Kategori Cerpen

Gema Tahlil dan Gemerincing Piring: Ujian Kesabaran sang Ladèn

 


Cerpen ini mengisahkan dinamika sosial dan ujian kedewasaan seorang pemuda desa bernama Danang di tengah sakralnya tradisi kenduren (selamatan) di rumah Pak Haji Mansur. Sebagai seorang ladèn (petugas penyaji hidangan), Danang memikul tanggung jawab untuk melayani para tamu yang sedang melantunkan doa ba’da Isya’. Namun, tugas fisik yang berat tersebut tidak sebanding dengan beban batin yang harus ia tanggung akibat suara cempreng (melengking) bawaan lahirnya yang kerap menjadi bahan gegojekan (candaan) warga. Puncak konflik terjadi saat Pak Salam, seorang sesepuh desa, dengan sengaja menirukan suara Danang untuk mengejeknya di hadapan jamaah. Merasa harga dirinya diinjak, Danang secara spontan melakukan tindakan fisik dengan menabok paha Pak Salam sebagai bentuk protes atas perlakuan yang tidak menyenangkan tersebut.

​Ketegangan yang sempat memecah kekhusyukan suasana tahlil ini berkembang menjadi ujian tata krama dan kesabaran bagi kedua belah pihak. Melalui narasi yang kental dengan nuansa pedesaan dan istilah-istilah Jawa, pembaca diajak menyelami konflik batin antara menjaga kehormatan diri dan mempertahankan etika terhadap orang tua. Cerita ini tidak hanya menyoroti insiden fisik yang terjadi di atas karpet merah, tetapi juga proses rekonsiliasi yang menyentuh saat sebuah kesalahpahaman terungkap sebagai bentuk kerinduan yang salah sasaran. Pada akhirnya, kisah ini menjadi refleksi mendalam mengenai pentingnya tepo seliro (tenggang rasa) dan bagaimana sebuah kekurangan fisik justru bertransformasi menjadi simbol keberanian dan kerendahan hati dalam bingkai paseduluran (persaudaraan) yang sejati.

Suasana malam di teras rumah Pak Haji Mansur tampak begitu khidmat. Cahaya lampu neon yang sedikit temaram memantul pada deretan kemeja batik dan koko putih yang rapi dikenakan para tamu. Ba’da Isya’ adalah waktu sakral di desa ini untuk berkumpul, melantunkan doa bagi leluhur dalam sebuah tradisi kenduren yang guyub. Aroma wangi kemenyan tipis bercampur dengan uap nasi hangat mulai menyeruak ke udara, menandakan acara inti akan segera mencapai puncaknya.

​Di sudut dapur, sekumpulan pemuda desa yang bertugas sebagai ladèn—petugas penyaji hidangan—tampak sibuk luar biasa. Salah satunya adalah Danang. Dengan peci hitam yang sedikit miring karena keringat, ia berusaha menjaga keseimbangan sebuah nampan kayu besar berisi tumpukan piring lauk.

​“Ayo, Nang! Ndang disuntak metu, bapak-bapak wis rampung tahlile,” (Ayo, Nang! Segera dikeluarkan, bapak-bapak sudah selesai tahlilnya) bisik salah satu teman pemuda sambil menepuk pundaknya.

​Danang mengangguk mantap. Sebagai ladèn, ia harus memiliki ketangkasan ekstra agar piring-piring itu mendarat dengan mulus di depan para tamu yang duduk bersila dalam formasi melingkar. Ia mulai melangkah masuk ke ruang tamu, melewati sela-sela lutut para sesepuh dengan penuh sopan santun.

​“Nyuwun sewu, Mbah... Monggo, Pak...” (Permisi, Mbah... Silakan, Pak...) ucap Danang dengan suara yang—sayangnya—terdengar sangat melengking dan pecah, khas suara cempreng yang sudah menjadi jati dirinya sejak kecil.

​Beberapa tamu hanya mengangguk pelan, namun ada juga yang saling lirik sambil menahan senyum. Di pojok ruangan, duduklah Pak Salam, seorang pria paruh baya yang memang dikenal gemar berkelakar, namun kali ini candaannya terasa sedikit lebih tajam.

​Saat Danang berjongkok di depan Pak Salam untuk menurunkan piring berisi urap-urap dan ayam goreng, suasana yang tadinya hening mendadak terusik. Pak Salam mencondongkan badannya, menatap Danang dengan tatapan jahil yang dibuat-buat.

​“Iki piringe didekek kene ta, Le?” (Ini piringnya ditaruh sini ya, Nak?) tanya Pak Salam.

