Kategori Cerpen

Meniti Jembatan Waktu: Senandung Rajab di Serambi Tua

 


Cerpen ini mengisahkan perjalanan spiritual seorang pemuda bernama Aris yang mengalami transformasi batin di sebuah serambi tua Masjid Al-Ikhlas. Berawal dari kegelisahan akan rutinitas ibadah yang terasa hambar, Aris menemukan makna mendalam di balik lantunan doa Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan yang kerap menggema di antara adzan dan iqamah. Melalui dialog filosofis bersama tokoh bijak, Pak Haji Mansur, dan sang muadzin, Bang Jaka, Aris menyadari bahwa doa tersebut bukanlah sekadar puji-pujian pengisi waktu, melainkan sebuah proposal hidup-mati dan strategi manajemen ruhani yang agung.

​Narasi ini menekankan pentingnya konsep al-barakatu ziyadatul khair (keberkahan sebagai bertambahnya kebaikan) yang harus disemai sejak bulan Rajab sebagai masa menanam, dipupuk di bulan Sya'ban, hingga akhirnya dipanen saat Ramadhan tiba. Aris ditantang untuk melawan penyakit jiwa seperti al-kasal (rasa malas), al-'ajzu (kelemahan), dan al-wahnu (cinta dunia berlebihan) yang sering kali menyebabkan kondisi fathur atau kendor dalam beribadah. Dengan latar suasana masjid yang syahdu di bawah langit Rajab, cerpen ini menggambarkan bahwa memohon ballighna (sampainya umur) ke bulan suci harus dibarengi dengan permohonan quwwah (kekuatan) agar ibadah menjadi maqbul (diterima). Sebuah kisah tentang cara meniti jembatan waktu dengan kesungguhan, mengingatkan pembaca bahwa kemenangan di bulan Ramadhan tidak pernah datang secara instan, melainkan melalui persiapan ruhani yang dimulai sejak detak jantung pertama di bulan Rajab.

Langit sore meredup, menyisakan semburat jingga yang memudar di ufuk barat, sementara aroma tanah basah sisa hujan kiriman tercium samar di pelataran Masjid Al-Ikhlas. Di serambi, Pak Haji Mansur duduk bersila, jemarinya perlahan menggeser butiran tasbih kayu yang sudah licin dimakan usia. Di sampingnya, duduk seorang pemuda bernama Aris, yang sedari tadi tampak gelisah memperhatikan jamaah yang mulai berdatangan.

​Suara mikrofon berderit pelan, disusul lantunan adzan Maghrib yang menggetarkan udara. Begitu gema panggilan itu usai, suasana tidak langsung hening. Sebuah tradisi turun-temurun dimulai; sang muadzin memandu jamaah melantunkan sebuah puji-pujian dengan nada yang mendayu namun penuh harap.

"Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan..."

​Suara itu bersahut-sahutan, menciptakan harmoni yang magis di telinga Aris. Ia berpaling ke arah Pak Haji Mansur yang masih memejamkan mata, bibirnya bergerak pelan mengikuti irama doa tersebut.

​"Pak Haji," bisik Aris setelah rangkaian doa itu selesai sejenak sebelum iqamah dikumandangkan. "Kenapa setiap kali masuk bulan Rajab, doa ini seperti tidak pernah berhenti menggema di masjid kita? Rasanya ada nada mendesak sekaligus rindu di dalamnya."

​Pak Haji Mansur membuka mata, tersenyum tipis hingga kerutan di sudut matanya terlihat jelas. "Itu bukan sekadar nyanyian penunggu shalat, Ris. Itu adalah proposal hidup-mati kita kepada Sang Pencipta. Kita sedang berada di gerbang awal dari sebuah perjalanan besar."

​"Gerbang awal?" tanya Aris dahi berkerut.

​"Benar. Rajab ini adalah bulan menanam benih. Sya'ban nanti saatnya menyiram, dan Ramadhan adalah masa panennya," jawab Pak Haji Mansur tenang. "Doa Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya'bana wa ballighna Ramadhan itu adalah bentuk ketakutan sekaligus harapan seorang hamba. Kita meminta keberkahan (barakah) agar umur yang tersisa tidak sia-sia, dan kita memohon agar 'disampaikan' atau ballighna ke bulan Ramadhan. Sebab, siapa yang bisa menjamin napas kita masih sampai ke bulan suci itu?"

