacuum yang menyedot udara dari paru-parunya. Suara gemericik air tiba-tiba berubah menjadi dengung statis yang memekakkan telinga, seolah-olah frekuensi dunianya sedang di-tuning ulang secara paksa.
Pandangannya mengabur, warna-warna di dapur itu meleleh menjadi garis-garis cahaya putih yang melengkung. Bondan merasa dirinya tidak lagi terjatuh ke lantai, melainkan terlempar melintasi sebuah lorong hampa yang dingin dan gelap.
Bondan mendarat dengan dentum keras, namun sensasi dingin lantai keramik yang ia harapkan berganti menjadi tekstur permukaan sintetis yang hangat dan halus. Ia terbatuk, paru-parunya seolah dipaksa beradaptasi dengan oksigen yang terasa terlalu murni, hampir seperti hasil filtrasi laboratorium.
Saat ia membuka mata, dapur yang tadinya berantakan telah berubah total. Tidak ada lagi pipa PVC yang pecah atau aroma sisa cucian piring. Ruangan itu kini didominasi oleh panel-panel metalik minimalis dengan pencahayaan ambient yang keluar dari celah dinding. Di sudut ruangan, sebuah perangkat holographic display menampilkan grafik fluktuasi energi yang tidak ia pahami.
"Sudah kuduga kau akan muncul di koordinat ini. Kau selalu keras kepala soal baut itu," sebuah suara parau memecah kesunyian.
Bondan tersentak, mencoba berdiri meski lututnya masih trembling. Di hadapannya, duduk seorang pria tua di atas kursi ergonomis yang melayang rendah. Pria itu mengenakan jumpsuit abu-abu dengan material smart fabric. Meski rambutnya telah memutih sepenuhnya dan wajahnya dihiasi kerutan dalam, Bondan mengenali sorot mata itu. Itu adalah matanya sendiri.
"Siapa... kau?" bisik Bondan, suaranya tercekat.
Pria tua itu tersenyum tipis, sebuah senyum penuh nostalgia sekaligus keletihan. "Aku adalah kau, tiga puluh tahun setelah insiden leakage konyol itu. Selamat datang di masa depan yang kau ciptakan dari sebuah kecerobohan mechanical failure."
Bondan mundur selangkah, menabrak meja dapur yang permukaannya terasa seperti kristal cair. "Ini tidak mungkin. Aku tadi di rumah... Maya menungguku di ruang tengah!"
"Maya sudah lama pergi, Bondan muda," sahut Bondan Tua dengan nada datar namun getir. "Gegaran otak yang kau alami saat terlempar ke wormhole domestik ini bukan cuma memindahkan fisikmu, tapi menciptakan time anomaly yang merusak garis hidup kita. Di waktumu, kau dianggap hilang secara misterius di bawah kolong wastafel."
"Aku harus kembali! Aku harus memperbaiki pipa itu dan meminta maaf padanya karena tidak memanggil plumber!" teriak Bondan panik. Ia mulai meraba-raba dinding, mencari celah atau pintu, namun semuanya tampak seamless tanpa pegangan.
Bondan Tua bangkit berdiri dengan perlahan, sendi-sendinya mengeluarkan bunyi klik halus—mungkin hasil dari cybernetic implant. "Kau tidak mengerti. Kau terjatuh karena torque yang berlebihan pada realitas. Pipa itu bukan sekadar saluran air, itu adalah titik convergence energi yang tidak sengaja kau picu karena posisi tubuh dan frekuensi getaran kunci inggrismu tepat pada saat quantum leap terjadi."
"Jangan bicara omong kosong pseudo-science padaku!" sergah Bondan muda, emosinya memuncak. "Aku hanya ingin pulang!"
"Pulang ke mana? Ke dapur yang banjir itu?" Bondan Tua berjalan mendekat, menatap versi mudanya dengan intensitas yang mengerikan. "Dengarkan aku, kau berada di sini karena sebuah glitch. Jika kau kembali sekarang tanpa memahami cara menutup celahnya, kau hanya akan terjebak dalam infinite loop. Kau akan terus terjatuh, terus terlempar, dan melihat Maya menua dalam hitungan detik setiap kali kau berkedip."
Bondan muda terduduk lemas di lantai. "Jadi, apa yang harus kulakukan?"
