Kategori Cerpen

Di Ambang Pintu Cahaya: Saat Status WhatsApp Mulai "Beraroma" Mentega

 


Cerpen ini mengisahkan pergolakan batin seorang tokoh bernama Rini yang terjebak di antara dua kutub kepentingan pada pertengahan bulan Rajab dan Sya'ban. Di satu sisi, ia berusaha membangun kekhusyukan spiritual sebagai persiapan menuju Ramadhan—masa yang sering disebut sebagai waktu untuk menanam benih kebaikan. Namun di sisi lain, ia dihadapkan pada realita digital yang agresif melalui status WhatsApp dan grup percakapan yang mulai "beraroma" mentega. Fenomena open order kue kering, katalog hampers yang aesthetic, hingga tawaran harga early bird menciptakan tekanan psikologis berupa fear of missing out (FOMO) yang mengaburkan fokus ibadahnya.

​Konflik memuncak saat narasi belanja dan strategi marketing dari orang-orang terdekatnya mulai menginterupsi waktu-waktu krusial untuk tadarus dan perenungan diri. Rini merasa sedang berada dalam sebuah rat race—perlombaan tanpa ujung yang memaksa manusia lebih mementingkan "bungkus" Lebaran daripada "isi" Ramadhan. Melalui dialog-dialog mendalam dengan Ibunya, Rini perlahan menyadari adanya opportunity cost dalam beragama; bahwa setiap detik yang habis untuk membandingkan harga kastengel adalah waktu yang hilang untuk menata niat.

​Cerpen ini mencapai resolusinya ketika Rini memutuskan untuk melakukan digital detox dan mengambil langkah tegas dalam melakukan self-mastery atas keinginan duniawinya. Dengan narasi yang reflektif, kisah ini mengevaluasi fenomena pergeseran nilai di era digital, di mana kesiapan logistik sering kali bergerak lebih akseleratif dibandingkan kesiapan jiwa. Pada akhirnya, "Di Ambang Pintu Cahaya" menjadi sebuah pengingat bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada penuhnya toples di meja tamu, melainkan pada keberhasilan hati untuk "pulang" ke hadirat Tuhan di tengah bisingnya promosi duniawi.

Semburat jingga di ufuk barat baru saja luruh, meninggalkan sisa-sisa ketenangan bulan Rajab yang kian menipis. Di atas sajadah yang masih terhampar, aku terdiam sejenak, meresapi transisi waktu yang rasanya berjalan begitu akseleratif. Belum hilang rasa syukur atas kesempatan memasuki bulan Al-Ashab—bulan yang konon adalah saat yang tepat untuk menanam benih—kini kalender di dinding seolah berbisik bahwa Nisfu Sya'ban tinggal menghitung hari.

​Namun, kesyahduan itu mendadak terinterupsi oleh getar beruntun ponsel di samping bantal. Aku meraihnya, membuka aplikasi WhatsApp, dan seketika barisan titik-titik di bagian atas layar status berubah menjadi etalase digital yang riuh.

​"Ya ampun, ini baru pertengahan Sya’ban, tapi timeline sudah penuh dengan aroma nastar," gumamku pelan sembari mengusap layar.

​Status pertama yang muncul adalah milik Mbak Ratih, tetangga sebelah rumah yang biasanya hanya mengunggah foto bunga anggreknya. Kali ini berbeda. Sebuah foto toples kaca berisi kue kering berwarna emas mengkilap terpampang nyata dengan tulisan besar: OPEN ORDER KLOTER 1: NASTAR LUMER & KASTENGEL PREMIUM. Slot terbatas, siapa cepat dia dapat!

​"Bu, lihat deh," kataku pada Ibu yang baru saja melipat mukenanya. "Mbak Ratih sudah curi start. Lebaran masih sebulan lebih, tapi katalog jajanannya sudah keluar."