​Aris terdiam, meresapi kata ballighna yang baru saja ditekankan. Di kepalanya, doa itu kini bukan lagi sekadar rutinitas shalawatan setelah adzan, melainkan sebuah rintihan agar ia diberi kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki diri.

​"Tapi Pak Haji, saya merasa sering malas kalau sudah ibadah lama-lama. Kadang semangat, kadang hilang," aku Aris jujur.

​"Itulah sebabnya kita juga minta kekuatan, Ris. Kita minta agar hati ini tidak fathur atau kendor. Kita berdoa agar dijauhkan dari sifat al-kasal, alias malas yang membelenggu jiwa. Kita ingin bertemu Ramadhan bukan hanya dengan fisik yang sehat, tapi dengan ruh yang siap tempur," tambah Pak Haji seraya menepuk bahu Aris perlahan.

​Suara langkah kaki jamaah di atas lantai porselen masjid semakin ramai. Iqamah segera berkumandang, namun bagi Aris, shalat Maghrib kali ini terasa berbeda. Ada sebuah kesadaran baru yang tumbuh di hatinya tentang betapa mahalnya sebuah pertemuan dengan Ramadhan.

Lampu-lampu masjid mulai berpijar terang, namun pikiran Aris justru berkelana ke lorong-lorong gelap kegelisahannya. Seusai shalat Maghrib, ia kembali duduk di pojok serambi, tempat yang sama saat Pak Haji Mansur menjelaskan makna ballighna. Di luar, rintik hujan kembali turun, menciptakan melodi alami yang beradu dengan suara dzikir jamaah.

​"Pak Haji," Aris memulai pembicaraan lagi, suaranya agak bergetar. "Tadi Bapak bilang Rajab adalah waktu menanam. Tapi, bagaimana jika tanahnya sudah terlanjur gersang? Saya merasa... doa Allahumma barik lana itu terlalu mulia untuk lisan yang masih sering mengeluh seperti saya."

​Pak Haji Mansur membetulkan letak pecinya, menatap rintik hujan di luar. "Tanah yang gersang justru butuh pupuk keberkahan, Ris. Doa itu bukan untuk mereka yang sudah suci, tapi untuk kita yang sedang tertatih memperbaiki diri. Kamu tahu kenapa kita meminta keberkahan atau barakah di bulan Rajab?"

​"Agar hidup kita manfaat?" tebak Aris ragu.

​"Lebih dari itu. Al-barakatu ziydatul khair. Keberkahan adalah bertambahnya kebaikan. Kita meminta di bulan Rajab ini agar Allah 'mengairi' hati kita yang kering dengan ketaatan. Jika di bulan ini saja kita masih berat melangkahkan kaki ke masjid, bagaimana kita bisa 'berlari' saat Ramadhan tiba nanti?" Pak Haji menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam namun teduh. "Banyak orang sampai ke bulan Ramadhan secara fisik, tapi jiwanya tertinggal di bulan-bulan sebelumnya. Mereka hadir di barisan shaff, tapi hatinya masih terbelenggu al-kasal, rasa malas yang akut."

​Aris menunduk, jemarinya memainkan ujung sajadah. "Itu yang saya takutkan, Pak Haji. Saya takut hanya bertemu Ramadhan sebagai sebuah rutinitas lapar dan haus. Saya sering berdoa meminta umur panjang, tapi saya lupa meminta quwwah, kekuatan untuk beribadah. Apakah ada doa spesifik agar kita tidak 'kalah' sebelum berperang di bulan Ramadhan?"

​"Tentu ada," jawab Pak Haji dengan nada mantap. "Selain memohon keberkahan di bulan Sya'ban, kita juga harus sering-sering melangitkan permohonan agar dijauhkan dari sifat al-'ajzu dan al-kasal—lemah dan malas. Kita harus meminta agar ibadah kita maqbul, diterima. Bayangkan, Aris, betapa tragisnya seseorang yang sudah letih berpuasa, namun di akhir nanti ia hanya mendapat lelah tanpa pahala karena hatinya tidak dipersiapkan sejak Rajab."