Bondan Tua mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk cakram logam dari sakunya. "Ini adalah stabilizer. Kau harus kembali ke momen tepat sebelum kau terpeleset. Kau tidak boleh melawan tekanan kunci inggris itu. Kau harus membiarkannya lepas, tapi dengan angle yang berbeda agar kau tidak menghantam titik singularity di lantai itu."
"Kenapa kau membantuku? Bukankah ini akan menghapus keberadaanmu di sini?" tanya Bondan ragu.
Pria tua itu menatap ke jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota dengan mobil-mobil terbang yang melintas di antara gedung pencakar langit. "Hidup di masa depan ini sangat sepi, Bondan. Aku menghabiskan tiga puluh tahun mempelajari quantum mechanics hanya untuk memperbaiki satu kesalahan di hari Sabtu sore yang lembap itu. Pergilah. Berikan Maya kehidupan yang seharusnya ia miliki."
Tepat saat Bondan muda menyentuh cakram logam itu, ruangan mulai bergetar hebat. Alarm low-frequency berdengung di seluruh ruangan, menandakan bahwa garis waktu sedang berusaha menolak kehadiran ganda mereka di satu titik yang sama.
Lantai laboratorium futuristik itu mulai bergelombang seperti permukaan air yang terganggu. Bondan merasakan gravitasi di sekitarnya menjadi tidak stabil; tubuhnya terasa berat sekaligus seringan kapas secara bergantian. Cahaya dari holographic display di sudut ruangan mulai berkedip liar, memancarkan spektrum warna ungu dan jingga yang menyakitkan mata.
"Waktumu habis! Temporal instability sudah mencapai level kritis!" teriak Bondan Tua di tengah deru angin yang entah datang dari mana. Ia mencengkeram bahu versi mudanya dengan tangan yang terasa keras seperti baja—sebuah prosthetic limb yang baru Bondan sadari keberadaannya.
"Bagaimana cara mengaktifkannya?" Bondan muda berteriak, suaranya nyaris tenggelam oleh suara retakan realitas yang terdengar seperti kaca pecah. Tangannya gemetar hebat saat menggenggam stabilizer logam pemberian dirinya di masa depan.
"Kau harus menempelkannya pada pipe wrench yang kau pegang saat terjatuh! Alat ini akan memanipulasi kinetic energy saat kau tergelincir, mengubah lintasan jatuhmu agar tidak menabrak singularity di lantai itu!" Bondan Tua mendorongnya menuju pusaran cahaya yang mulai terbuka di tengah ruangan, sebuah lubang hitam domestik yang tampak seperti air keruh yang berputar.
Bondan muda ragu sejenak. Ia menatap wajah keriput pria di hadapannya. "Jika aku berhasil... apa yang akan terjadi padamu? Ruangan ini, semua teknologi ini... kau akan hilang?"
Bondan Tua tersenyum pahit, sebuah ekspresi self-sacrifice yang tulus. "Aku adalah kemungkinan yang gagal, Bondan. Jangan biarkan dirimu menjadi aku. Fokus pada angle jatuhnya! Ingat, jangan melawan torque-nya, ikuti saja alirannya!"
Tepat saat itu, sebuah ledakan shockwave transparan menghempaskan Bondan muda masuk ke dalam lubang cahaya.
Sensasi vacuum itu kembali menyedot paru-parunya. Namun kali ini, ia tidak pasif. Di tengah kekacauan dimensi, ia melihat bayangan dirinya sendiri yang sedang memegang kunci inggris di bawah kolong wastafel. Ia melihat Maya yang sedang berjalan menjauh di ruang tengah. Waktu seolah melambat, bergerak frame by frame.
Bondan mendarat secara metafisik tepat di dalam tubuhnya sendiri di masa lalu. Detik itu juga, tumitnya kehilangan traksi di lantai yang slippery.
"Sekarang!" batinnya berteriak.
Sambil terjatuh, dengan sisa kesadaran dari masa depan, Bondan tidak berusaha menahan tubuhnya. Ia menempelkan stabilizer yang kini tak kasat mata ke gagang kunci inggrisnya. Ia membiarkan tubuhnya terpelanting ke arah kiri, menghindari titik tengah genangan air yang tadi menjadi gerbang wormhole.