​Ibu mendekat, menyipitkan mata melihat layar ponselku yang terang. "Walah, iya. Itu namanya strategi marketing, Nduk. Kalau pesannya mepet Ramadhan, biasanya sudah full booked. Lagipula, orang-orang sekarang sudah mulai menyisihkan uang bonus buat stok di meja tamu."

​Belum sempat aku membalas, satu notifikasi masuk lagi. Kali ini dari grup keluarga besar. Isinya bukan lagi nasihat bijak atau doa harian, melainkan tautan katalog digital PDF berisi berbagai macam hampers lebaran dengan desain aesthetic.

​"Lihat ini lagi, Bu. Tante Widya juga sudah posting pre-order keripik emping dan kacang bawang. Apa orang-orang tidak mau fokus ibadah dulu ya di bulan Sya'ban ini?" tanyaku, sedikit merasa terusik dengan kontrasnya suasana batin dan suasana digital.

​"Bulan Sya'ban itu memang pintu gerbang, Nduk," jawab Ibu lembut sembari duduk di tepi ranjang. "Bagi yang mencari pahala, ini saatnya warming up puasa sunnah. Tapi bagi para pedagang, ini adalah masa peak season untuk menjemput rezeki agar nanti saat Idul Fitri, dapur mereka tetap mengepul dan bisa berbagi lebih banyak."

​Aku kembali menatap layar. Di antara doa-doa memohon keberkahan di bulan Sya’ban yang diposting beberapa teman aktivis masjid, terselip promo buy 2 get 1 untuk sirup dan biskuit kaleng. Sepertinya, antara persiapan spiritual dan persiapan logistik memang sedang berjalan beriringan, berlomba-lomba mengetuk pintu persiapan menuju bulan suci yang dinanti.

Malam-malam setelahnya, suasana batin yang semula ingin kubangun seolah-olah harus beradu mekanik dengan algoritma media sosial yang semakin agresif. Setiap kali aku membuka ponsel untuk mencari jadwal kajian atau sekadar membaca mutiara hikmah bulan Sya'ban, jari-jariku justru terjebak dalam pusaran scrolling tanpa henti.

​"Astagfirullah," desisku saat melihat status WhatsApp milik Bu RT yang biasanya kalem. Kini, statusnya berderet seperti titik-titik jahitan, penuh dengan video slow-motion mentega yang dikocok hingga creamy, disusul dengan barisan loyang berisi adonan bulat yang siap masuk oven.

​Suara notifikasi grup "Arisan Ceria" mendadak meledak.

​"Jeng, ini nastarnya pakai full wisman atau campuran?" tanya Bu Hanum di grup.

​Mbak Ratih, sang maestro kue dadakan, membalas dengan kilat. "Tentu saja full mentega premium, Jeng! Ada harga ada rupa. Ini batch terakhir untuk pengiriman awal Ramadhan ya. Setelah itu aku tutup fokus tadarus!"

​Aku menghela napas, melempar ponsel ke kasur. Namun, rasa penasaran—atau mungkin kecemasan yang diciptakan oleh istilah Fear of Missing Out (FOMO)—menyeretku kembali. Aku kembali meraih ponsel. Di sana, sebuah pesan pribadi masuk dari sepupuku, Linda.

​"Rin, kamu sudah pesan hampers buat mertua belum? Ini aku ada kenalan yang punya konsep rustique dan vintage. Limited edition banget, katanya kalau pesan sekarang masih dapat harga early bird."

​"Lin, ini bahkan belum masuk tanggal satu Ramadhan," balasku dengan ketikan yang sedikit ditekan. "Apa kita tidak terlalu prematur membahas bingkisan di saat kita seharusnya sedang sibuk membasuh hati?"

​Linda mengirimkan emoji tertawa sampai menangis. "Duh, Rini sayang... Justru karena kita mau fokus ibadah nanti di bulan puasa, urusan logistik harus beres di bulan Sya'ban ini. Supply chain lagi kacau, kalau telat sedikit, kita cuma dapat sisa-sisa biskuit kaleng yang kalengnya sudah penyok di swalayan!"