​"Berarti, doa ballighna Ramadhan itu adalah sebuah janji?" tanya Aris, mulai menangkap benang merahnya.

​"Bisa dibilang begitu. Saat kamu mengucapkan wa ballighna Ramadhan, kamu sebenarnya sedang berkata kepada Allah: 'Ya Allah, sampaikan aku ke bulan Ramadhan, dan aku berjanji akan memberikan yang terbaik di sana.' Jadi, kalau sekarang kamu masih merasa malas, berarti ada yang salah dengan caramu memaknai doa tersebut. Doa itu harusnya menjadi booster, penggerak, bukan sekadar pelengkap shalawatan."

​Suasana mendadak hening. Hanya ada suara gesekan daun mangga di halaman masjid yang tertiup angin. Aris merasakan dadanya sesak oleh rasa sesal, namun sekaligus ada kehangatan yang merayap. Ia teringat betapa seringnya ia menyia-nyiakan bulan Rajab tahun-tahun lalu hanya karena merasa Ramadhan masih lama.

​"Pak Haji," suara Aris kini lebih rendah, hampir seperti bisikan. "Saya baru sadar, selama ini saya meminta umur panjang untuk bertemu Ramadhan hanya agar bisa ikut euforia lebarannya saja. Saya jarang meminta keberkahan di setiap detiknya. Saya takut, Pak Haji... takut kalau tahun ini adalah kesempatan terakhir saya untuk mengucapkan wa ballighna Ramadhan."

​Pak Haji Mansur menepuk bahu Aris dengan mantap. "Ketakutan itu adalah tanda iman, Ris. Gunakan ketakutan itu untuk menghancurkan fathur, masa-masa kendor dalam ibadahmu. Mulailah dari sekarang. Di bulan Rajab ini, paksa dirimu. Saat muadzin melantunkan doa itu lagi sebelum Isya nanti, jangan cuma didengar. Masukkan ke dalam hatimu, jadikan itu sebagai rintihan seorang hamba yang benar-benar butuh diselamatkan dari kelalaian."

​Aris menarik napas panjang, menatap ke arah mihrab masjid. Di sana, di balik tirai waktu yang terus berjalan, ia seolah melihat bayangan Ramadhan yang melambaikan tangan—sebuah tujuan yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang sungguh-sungguh meniti jembatan waktu di bulan Rajab dan Sya'ban ini.

Waktu seakan merambat lambat, namun detak jantung Aris justru berpacu lebih cepat. Di serambi tua itu, ia merasa seperti sedang diadili oleh kesadarannya sendiri. Kata-kata Pak Haji Mansur tentang al-barakatu ziyadatul khair terus berdengung, menghantam dinding-dinding egonya yang selama ini menganggap ibadah hanyalah deretan jadwal di kalender.

​"Pak Haji," suara Aris mendadak pecah di antara keheningan. "Bagaimana jika... bagaimana jika Allah mengabulkan permintaan ballighna Ramadhan saya, tapi Dia tidak memberikan barakah-Nya? Bagaimana jika saya sampai di sana, tapi saya tetap menjadi Aris yang lama? Aris yang baru bersemangat saat shalawat bergema, namun kembali fathur saat sendirian di kesunyian malam?"

​Klimaks emosi Aris mencapai puncaknya. Ia menunduk dalam, tangannya mencengkeram pinggiran sarungnya. Di saat itulah, muadzin mulai berdiri di depan mikrofon untuk mengumandangkan adzan Isya. Suara adzan kali ini terasa berbeda—seperti sebuah lonceng peringatan yang membelah langit malam. Begitu kalimat Laa ilaha illallah berakhir, suasana masjid kembali terbalut dalam tradisi puji-pujian.

​"Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan..."

​Lantunan itu kembali bergema. Namun kali ini, Aris tidak hanya mendengarkan. Ia menutup matanya rapat-rapat. Air matanya merembes di sudut kelopak mata. Di dalam benaknya, ia membayangkan dirinya sedang meniti sebuah jembatan yang rapuh di atas jurang kelalaian. Setiap kata dalam doa itu ia resapi sebagai pijakan.