​Namun, Pak Salam tidak bertanya dengan suara aslinya. Ia mengecilkan suaranya, memalsukannya menjadi nada yang sangat tinggi dan melengking, persis menirukan suara cempreng milik Danang yang baru saja terdengar.

​Beberapa orang di sebelah Pak Salam mulai terkekeh tertahan. Wajah Danang yang semula kemerahan karena hawa panas dapur, kini berubah menjadi merah padam karena menahan malu sekaligus kesal. Tangannya yang tengah memegang pinggiran nampan tampak sedikit bergetar.

​Merasa harga dirinya diinjak di depan umum, Danang tidak tahan lagi. Sambil menurunkan piring terakhir dengan gerakan yang agak cepat, ia spontan mengayunkan telapak tangannya ke arah paha Pak Salam yang sedang bersila.

Plakk!

​Sabetan tangan itu memang tidak keras, lebih seperti teguran fisik, namun suaranya cukup terdengar di tengah jeda doa.

​“Ojo ngece aku ta, Pak!” (Jangan mengejek aku dong, Pak!) seru Danang, masih dengan suara cempreng-nya yang kini bergetar karena emosi yang meluap.

​Seketika, beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka berdua. Suasana kenduren yang tadinya tenang, mendadak berubah menjadi tegang sekaligus canggung.

Suara plakk yang mendarat di paha Pak Salam seolah-olah menghentikan detak jam dinding di ruang tamu Pak Haji Mansur. Keheningan yang tercipta terasa sangat pekat, hanya menyisakan suara gemerincing piring yang beradu di atas nampan kayu Danang. Pak Salam terperanjat, matanya membelalak tak percaya bahwa seorang pemuda ladèn berani melakukan kontak fisik di tengah acara kirim donga yang sakral ini.

​"Loh, bocah iki... kok malah nabok?" gumam Pak Salam sambil mengusap pahanya, wajahnya yang tadi penuh seringai kini tampak kaget sekaligus tersinggung.

​Danang masih mematung dalam posisi jongkok, dadanya kembang kempis. Ia sadar tindakannya mungkin dianggap kurang tata krama, tapi rasa panas di telinganya akibat ejekan itu jauh lebih membara.

​"Ya habisnya Sampeyan, Pak. Orang lagi kerja serius malah diejek begitu. Suara saya ini pemberian Gusti Allah," protes Danang lagi, kali ini volume suaranya sedikit mengecil namun tetap dengan nada cempreng yang tajam, membuat beberapa tamu di barisan belakang berbisik-bisik.

​Pak Haji Mansur yang duduk di barisan depan dekat pimpinan tahlil mulai menoleh. Suasana guyub yang tadinya cair kini berubah menjadi akward atau canggung. Teman-teman sesama ladèn di ambang pintu dapur hanya bisa saling pandang dengan wajah pucat, tak berani melerai.

​"Wis, wis... Nang, lanjutno kerjamu. Pak Salam, ampun dipancing terus bocahe," lerai Pak RT yang duduk tak jauh dari situ, mencoba menengahi situasi sebelum api emosi semakin membesar.

​Namun, Pak Salam yang merasa "jatuh pasarannya" di depan para sesepuh tidak mau kalah begitu saja. Ia memperbaiki posisi duduk bersilanya sambil tetap memasang wajah masam. "Aku lho cuma bercanda, Nang. Wong di sela-sela ibadah kok ya kaku banget kayak kanebo kering. Lha kok malah tanganmu main sabet paha orang tua."

​"Bercanda ya bercanda, Pak. Tapi kalau niatnya ngece di depan orang banyak, ya siapa yang nggak sakit hati?" balas Danang sambil menyusun piring-piring kosong dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari biasanya. Pyar! Salah satu piring beradu terlalu keras dengan lantai ubin, menimbulkan bunyi nyaring yang membuat Pak Haji Mansur berdehem keras sebagai isyarat peringatan.

​Keringat dingin mulai bercucuran di balik peci Danang. Di satu sisi, ia merasa benar telah membela harga dirinya. Namun di sisi lain, bayang-bayang label "pemuda tidak sopan" mulai menghantui benaknya. Ia bisa melihat mata para orang tua di ruangan itu menatapnya dengan tatapan menghakimi. Sementara itu, Pak Salam terus menggumamkan kata-kata tentang "anak muda zaman sekarang yang nggak bisa diajak bercanda," yang semakin memicu adrenalin Danang untuk meledak lagi.