​Logika Linda ada benarnya, namun hatiku tetap merasa ada yang ganjil. Transisi dari Rajab ke Sya’ban yang seharusnya menjadi masa calm before the storm dalam hal spiritualitas, kini justru terasa seperti perlombaan lari cepat di pasar malam.

​Ibu masuk ke kamar, membawa aroma teh melati yang menenangkan, kontras dengan "aroma" mentega virtual yang sedari tadi memenuhi kepalaku.

​"Kenapa mukanya ditekuk begitu, Nduk? Masih pusing lihat status WhatsApp?" goda Ibu sembari meletakkan cangkir di nakas.

​"Iya, Bu. Rasanya kok... tumpang tindih ya? Tadi sore aku baca artikel tentang keutamaan malam Nisfu Sya'ban, tentang Allah yang mengampuni hamba-Nya. Tapi baru saja mau merenung, eh, muncul iklan flash sale gamis syar’i dengan diskon lima puluh persen. Fokusku jadi buyar."

​Ibu terkekeh pelan, menyisir rambutku dengan jemarinya yang mulai keriput. "Itulah ujiannya, Nduk. Dunia itu memang berisik. Sya’ban itu sering disebut bulan yang terlupakan karena letaknya di antara dua bulan besar, Rajab dan Ramadhan. Orang-orang sibuk menyiapkan 'bungkus' untuk Lebaran sampai lupa menyiapkan 'isi' untuk Ramadhan."

​"Tapi apa salah kalau mereka jualan, Bu? Mbak Ratih, Tante Widya, mereka kan juga cari nafkah."

​"Tidak salah," jawab Ibu mantap. "Yang salah itu kalau aroma mentega di status WhatsApp mereka membuatmu lupa pada aroma doa yang seharusnya kau langitkan. Kamu tahu istilah opportunity cost? Dalam beragama pun ada. Kalau waktumu habis membandingkan harga kastengel antar-toko, kamu kehilangan waktu untuk menata niat."

​Kalimat Ibu menohokku tepat di hulu hati. Malam itu, aku melihat layar ponselku lagi. Status terbaru muncul dari seorang teman lama yang kini menjadi ustaz. Tulisannya singkat: "Barangsiapa yang memuliakan Sya’ban, maka ia akan dimudahkan di bulan Ramadhan."

​Tepat di bawah status ustaz tersebut, muncul status dari toko langgananku: "READY STOCK: KURMA SUKKARI DAN COKLAT TURKI. CO SEKARANG SEBELUM KEHABISAN!"

​Dua kutub kepentingan ini terus saling tarik-menarik. Aku merasa berada di ambang pintu cahaya, namun kakiku masih terbelit kabel-kabel pesanan online. Ada pergolakan antara ingin ikut memesan agar tidak "ketinggalan zaman" atau menutup ponsel rapat-rapat demi mengejar ketertinggalan tilawah yang targetnya mulai meleset.

​Puncaknya terjadi ketika ponselku berdering. Telepon dari Tante Widya.

​"Rini! Kamu belum isi list pesanan keripik emping di grup keluarga? Ini tinggal sisa lima toples. Tante prioritaskan keluarga dulu sebelum Tante lempar ke marketplace. Gimana? Mau dua atau tiga?"

​Aku terdiam, memandang sajadah yang masih terhampar dan ponsel yang berkedip-kedip di tanganku. Aroma mentega itu kini terasa begitu nyata, merayap masuk lewat celah-celah digital, mencoba menggeser kekhusyukan yang sedang kubangun dengan susah payah.

Telepon dari Tante Widya masih menempel di telinga, sementara di layar ponsel, notifikasi pop-up dari grup "Arisan Ceria" terus bermunculan bak peluru kendali. Aku menarik napas panjang, mencoba mencari oksigen di tengah kepungan polusi informasi yang menyesakkan.

​"Halo, Rin? Kok diam saja? Ini empingnya kualitas super, lho. Kalau telat pesen sekarang, nanti di minggu kedua Ramadhan harganya sudah up dua puluh persen karena bahan bakunya langka!" suara Tante Widya terdengar makin persuasif, khas seorang marketing ulung.