​"Ya Allah," batinnya berteriak di tengah harmoni suara jamaah. "Jangan biarkan lisan ini hanya lancar meminta umur, tapi hati ini bakhil dalam beramal. Berikan aku quwwah untuk menghancurkan al-kasal yang telah berkarat dalam jiwaku."

​Pak Haji Mansur yang menyadari getaran bahu pemuda di sampingnya, tidak berkata apa-apa. Ia hanya terus melantunkan doa itu dengan suara yang berat dan berwibawa, seolah menjadi dirigen bagi pencarian jiwa Aris.

​"Aris," bisik Pak Haji di sela-sela doa, "Dengar baik-baik. Doa ini adalah permohonan agar kita tidak 'mati' sebelum ajal menjemput. Orang yang hidup tanpa keberkahan adalah mayat yang berjalan di bulan suci. Jangan minta sekadar sampai ke bulan Ramadhan, tapi mintalah agar Ramadhan-lah yang 'sampai' ke dalam hatimu, membakar habis segala sifat al-'ajzu atau kelemahanmu."

​Puncak kesadaran itu menghujam jantung Aris. Ia menyadari bahwa Meniti Jembatan Waktu bukan tentang seberapa jauh jarak menuju bulan suci, melainkan seberapa dalam ia mempersiapkan diri di bulan Rajab ini. Ia merasa seolah-olah hijab yang menutupi hatinya tersingkap. Doa Allahumma barik lana bukan lagi sekadar pelengkap sepi di antara adzan dan iqamah, melainkan sebuah manifesto perjuangan.

​"Saya mengerti sekarang, Pak Haji," ucap Aris dengan suara yang kini lebih stabil, meski sisa isakan masih terasa. "Meminta keberkahan di bulan Rajab adalah meminta 'bensin' untuk perjalanan panjang. Tanpa itu, saya akan mogok sebelum sampai ke garis finish di Idul Fitri nanti."

​Pak Haji Mansur mengangguk mantap, menatap lurus ke arah mihrab. "Benar, Ris. Karena sesungguhnya, kemenangan di bulan Ramadhan hanya dipersiapkan untuk mereka yang sudah mulai berkeringat di bulan Rajab dan bersujud syukur di bulan Sya'ban. Maqbul atau tidaknya kita nanti, dimulai dari kesungguhanmu melafalkan doa ini malam ini."

​Saat muadzin menyerukan iqamah, Aris bangkit dengan kaki yang terasa lebih ringan namun mantap. Ketakutan akan masa lalu yang sia-sia kini berubah menjadi energi yang berkobar. Di bawah naungan atap Masjid Al-Ikhlas, ia bertekad bahwa Rajab tahun ini tidak akan berlalu sebagai angin lalu, melainkan sebagai fondasi kokoh untuk bangunan taqwanya di masa depan.

Shalat Isya berakhir dengan kedamaian yang asing bagi Aris. Saat jamaah lain mulai beranjak, ia memilih tetap bersimpuh, membiarkan dahinya bersentuhan lebih lama dengan sajadah pada sujud terakhir ba'diyah. Di serambi yang kini mulai sepi, Pak Haji Mansur masih setia menunggu, seolah tahu bahwa Aris membutuhkan penutup bagi gejolak batinnya.

​"Bagaimana, Ris? Rasanya beban di pundakmu sudah sedikit berkurang?" tanya Pak Haji saat Aris mendekat.

​Aris mengangguk pelan, senyumnya kini tampak lebih tulus. "Rasanya seperti baru saja menemukan peta di tengah hutan yang gelap, Pak Haji. Selama ini saya hanya berjalan tanpa arah, berharap sampai ke Ramadhan tanpa tahu jalannya. Sekarang saya sadar, Rajab adalah titik nol keberangkatan saya."

​Pak Haji Mansur berdiri, mengajak Aris berjalan pelan menuju pelataran masjid. "Itulah intinya. Jangan biarkan doa Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan itu menguap begitu saja setelah kamu keluar dari pintu masjid ini. Bawa doa itu ke dalam setiap aktivitasmu. Jadikan ia pengingat saat al-kasal atau rasa malas mulai membisiki telingamu untuk menunda shalat atau enggan membuka mushaf."