BRAKK!
Bahu Bondan menghantam kaki lemari dapur dengan keras. Rasa sakit yang tajam dan nyata menjalar di sekujur lengannya—rasa sakit yang sangat ia syukuri karena itu berarti ia masih berada di buminya sendiri. Bau logam karat dan air sabun kembali menyeruak, menggantikan aroma oksigen laboratorium yang steril.
"Mas? Mas Bondan?!" suara Maya terdengar panik dari ruang tengah, diikuti langkah kaki yang berlari cepat di atas parket.
Bondan terengah-engah di atas lantai yang basah. Ia melihat ke arah tangannya. Kunci inggrisnya tergeletak di sampingnya, namun cakram logam dari masa depan itu telah lenyap, melebur dengan realitas. Pipa drainase itu masih bocor, menyemprotkan air tipis yang mengenai wajahnya.
Maya muncul di ambang pintu, wajahnya pucat pasi. "Ya Tuhan, Mas! Kamu tidak apa-apa? Tadi ada suara dentuman keras sekali, seperti ledakan gas!"
Bondan bangkit perlahan, meraba kepalanya yang berdenyut. Ia menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara rindu yang dalam dan ketakutan yang baru saja lewat. Ia segera memeluk Maya, mengabaikan bajunya yang basah kuyup dan kotor.
"Aku tidak apa-apa, May. Aku baik-baik saja," bisik Bondan, suaranya serak.
Maya melepaskan pelukan, menatap suaminya heran. "Kenapa kamu sampai gemetar begitu? Cuma terpeleset, kan?"
Bondan menoleh ke arah kolong wastafel yang gelap. Di sana, di antara genangan air, ia seolah melihat bayangan samar seorang pria tua yang tersenyum tipis sebelum akhirnya memudar ditelan cahaya lampu senter. Bondan menarik napas panjang, melepaskan keterikatannya pada ego mekanis yang nyaris menghancurkan hidupnya.
"Kamu benar, May. Panggil tukang ledengnya sekarang," ujar Bondan pelan. "Beberapa hal di dunia ini memang tidak seharusnya kita paksa untuk diperbaiki sendiri. Terutama jika taruhannya adalah waktu."
Bondan terduduk diam di lantai dapur, membiarkan dinginnya ubin meresap ke dalam kulitnya. Maya masih berdiri di sana, menatapnya dengan saksama, bingung melihat perubahan sikap suaminya yang biasanya keras kepala kini mendadak menjadi begitu pasrah dan rapuh. Bondan mengusap wajahnya yang basah, bukan hanya oleh air sisa bocoran, tetapi juga oleh keringat dingin yang muncul akibat adrenaline rush dari perjalanan lintas dimensi yang baru saja ia alami.
"Mas, kamu benar-benar yakin? Biasanya kamu akan berargumen sampai pagi soal cost-efficiency kalau aku minta panggil teknisi," tanya Maya ragu sembari berjongkok di sampingnya.
Bondan menoleh, menatap wajah istrinya dengan intensitas yang membuat Maya sedikit tersipu. Ia teringat kata-kata Bondan Tua; tentang bagaimana Maya hilang dari garis hidupnya dan bagaimana kesepian menjadi satu-satunya teman di masa depan yang serba otomatis itu.
"Aku yakin, May. Sangat yakin," jawab Bondan dengan suara yang lebih stabil. "Aku baru saja menyadari bahwa mechanical failure pada pipa ini tidak sebanding dengan risiko kehilangan momen bersamamu. Aku hampir saja... melakukan kesalahan fatal."
Maya mengerutkan kening, mencoba mencerna kalimat suaminya yang terdengar puitis sekaligus janggal. "Kesalahan fatal? Maksudmu karena terpeleset tadi?"
Bondan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membawa kedewasaan yang melampaui usianya yang dua puluh delapan tahun. "Lebih dari itu. Aku terlalu terobsesi pada torque dan kendali, sampai lupa bahwa ada hal-hal yang bergerak di luar kendali kita. Aku tidak ingin menghabiskan tiga puluh tahun ke depan hanya untuk menyesali sore ini."