​"Anu, Tante... Rini masih mau hitung-hitung dulu," jawabku terbata.

​"Halah, hitung apa lagi? Ini tinggal sisa sedikit. Tante sudah close order buat orang luar. Masa keponakan sendiri nggak kebagian camilan enak buat open house nanti?"

​Aku melirik jam dinding. Pukul delapan malam. Seharusnya ini adalah waktu di mana aku sudah tenggelam dalam lembar-lembar Al-Qur'an untuk mengejar target khatam sebelum masuk bulan suci. Namun, realitanya, aku justru sedang terjebak dalam dilema urgensi supply chain keripik emping.

​"Tante, maaf sekali. Boleh Rini kabari besok pagi? Rini sedang mau ibadah dulu," ucapku akhirnya, mencoba tegas namun tetap sopan.

​"Oh, gitu? Ya sudah, tapi Tante nggak janji ya kalau besok masih ada. Soalnya ini sistemnya first come, first served. Siapa cepat, dia dapat!" Klik. Sambungan terputus.

​Aku meletakkan ponsel dengan tangan gemetar. Belum sempat aku meletakkan benda itu ke meja, sebuah pesan masuk dari Linda. Foto sebuah hampers dengan dekorasi dried flowers dan kartu ucapan berbahan kertas daur ulang yang sangat aesthetic.

“Rin, gila! Slot untuk hampers ini tinggal dua. Aku sudah amankan satu buat calon mertuaku. Kamu mau satu lagi nggak? Mumpung masih harga early bird! Kalau lewat tengah malam ini, harganya balik normal. Cepat jawab, Rin! Under pressure banget nih!”

​Rasanya seperti ada badai di dalam kepalaku. Di satu sisi, ada ketakutan irasional akan kekurangan stok, rasa sungkan pada kerabat, dan godaan untuk tampil "siap" di hari raya nanti. Di sisi lain, nuraniku berteriak bahwa aku sedang kehilangan esensi dari Sya'ban itu sendiri. Aku merasa sedang berada dalam sebuah rat race—perlombaan tikus yang tak berujung, di mana hadiahnya hanyalah tumpukan toples di atas meja.

​"Astagfirullah... cukup!" teriakku tertahan.

​Tanganku bergerak cepat. Aku menekan tombol power lama-lama hingga layar ponsel menghitam, memutus paksa koneksi dengan "aroma" mentega yang sedari tadi merongrong ketenangan. Seketika, kamar menjadi sunyi. Hanya ada suara detak jam yang mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan, dan Sya'ban tidak akan menunggu hingga semua pesanan online-ku selesai diproses.

​Aku berjalan menuju kamar mandi, membasuh wajah dengan air wudu yang dingin. Sensasi air itu seolah meluruhkan residu kecemasan digital yang menempel di pori-pori kulitku. Aku kembali berdiri di depan sajadah. Di sini, di ruang kecil ini, aroma mentega itu kalah telak oleh wangi kayu cendana dari mukena yang baru saja dicuci Ibu.

​Aku menyadari satu hal: fear of missing out yang sesungguhnya bukanlah saat aku kehabisan nastar atau emping, melainkan saat aku melewatkan malam-malam penuh ampunan di bulan Sya'ban hanya karena sibuk mengurusi check out keranjang belanja.

​"Ya Allah," bisikku dalam sujud yang panjang. "Jangan biarkan hamba menjadi orang yang merugi, yang sibuk memoles cangkang namun membiarkan isinya kosong melompong."

​Klimaks batin itu mereda menjadi sebuah ketenangan yang solid. Aku memutuskan untuk tidak menyalakan ponsel hingga subuh nanti. Biarlah semua kloter pesanan itu penuh, biarlah harga early bird itu hangus. Aku lebih memilih untuk menjemput early blessing di sepertiga malam terakhir, di mana "stok" ampunan Allah tidak akan pernah terbatas oleh slot ataupun deadline pesanan.