​Konflik batin ini membuat tangan Danang gemetar saat harus menuangkan air cuci tangan dari kendhi ke mangkuk plastik di depan Pak Salam. Air itu sedikit memuncrat mengenai kain sarung Pak Salam, yang langsung disambut dengan geraman kecil. Situasi di atas karpet merah itu benar-benar menjadi ujian kesabaran yang lebih berat daripada beban nampan kayu yang ia panggul tadi.

Ketegangan di ruang tamu Pak Haji Mansur mencapai titik didihnya. Cipratan air kendhi yang mengenai sarung Pak Salam seolah menjadi sumbu pendek yang memicu ledakan baru. Pak Salam, yang merasa martabatnya sebagai orang tua "dilangkahi" oleh seorang pemuda ladèn, tidak lagi menunjukkan wajah jahil, melainkan raut muka yang memerah karena dongkol.

​“Lhadalah! Iki dudu saderma suara cempreng maneh, tapi pancen tanganmu sing kurang ajar, Nang!” bentak Pak Salam dengan nada yang tidak lagi dibuat-buat kecil, melainkan berat dan penuh penekanan. “Muncrat kabeh sarungku! Kowe iku niat dadi ladèn opo niat dadi jagoan?”

​Danang berdiri tegak, tak lagi jongkok. Nampan kayu di tangannya ia dekap di depan dada seperti sebuah perisai. “Saya niat ladèn, Pak. Tapi saya juga manusia yang punya rasa malu. Kalau Bapak mau dihormati sebagai orang tua, ya tolong hargai juga yang muda!” suara cempreng Danang melengking tinggi, memecah kesunyian malam, bahkan mengalahkan suara jangkrik di luar rumah.

​Suasana benar-benar kacau. Pimpinan tahlil bahkan sempat menghentikan sejenak gumaman doa penutupnya. Para tamu kini tak lagi berbisik, mereka terang-terangan menatap drama yang terjadi di hadapan mereka. Di titik klimaks ini, Danang merasa dunianya seakan runtuh; antara amarah yang meledak dan rasa takut yang mulai merayap karena telah berani membentak orang tua di acara yang begitu sakral.

​“Wis, wis! Mpun, cukup!” suara bariton Pak Haji Mansur akhirnya menggelegar, menengahi perseteruan itu dengan wibawa yang tak terbantahkan. Beliau bangkit sedikit dari posisi duduknya, menatap Pak Salam dan Danang bergantian.

​“Iki acara kirim donga, dudu ajang pamer gengsi. Pak Salam, sampeyan iku sepuh, kudune dadi pengayom, dudu malah dadi tukang ngenyek. Danang, kowe ya salah, tanganmu ora kena nggepuk wong tuwa, senajan mung nabok paha,” lanjut Pak Haji dengan nada bicara yang lebih tenang namun menusuk sanubari.

​Danang tertunduk dalam. Napasnya yang memburu perlahan mulai melambat. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi mendarat di kaki Pak Salam. Rasa bersalah mulai membuncah, menggeser ego yang tadi sempat merajai kepalanya. Ia sadar, di dalam tradisi kenduren, harmoni adalah segalanya. Dengan suara cempreng-nya yang kini terdengar parau dan sedikit gemetar, ia memberanikan diri menatap Pak Salam.

​“Ngapunten, Pak Salam... kulo mboten sengaja. Kulo namung sakit hati,” ucap Danang lirih, kali ini benar-benar tulus tanpa nada menantang.

​Pak Salam terdiam. Ia melihat mata Danang yang berkaca-kaca, lalu menatap sekeliling ruangan di mana mata para tetangga menatapnya dengan pandangan yang menyiratkan bahwa kelakarnya memang sudah keterlaluan. Pak Salam menghela napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot. “Iyo, Nang. Aku ya njaluk sepurane. Pancen mulutku iki sing kadang ora sekolah,” gumam Pak Salam sambil mengusap bekas cipratan air di sarungnya.

Suasana yang sempat membeku perlahan mulai mencair seiring dengan tarikan napas lega dari para tamu. Pak Haji Mansur tersenyum tipis, sebuah isyarat bahwa badai kecil di atas karpet merah itu telah usai. Beliau memberi kode kepada pimpinan tahlil untuk melanjutkan doa penutup, memastikan bahwa tujuan utama berkumpulnya mereka malam itu—yaitu mengirim doa—tidak terganggu lebih lama lagi.