​"Saya akan berusaha, Pak Haji," jawab Aris mantap. "Saya ingin di bulan Sya'ban nanti, saya tidak lagi tergopoh-gopoh. Saya ingin sudah 'basah' oleh ketaatan sebelum benar-benar berenang di samudera Ramadhan."

​"Bagus. Ingatlah satu hal lagi," Pak Haji berhenti sejenak di dekat pilar masjid yang kokoh, "Selain meminta disampaikan ke bulan suci, mintalah agar setiap amalan kita maqbul. Mintalah agar Allah memberi kita quwwah untuk menjauhi al-'ajzu, rasa lemah yang membuat kita merasa tidak mampu melakukan kebaikan. Kita butuh kekuatan Allah untuk bisa mencintai ibadah."

​Aris menatap langit malam yang kini sudah bersih dari awan mendung. Bintang-bintang mulai nampak, seolah menjadi saksi bisu atas ikrar baru di hatinya. "Terima kasih, Pak Haji. Hari ini saya belajar bahwa meniti jembatan waktu bukan soal kecepatan, tapi soal kesungguhan di setiap langkahnya. Saya tidak ingin hanya menjadi tamu yang numpang lewat di bulan Ramadhan, saya ingin menjadi bagian dari mereka yang diampuni."

​Pak Haji Mansur menepuk bahu Aris untuk terakhir kalinya malam itu. "Pulanglah. Mulailah menyemai benih ketaatanmu malam ini juga. Jangan tunggu besok, karena kita tidak pernah tahu apakah jembatan waktu kita akan sampai di ujungnya atau patah di tengah jalan."

​Aris melangkah meninggalkan masjid dengan langkah tegap. Di telinganya, sisa-sisa puji-pujian tadi masih terngiang merdu, namun kini maknanya telah meresap hingga ke sumsum tulang. Allahumma barik lana... Ya Allah berkahilah kami. Ia sadar, perjalanan menuju Ramadhan memang masih beberapa puluh purnama lagi, namun baginya, Ramadhan telah dimulai malam ini, di serambi tua Masjid Al-Ikhlas, melalui sebuah doa yang menghidupkan jiwa yang hampir mati.

Malam semakin larut, namun keheningan di sekitar Masjid Al-Ikhlas tidak lagi terasa dingin bagi Aris. Ia berdiri sejenak di gerbang masjid, menoleh ke belakang menatap bangunan tua yang baru saja merestorasi jiwanya. Cahaya lampu merkuri jalanan memantul di genangan air, menciptakan bayangan yang tenang.

​"Aris! Belum pulang?" sebuah suara berat memecah lamunannya. Ternyata Bang Jaka, sang muadzin yang tadi memimpin pujian, sedang mengunci pintu gudang samping.

​Aris menoleh dan tersenyum. "Baru mau jalan, Bang. Oh iya, Bang... terima kasih ya untuk lantunan doa Allahumma barik lana tadi. Rasanya sampai ke ulu hati."

​Bang Jaka terkekeh, menyampirkan sarungnya ke bahu. "Itu bukan karena suaraku yang bagus, Ris. Itu karena kalimatnya yang 'bernyawa'. Kamu tahu, setiap kali aku mengumandangkan doa itu, aku selalu merasa sedang mengetuk pintu langit dengan tangan gemetar. Kita ini hanya hamba yang fakir akan waktu, Ris."

​"Benar, Bang," sahut Aris. "Tadi Pak Haji juga bilang begitu. Kita sering merasa punya waktu selamanya, padahal wa ballighna Ramadhan itu adalah permohonan agar kita tidak diputus kontrak hidupnya sebelum sempat bertaubat di bulan suci."

​Bang Jaka mengangguk takzim. "Itulah intinya. Jangan sampai kita terkena penyakit al-wahnu, cinta dunia yang berlebihan sampai lupa mempersiapkan bekal. Kita minta barakah di bulan Rajab dan Sya'ban supaya saat masuk Ramadhan, mesin ruhani kita sudah panas, sudah siap idzhul jannah, siap masuk ke 'surga' ibadah dengan penuh semangat."

​Aris terdiam sebentar, meresapi istilah-istilah yang keluar dari lisan sang muadzin. "Ternyata, masjid ini benar-benar sekolah ya, Bang? Selama ini saya hanya datang, sujud, lalu lari pulang."