Cahaya fajar menyelinap malu-malu melalui celah ventilasi, membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Aku terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan, seolah beban ribuan toples kue kering telah terangkat dari pundakku. Ponsel di atas nakas masih dalam keadaan mati—sebuah kemenangan kecil yang berhasil kupertahankan sejak semalam.

​Aku melangkah ke ruang tengah, mendapati Ibu sedang duduk tenang dengan mushaf di pangkuannya. Tidak ada suara denting notifikasi, hanya deru kipas angin tua yang menemani kesunyian pagi.

​"Sudah bangun, Nduk? Bagaimana tidurnya? Nyenyak tanpa gangguan flash sale?" goda Ibu dengan senyum yang meneduhkan.

​Aku tertawa kecil, mengambil tempat duduk di sampingnya. "Nyenyak sekali, Bu. Rasanya seperti baru saja melakukan digital detox di saat yang paling krusial."

​"Baguslah. Memang terkadang kita perlu mematikan layar untuk menyalakan hati," sahut Ibu sembari menutup kitabnya perlahan.

​Aku memberanikan diri menyalakan ponsel. Benar saja, layarku langsung dibanjiri ratusan pesan. Grup keluarga sudah mencapai angka '99+', didominasi oleh perdebatan antara keripik emping Tante Widya dan pilihan warna dress seragam untuk hari raya. Di sela-sela itu, sebuah pesan dari Linda masuk pada pukul dua dini hari.

“Rin, kamu beneran nggak mau? Slot hampers-nya sudah sold out dalam lima belas menit! Kamu ketinggalan kereta, Sayang. Jangan nyesel ya nanti pas Lebaran cuma bisa kirim ucapan via teks!”

​Aku tersenyum tipis, jemariku menari di atas layar dengan tenang. "Nggak apa-apa, Lin. Aku sudah check out 'hampers' yang lain semalam dalam sujudku. Semoga berkah ya buat mertuamu."

​Tak lama kemudian, sebuah panggilan telepon masuk. Mbak Ratih.

​"Rini! Duh, maaf ya ganggu pagi-pagi. Begini, aku tadi malam melihat-lihat lagi catatan pesanan. Ternyata ada satu slot nastar lumer yang batal karena yang pesan lupa bayar. Aku ingat kamu belum pesan sama sekali. Mau aku masukkan namamu?" suara Mbak Ratih terdengar agak terengah, sepertinya ia sedang sibuk di dapur.

​Aku menarik napas panjang, menatap Ibu yang mengangguk pelan seolah memberi dukungan. "Mbak Ratih, terima kasih banyak sudah ingat aku. Tapi sepertinya tahun ini aku absen dulu dari open order kloter awal. Aku mau fokus menyiapkan stok doa dulu, Mbak. Nanti kalau sudah masuk pertengahan Ramadhan dan Mbak masih buka batch terakhir, kabari aku ya."

​Ada jeda sejenak di seberang sana. "Oh... gitu ya, Rin? Wah, hebat kamu bisa nahan godaan. Aku sendiri saja yang bikin kadang-kadang merasa overwhelmed. Ya sudah, nggak apa-apa. Sukses ya buat 'persiapan' batinnya!"

​Setelah menutup telepon, aku merasa sebuah sekat yang selama ini menghimpit dadaku runtuh. Aku menyadari bahwa dunia digital dengan segala sense of urgency-nya hanyalah fatamorgana yang diciptakan untuk membuat kita merasa selalu kurang. Aroma mentega di status WhatsApp itu memang menggoda, namun ia tidak boleh menjadi kabut yang menghalangi pandangan kita menuju pintu cahaya di bulan suci.

​Ibu menyentuh lenganku lembut. "Nduk, persiapan lahiriah itu baik, tapi jangan sampai ia mengambil alih kedaulatan hatimu. Lebaran itu merayakan kemenangan melawan hawa nafsu, bukan merayakan kemenangan atas kepemilikan kue kering paling mahal."