​"Wis, saiki dipangan bareng-bareng berkat-e. Ben berkah, ben dadi seduluran sing luwih raket," (Sudah, sekarang dimakan bersama-sama berkatnya. Biar berkah, biar jadi persaudaraan yang lebih erat) ujar Pak Haji Mansur dengan nada kebapakan yang menenangkan.

​Danang kembali bergerak. Meski sisa-sisa rasa malu masih membekas di pipinya, ia tetap menjalankan kewajibannya. Kali ini, gerakannya jauh lebih hati-hati. Saat ia kembali melewati Pak Salam untuk membagikan gelas berisi teh hangat, Pak Salam menghentikannya dengan sentuhan ringan di lengan.

​"Nang," panggil Pak Salam. Kali ini suaranya benar-benar asli, berat dan serak khas orang tua. "Gelasmu kene siji. Aku dudu muring mergo ditabok, tapi aku eling nek suaramu iku persis suarane almarhum bapakku pas isih mudo. Aku mung kangen, tapi caraku nggojlok kowe pancen keleru." (Nang, gelasmu sini satu. Aku bukan marah karena ditabok, tapi aku ingat kalau suaramu itu persis suara almarhum bapakku saat masih muda. Aku cuma kangen, tapi caraku menggodamu memang keliru.)

​Danang tertegun. Ia tidak menyangka ada alasan emosional di balik ejekan itu. Ia meletakkan gelas teh di depan Pak Salam dengan takzim, lalu sedikit membungkukkan badan. "Nggih, Pak. Ngapunten sanget nggih, tangan kulo wau lancang. (Iya, Pak. Mohon maaf sekali ya, tangan saya tadi lancang.)"

​Malam itu, di tengah suara denting piring yang beradu dengan sendok, Danang belajar sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar teknik menjadi ladèn yang tangkas. Ia belajar bahwa harga diri memang perlu dijaga, namun kerendahan hati untuk memaafkan adalah bumbu utama dalam kehidupan bertetangga.

​Setelah semua tamu mulai menikmati hidangan, Danang kembali ke dapur. Teman-temannya menyambutnya dengan tepukan di bahu dan candaan kecil yang tidak lagi menyakitkan hati. Ia tidak lagi berusaha mengecilkan suaranya saat mengobrol. Suara cempreng-nya tetap ada, namun kini terdengar lebih mantap dan penuh percaya diri.

​Acara kenduren berakhir saat rembulan semakin tinggi. Saat para tamu berpamitan, Pak Salam menyalami Danang dengan erat, bahkan menyisipkan sebuah bungkusan rokok ke saku kemeja Danang sambil berbisik, "Suaramu iku unik, Nang. Ojo isin. Sing penting lakumu ora cempreng koyo suaramu. (Suaramu itu unik, Nang. Jangan malu. Yang penting kelakuanmu tidak cempreng seperti suaramu.)"

​Danang tertawa kecil, suara melengkingnya memecah kesunyian malam di teras Pak Haji Mansur. Ujian kesabaran sang ladèn telah lulus dengan nilai sempurna, menyisakan kehangatan yang lebih tulus daripada uap nasi hangat yang ia sajikan tadi.

Lampu neon di teras Pak Haji Mansur satu per satu mulai dipadamkan, menyisakan keremangan yang tenang setelah keriuhan kenduren mereda. Aroma sate ayam dan urap-urap yang tadi mendominasi, kini berganti dengan wangi tanah yang basah oleh embun malam. Di sudut pelataran, Danang masih sibuk menumpuk nampan kayu yang telah kosong. Peci hitamnya kini ia sampirkan di pundak, membiarkan angin malam menyapu keningnya yang masih lembap oleh keringat.

​Pak Haji Mansur keluar dari pintu jati rumahnya, menghampiri Danang yang sedang membereskan sisa gelas teh. Beliau menepuk pundak pemuda itu dengan lembut.

​“Wis, Nang. Selehno dhisik. Ngombe kene, (Sudah, Nang. Letakkan dulu. Minum sini,)” ujar Pak Haji sambil menyodorkan segelas air putih.

​Danang menerima gelas itu dengan takzim. “Matur nuwun, Pak Haji. Ngapunten, wau kulo damel mboten sekecoh wonten ngajeng, (Terima kasih, Pak Haji. Mohon maaf, tadi saya membuat tidak nyaman di depan,)” ucapnya lirih, masih dengan suara melengkingnya yang khas, namun kini terdengar jauh lebih tenang.