​"Masjid ini saksi, Ris. Saksi siapa yang sungguh-sungguh menanam dan siapa yang hanya sekadar singgah berteduh," Bang Jaka menepuk pundak Aris. "Sudah, pulanglah. Jangan lupa, nanti di sepertiga malam, bisikkan lagi doa itu. Mintalah agar dijauhkan dari fathur, masa-masa lesu yang sering merampas nikmatnya sujud."

​"Insya Allah, Bang. Mari, Assalamualaikum," pamit Aris.

​" Waalaikumussalam warahmatullah," jawab Bang Jaka hangat.

​Langkah kaki Aris kini membelah kesunyian gang menuju rumahnya. Di sepanjang jalan, bibirnya tak lagi bersiul atau bergumam lagu tak bermakna. Secara refleks, lisan dan hatinya mulai bersinkronisasi, melantunkan bait yang kini menjadi ruh barunya:

"Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan..."

​Ia menyadari bahwa jembatan waktu menuju Ramadhan memang masih membentang, namun ia tak lagi takut akan jaraknya. Ketakutannya kini telah berganti menjadi sebuah visi: ia ingin menghadap Sang Pemilik Waktu dengan tangan yang penuh dengan tanaman ketaatan yang ia semai sejak malam ini. Di bawah langit Rajab yang agung, Aris akhirnya mengerti bahwa keberkahan bukan tentang seberapa banyak harta yang didapat, melainkan seberapa dalam sebuah doa mampu mengubah arah hidup seorang hamba.

​Di serambi tua itu, sebuah perjalanan besar baru saja dimulai. Dan Aris, tidak akan membiarkan langkahnya terhenti oleh rasa malas lagi.

Pada akhirnya, kisah di serambi tua Masjid Al-Ikhlas adalah cermin bagi setiap jiwa yang seringkali terlelap dalam buaian waktu. Doa Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan bukanlah sekadar tradisi lisan yang memenuhi jeda antara adzan dan iqamah, melainkan sebuah strategi agung dalam manajemen ruhani. Amanat yang tertitip di antara pilar-pilar masjid itu sangatlah jernih: bahwa keberhasilan di bulan Ramadhan tidak pernah datang secara instan. Ia adalah buah dari ketekunan menanam di bulan Rajab dan kesabaran menyiram di bulan Sya'ban. Seseorang yang mengharapkan panen raya ketaatan tanpa pernah menyemai benih hanya akan mendapati tangannya kosong saat hari kemenangan tiba.

​Kita belajar melalui kegelisahan Aris bahwa musuh terbesar seorang hamba bukanlah waktu yang singkat, melainkan penyakit al-kasal (rasa malas) dan al-wahnu (cinta dunia yang berlebihan) yang seringkali membuat hati menjadi fathur atau kendor. Meminta barakah atau keberkahan berarti memohon agar setiap detik yang kita miliki menjadi ziyadatul khair, yakni bertambahnya nilai-baikan yang mampu menggerakkan raga untuk bersujud meski dalam keadaan lelah. Kata ballighna (sampaikanlah kami) adalah sebuah permohonan agar Allah tidak hanya memanjangkan umur secara biologis, tetapi juga menyertakan quwwah (kekuatan) agar kita bisa memuliakan Ramadhan dengan kualitas ibadah yang maqbul (diterima).

​Maka, janganlah menjadi hamba yang hanya menunggu Ramadhan dengan euforia lahiriah semata. Meniti jembatan waktu adalah tentang kesungguhan dalam mempersiapkan diri sebelum ajal atau kelalaian memutus kesempatan itu. Jadikanlah setiap hembusan napas di bulan-bulan mulia ini sebagai sarana untuk mengetuk pintu langit, memohon agar kita tidak hanya menjadi "tamu yang numpang lewat" di bulan suci, tetapi menjadi pemenang yang ruhnya benar-benar "sampai" kepada Sang Khalik. Sebab, setiap doa yang dilangitkan adalah janji, dan setiap langkah menuju masjid adalah bukti bahwa kita sedang berjuang melawan kematian hati sebelum kematian raga itu sendiri benar-benar datang menjemput.


Posting Komentar

0 Komentar