​Aku mengangguk mantap. Hari itu, aku membuat sebuah keputusan. Aku membuka aplikasi WhatsApp, bukan untuk melihat status update terbaru, melainkan untuk mengganti statusku sendiri. Sebuah gambar latar belakang putih bersih dengan tulisan sederhana: "Sedang fokus menanam benih di bulan Sya'ban. Mohon maaf, respon lambat untuk urusan duniawi."

​Aku meletakkan ponsel itu kembali, kali ini dengan layar menghadap ke bawah. Aku berjalan menuju rak buku, mengambil buku doa dan mushaf kesayanganku. Sya’ban masih menyisakan beberapa belas hari lagi. Masih ada waktu untuk mengejar ketertinggalan, masih ada ruang untuk memperbaiki niat.

​Di ambang pintu cahaya ini, aku memilih untuk melangkah masuk dengan tangan kosong namun hati yang penuh, membiarkan aroma mentega itu memudar, digantikan oleh keharuman istighfar yang lebih abadi. Persiapan logistik mungkin penting, namun persiapan spiritual adalah mutlak. Dan pagi itu, di pertengahan Sya’ban, aku akhirnya benar-benar "pulang" ke rumah batinku sendiri.

Matahari sore di akhir bulan Sya’ban membiaskan cahaya keemasan yang lebih lembut, seolah alam sendiri sedang melakukan fine-tuning sebelum menyambut agungnya Ramadhan. Di teras rumah, aku duduk memperhatikan kesibukan Mbak Ratih di seberang jalan. Kurir ekspedisi bolak-balik berhenti di depan pagarnya, mengangkut tumpukan kardus bertuliskan fragile yang kuyakin berisi barisan nastar yang tempo hari sempat membuatku nyaris kehilangan arah.

​"Rin, ini ada paket buat kamu," suara Ibu memecah lamunan. Beliau datang membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas cokelat sederhana.

​Aku mengerutkan kening. "Paket? Rini kan tidak ada check out apa-apa di marketplace sejak minggu lalu, Bu."

​"Buka saja, ada kartu ucapannya," ujar Ibu sembari meletakkan kotak itu di pangkuanku.

​Dengan perlahan, kubuka talinya. Di dalamnya terdapat sebuah toples kecil berisi kue semprit dan secarik kertas dengan tulisan tangan yang agak terburu-buru.

“Rin, ini tester gratis untukmu. Bukan untuk pesanan, tapi untuk teman diskusi yang mengingatkanku kalau hidup bukan cuma soal mengejar deadline oven. Gara-gara status WhatsApp-mu itu, aku jadi sadar buat sedikit mengerem dan ikut tadarus di masjid tadi malam. Selamat menjemput Ramadhan ya!” — Mbak Ratih.


​Aku tersenyum, merasakan kehangatan yang menjalar di dada. Ternyata, sebuah keteguhan kecil pun bisa menjadi ripple effect bagi orang lain.

​"Lihat, Nduk," Ibu duduk di kursi kayu sebelahku, "Rezeki itu jalannya ajaib. Kamu tidak perlu mengejar-ngejar sampai kehilangan napas ibadahmu. Saat kamu mendahulukan Yang Di Atas, dunia yang akan mencarimu dengan caranya yang paling sopan."

​Ponselku bergetar. Satu notifikasi muncul. Itu Linda. Namun kali ini, pesannya bukan lagi soal harga early bird atau desain hampers yang limited edition.

“Rin, aku baru saja uninstall beberapa aplikasi belanja sampai Lebaran nanti. Capek juga ya ikut war pesanan terus. Sore ini ikut aku ke pasar sore buat cari takjil persiapan puasa lusa? No gadget, just talk,” tulisnya.

​Aku terkekeh dan segera membalas, "Siap, Lin! Tapi janji ya, jangan bahas soal stok biskuit kaleng yang penyok lagi!"