​Pak Haji terkekeh pelan, jenggot putihnya bergoyang mengikuti irama tawanya. “Gusti Allah iku nyiptake menungso kanthi macem-macem variasi, Nang. Ono sing suarane ngebass koyo bedhug, ono sing cempreng koyo suling. Sing dadi masalah iku dudu suarane, tapi kepiye suoro iku metu kanggo kebecikan, (Allah itu menciptakan manusia dengan berbagai variasi, Nang. Ada yang suaranya rendah seperti bedug, ada yang melengking seperti suling. Yang jadi masalah itu bukan suaranya, tapi bagaimana suara itu keluar untuk kebaikan.)”

​Di kejauhan, Danang melihat sosok Pak Salam yang berjalan pulang dengan langkah sedikit pincang—mungkin karena terlalu lama duduk bersila, atau mungkin karena efek sabetan tangan Danang tadi. Pak Salam sempat menoleh ke arah Danang dan melambaikan tangan dengan sisa rokok di jemarinya, sebuah gestur persaudaraan yang tulus tanpa ada lagi niat untuk ngenyek (mengejek).

​Danang tersenyum lebar. Ia menatap deretan piring yang telah tertata rapi di dalam bak cuci. Baginya, bunyi piring yang beradu malam ini bukan lagi suara kegaduhan yang memalukan, melainkan simfoni dari sebuah pengabdian.

​“Nang, sesuk nek ono acara tahlilan nang nggone Pak RT, kowe dadi ladèn maneh, yo? (Nang, besok kalau ada acara tahlilan di tempat Pak RT, kamu jadi pelayan lagi, ya?)” tanya Pak Haji Mansur sebelum masuk ke dalam rumah.

​Danang berdiri tegak, membusungkan dadanya dengan bangga. “Siyap, Pak Haji! Pokoke suoro cempreng niki tetep semangat! (Siap, Pak Haji! Pokoknya suara cempreng ini tetap semangat!)” jawabnya dengan suara yang paling melengking, yang kali ini disambut dengan tawa hangat oleh teman-teman pemuda lainnya dari arah dapur.

​Malam itu, Danang pulang dengan langkah ringan. Ia sadar bahwa suara pemberian Tuhan ini memang tidak bisa diubah, namun ia bisa mengubah cara dunia mendengarnya. Di bawah langit desa yang penuh bintang, gema tahlil dan gemerincing piring tadi tidak hanya meninggalkan bekas di telinga, tapi juga mengukir kedewasaan di dalam jiwanya. Ujian kesabaran sang ladèn telah usai, dan ia menang bukan dengan melawan, melainkan dengan memaafkan.

Kejadian di rumah Pak Haji Mansur malam itu bukan sekadar bumbu pemanis dalam ritual kenduren, melainkan sebuah cermin besar bagi seluruh warga desa. Di balik kepulan uap nasi dan aroma menyan, terselip pelajaran berharga bahwa menjaga lisan jauh lebih sulit daripada memikul nampan yang penuh dengan hidangan. Sejatinya, sebuah tradisi tidak hanya dinilai dari seberapa khusyuk doa dilantunkan, namun juga dari seberapa kuat tali paseduluran (persaudaraan) dijaga agar tidak terputus hanya karena ego sesaat.

​Danang telah membuktikan bahwa kekurangan fisik—seperti suara cempreng yang sering menjadi sasaran gegojekan (candaan)—bukanlah sebuah kehinaan. Kehinaan yang sebenarnya adalah saat seseorang kehilangan tata krama dalam merespons ketidakadilan, atau saat orang tua kehilangan kawicaksanan (kebijaksanaan) dalam mendidik yang muda. Konflik antara Danang dan Pak Salam adalah pengingat bahwa di dalam ruang guyub, setiap individu memiliki batas harga diri yang harus dihormati, terlepas dari status sosial maupun usia.

​Amanat yang tertinggal dalam gemerincing piring malam itu adalah tentang pentingnya tepo seliro (tenggang rasa). Bagi yang muda, kesabaran adalah ujian naik kelas menuju kedewasaan, sementara bagi yang tua, memberikan teladan adalah kewajiban yang tak boleh lekang oleh rasa ingin bercanda. Keunikan suara Danang mungkin akan tetap menjadi ciri khas di setiap kenduren mendatang, namun kini suara itu tidak lagi dianggap sebagai bahan ejekan, melainkan simbol keberanian seorang ladèn yang mampu memaafkan tanpa harus kehilangan jati diri. Karena pada akhirnya, hidup bermasyarakat bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan tentang siapa yang paling mampu melapangkan dada untuk saling merangkul dalam segala kekurangan.

Posting Komentar

0 Komentar