Ia berdiri perlahan, merasakan sendi-sendinya yang masih utuh—tanpa cybernetic implant atau logam dingin yang menggantikan daging. Ia merasa sangat beruntung. Bondan kemudian mengambil ponselnya di atas meja makan dan dengan cepat mencari kontak professional plumber yang pernah direkomendasikan tetangganya.
"Halo, Pak? Bisa ke rumah saya sekarang? Ada kebocoran pipa drainase yang cukup parah. Iya, saya tidak akan menyentuhnya lagi. Saya tunggu," ucap Bondan tegas.
Setelah menutup telepon, ia menuntun Maya keluar dari dapur yang masih tergenang itu. Sebelum benar-benar melangkah keluar, Bondan melirik sekali lagi ke bawah kolong wastafel. Tidak ada lagi time anomaly atau wormhole domestik. Yang ada hanyalah sebuah dapur tua yang butuh perbaikan.
"May, malam ini kita makan di luar saja ya? Aku yang traktir. Kita rayakan... keberadaanku di sini," ajak Bondan sembari merangkul bahu istrinya.
Maya tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Bondan yang masih lembap. "Kamu aneh sekali hari ini, Mas. Tapi aku suka versi kamu yang ini. Tidak terlalu stubborn."
Sore itu, Bondan belajar bahwa hidup bukanlah tentang seberapa kuat kita mencengkeram kunci inggris untuk mengatur takdir, melainkan tentang bagaimana kita berani melepaskan tekanan sebelum semuanya hancur berantakan. Ia telah menutup celah waktu itu dengan sebuah penerimaan, memastikan bahwa Bondan Tua yang kesepian di masa depan hanyalah sebuah alternate reality yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Tiga hari setelah insiden itu, dapur rumah Bondan telah kembali ke fungsinya yang semula. Lantainya kini kering dan mengilap, tanpa ada lagi genangan air sabun yang berbahaya. Sebuah pipa drainase baru berwarna putih bersih terpasang dengan rapi di bawah wastafel—hasil pekerjaan seorang teknisi profesional yang hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk menyelesaikannya. Namun bagi Bondan, sisa-sisa peristiwa itu masih terasa seperti phantom pain yang berdenyut di benaknya.
Malam itu, saat Maya sudah terlelap, Bondan kembali ke dapur. Ia membawa sebuah lampu senter kecil, berjongkok perlahan di depan lemari bawah wastafel. Ia tidak lagi memegang pipe wrench atau alat perkakas apa pun. Ia hanya ingin memastikan satu hal.
"Kau masih di sana?" bisiknya sangat pelan ke arah kegelapan kolong kabinet.
Tentu saja, tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah aroma samar dari sabun pembersih lantai yang baru digunakan Maya. Bondan mengarahkan cahaya senternya ke sudut di mana ia sebelumnya melihat titik singularity itu muncul. Di sana, pada ubin keramik yang paling pojok, terdapat sebuah goresan tipis melingkar yang tidak bisa hilang meski sudah digosok berkali-kali. Itu adalah jejak torque kinetik yang luar biasa, bukti fisik bahwa perjalanannya ke masa depan bukan sekadar hallucination akibat benturan di kepala.
"Mas Bondan? Belum tidur?"
Bondan tersentak. Maya berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan daster tidurnya sambil mengucek mata. "Kenapa berjongkok di sana lagi? Jangan bilang kamu mau membongkar pipanya lagi."
Bondan segera berdiri, mencoba bersikap sealami mungkin. "Tidak, May. Sama sekali tidak. Aku hanya... memastikan tidak ada rembesan lagi. Quality control," candanya sambil tersenyum tawar.
Maya mendekat, lalu memeluk pinggang suaminya. "Lupakan soal pipa itu. Tukangnya bilang garansinya satu tahun. Lagipula, kamu terlihat berbeda sejak hari itu. Lebih tenang, tapi kadang seperti sedang melamun jauh sekali. Apa ada yang kau sembunyikan?"
Bondan mencium kening istrinya, merasakan kehangatan nyata yang hampir saja ia hilangkan dalam sebuah infinite loop yang menyakitkan. "Hanya berpikir betapa beruntungnya aku tidak menghantam sudut lemari itu dengan lebih keras. Mungkin aku bisa lupa ingatan dan lupa kalau aku punya istri secantik kamu."