​Sore itu, suasana di status WhatsApp-ku masih riuh. Masih ada promosi gamis, masih ada yang pamer jumlah pesanan kue yang membludak, dan masih ada aroma mentega virtual yang bertebaran. Namun, semua itu kini hanya terasa seperti bising latar belakang yang tak lagi mampu menginterupsi frekuensi batinku.

​"Ibu tahu," gumamku sembari memandang langit yang kian jingga, "Dulu aku pikir Sya'ban itu bulan yang bising karena iklan Lebaran. Ternyata, Sya'ban itu justru bulan yang sangat sunyi dan indah kalau kita tahu cara menutup telinga dari dunia."

​Ibu mengusap pundakku. "Itulah intinya, Nduk. Self-mastery. Menguasai diri di tengah gempuran keinginan. Sekarang, simpan toples itu. Mari kita siapkan mukena. Hilal sudah hampir terlihat, dan kita tidak ingin berada di depan layar saat pintu langit benar-benar terbuka lebar."

​Aku berdiri, meninggalkan ponselku tergeletak diam di atas meja teras. Di ambang pintu cahaya ini, aku tak lagi merasa takut tertinggal. Karena pada akhirnya, perayaan Idul Fitri bukan tentang seberapa penuh toples di atas meja, melainkan seberapa lapang ruang pengampunan yang berhasil kita bangun di dalam jiwa selama sebulan penuh ke depan.

​Wangi mentega itu kini telah benar-benar meluap, berganti dengan aroma kerinduan yang magis terhadap suara tadarus yang akan segera menggema. Aku melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu perlahan, dan siap menyambut Sang Tamu Agung dengan hati yang sudah "pulang".

Pada akhirnya, riuh rendah status WhatsApp dan segala bentuk etalase digital di pertengahan Sya'ban adalah sebuah test case—sebuah uji kelayakan bagi hati sebelum ia benar-benar dilepas di medan juang Ramadhan. Kita sering kali terjebak dalam delusi urgensi, seolah-olah tanpa nastar yang premium atau hampers yang aesthetic, kemenangan di hari raya akan menjadi cacat dan hambar. Kita lebih takut pada label sold out di keranjang belanja daripada takut akan kehilangan momentum maghfirah di sepertiga malam terakhir.

​Amanat yang terselip di antara aroma mentega dan deru mesin kurir ini sebenarnya sederhana: jangan sampai kesibukan menyiapkan "bungkus" membuat kita kehilangan esensi dari "isi". Memang benar bahwa mencari nafkah adalah ibadah, dan menyiapkan kebahagiaan untuk keluarga adalah pahala. Namun, saat opportunity cost dari segala persiapan logistik itu adalah tergerusnya kekhusyukan dan hilangnya kesadaran spiritual, di situlah kita sedang melakukan transaksi yang merugi.

​Dunia akan selalu menawarkan fear of missing out (FOMO) untuk menarik kita kembali ke hiruk-pikuknya. Namun, Sya'ban mengajarkan kita tentang self-mastery—sebuah kedaulatan diri untuk berkata "cukup" pada kebisingan duniawi. Keberhasilan kita di ambang pintu cahaya ini tidak diukur dari seberapa cepat kita mengamankan harga early bird, melainkan seberapa tangkas kita mengamankan hati dari penyakit wahn—cinta dunia yang berlebihan.

​Maka, biarlah status-status itu terus bertebaran. Biarlah aroma mentega itu memenuhi ruang digital. Selama kita memiliki jangkar yang kuat pada sajadah, semua itu hanyalah riak kecil di permukaan samudra keimanan. Sebab, persiapan spiritual yang matang tidak membutuhkan promosi; ia hanya membutuhkan ketulusan yang sunyi di hadapan Sang Khalik. Mari memasuki Ramadhan bukan sebagai konsumen yang haus akan kemewahan materi, melainkan sebagai hamba yang lapar akan ampunan dan rindu akan kedamaian yang hakiki.


Posting Komentar

0 Komentar