"Gombal," sahut Maya pelan, namun ia mengeratkan pelukannya. "Ayo tidur. Besok kita ada janji ke rumah Ibu."
Saat mereka berjalan meninggalkan dapur dan mematikan lampu, Bondan sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di kegelapan itu, ia membayangkan sebuah alternate reality di mana seorang pria tua dengan tangan prosthetic sedang duduk sendirian di ruangan metalik yang dingin, menatap jendela futuristik dengan rasa sesal.
Bondan kini mengerti. Masa depan bukanlah sesuatu yang harus ia kejar dengan obsesi mekanis, melainkan sesuatu yang ia bangun dengan kelembutan di masa sekarang. Ia telah menghapus eksistensi Bondan Tua yang malang itu dengan cara memilih untuk menjadi pria yang lebih bijaksana.
Di atas meja dapur, sebuah jurnal kecil milik Bondan terbuka pada halaman kosong. Di sana, ia hanya menuliskan satu kalimat singkat untuk pengingat dirinya sendiri di masa depan:
"The greatest mechanical fix is knowing when to let go of the wrench."
Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar lebih bermakna sekarang. Setiap detiknya bukan lagi sekadar angka yang berlalu, melainkan sebuah anugerah yang ia jaga agar tidak lagi bocor melalui celah-celah ego yang retak. Kebocoran di celah waktu itu telah tertutup sepenuhnya, disegel oleh keputusan sederhana untuk memanggil bantuan dan mencintai apa yang ia miliki saat ini.
Kisah Bondan bukan sekadar tentang pipa yang pecah atau keajaiban quantum leap yang melemparnya ke masa depan. Di balik deru temporal instability yang nyaris merenggut nyawanya, terselip sebuah refleksi tajam mengenai hakikat kendali dalam hidup manusia. Sering kali, kita bertindak seperti Bondan muda; merasa memiliki otoritas penuh atas setiap baut dan mur kehidupan, terjebak dalam ego yang menganggap bahwa meminta bantuan adalah tanda dari sebuah failure. Kita memaksakan torque yang berlebihan pada keadaan, tanpa menyadari bahwa semakin keras kita mencengkeram, semakin besar risiko kita menciptakan glitch yang merusak struktur kebahagiaan yang telah kita bangun.
Amanat yang tertinggal di balik goresan permanen pada ubin dapur itu adalah sebuah pengingat bahwa hidup tidak selalu membutuhkan mechanical solution yang rumit. Terkadang, keberanian sejati justru terletak pada kemampuan untuk mengakui keterbatasan diri. Memaksakan kehendak pada sesuatu yang di luar kapasitas kita—seperti halnya pipa yang corroded atau takdir yang sudah retak—hanya akan membawa kita pada infinite loop penyesalan. Kebijaksanaan bukan ditemukan saat kita berhasil memperbaiki segala hal sendirian, melainkan saat kita mampu melakukan assessment yang jujur: kapan harus berjuang, dan kapan harus melepaskan wrench di tangan untuk memberikan ruang bagi bantuan orang lain.
Masa depan bukanlah sebuah predetermined destiny yang kaku dan dingin seperti laboratorium logam, melainkan sebuah kanvas yang warnanya ditentukan oleh keputusan-keputusan kecil kita di masa sekarang. Bondan berhasil menyelamatkan dunianya bukan dengan rumus fisika, melainkan dengan sebuah acceptance. Ia belajar bahwa untuk menutup leakage atau kebocoran dalam hidup, kita tidak butuh seal tape yang paling kuat, melainkan kerendahan hati untuk tidak membiarkan kesombongan mengalir bebas. Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari celah waktu tersebut adalah: jangan pernah mengorbankan momen present yang berharga hanya demi memenangkan pertarungan melawan ego yang tak kasat mata. Karena begitu waktu itu bocor dan terbuang, tidak ada stabilizer tercanggih pun yang mampu memutarnya kembali secara utuh.

1 Komentar
Ada banyak istilah yang tidak saya mengerti dan tidak dijelaskan dalam cerpen. Saya tidak mengerti tentang istilah itu. Dan dalam hal itu ada dua kemungkinan. Penulis ingin pamer tentang kecerdasannya atau dia hanya ingin saya belajar dengan membuka pintu kamus jika ingin mengetahui arti dari istilah itu
BalasHapus