Kategori Cerpen

Nostalgia Layar Perak: Memorabilia Movievaganza Ramadhan 2016 di Beranda Kepuhrubuh



Cerpen ini mengisahkan sebuah fragmen pagi yang hangat di beranda sebuah rumah joglo di Desa Kepuhrubuh, Ponorogo, pada awal Februari 2026. Melalui diskusi santai keluarga besar Mbah Sudarmi, cerita ini membawa pembaca melintasi lorong waktu menuju memori kolektif sepuluh tahun silam, tepatnya pada momentum Ramadhan 2016. Fokus utama narasi ini adalah nostalgia terhadap program Movievaganza Spesial Ramadhan di Trans7, sebuah kurasi layar perak yang tayang setiap pukul 20.30 WIB dan telah menjadi bagian dari spiritual journey serta cultural pedagogy bagi masyarakat Indonesia pada masa itu.

​Melalui sudut pandang Daffa, seorang mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, diskusi ini membedah nilai-nilai transendensi, perjuangan kelas, hingga kritik sosial yang tersirat dalam 25 judul film legendaris—mulai dari keteguhan hati dalam Emak Ingin Naik Haji, semangat Man Jadda Wajada dalam Negeri 5 Menara, hingga kedalaman cinta sejati dalam Habibie & Ainun. Cerpen ini merupakan cerpen representasi dari judul sebelumnya yaitu Gema Layar Kaca di Langit Kepuhrubuh: Memori Movievaganza Spesial Ramadan 2016, yang menggarisbawahi bagaimana tontonan berkualitas mampu bertransformasi menjadi tuntunan hidup yang melampaui zaman.

​Dengan memadukan dialektika keluarga antara generasi milenial, Z, dan Alpha, serta diselingi kearifan lokal bahasa Jawa, narasi ini merefleksikan kerinduan akan standar estetika dan moral televisi masa lalu di tengah gempuran konten digital tahun 2026 yang kian instan. Ini adalah sebuah memorabilia tentang bakti, istiqomah, dan kemanusiaan yang dirayakan di bawah naungan atap joglo Kepuhrubuh, membuktikan bahwa karya seni yang tulus akan selalu menemukan relevansinya sebagai humanizing the humans—memanusiakan manusia.

Pagi itu, Minggu, 1 Februari 2026, Desa Kepuhrubuh, Siman, tampak tenang diselimuti sisa embun yang perlahan menguap oleh sengatan mentari Ponorogo. Di teras rumah joglo milik keluarga besar Mbah Sudarmi, aroma kopi tubruk dan jadah goreng merebak, menciptakan atmosfer hangat bagi sebuah reuni keluarga kecil di akhir pekan. Daffa, mahasiswa semester enam Tadris Bahasa Indonesia UIN Kiai Ageng Muhammad Besari, duduk bersila di amben kayu sambil memangku laptopnya, mencoba merampungkan draf esai tentang semiotika film.

​Di sampingnya, Nara, adiknya yang masih berseragam olahraga SMA Negeri 2 Ponorogo, asyik mengutak-atik ponsel. Tak jauh dari mereka, Mbah Sudarmi sedang asyik memetik sayur mayur bersama Bu Tutik dan Bu Nita yang baru saja pulang dari kegiatan senam pagi di TK PKK Tunas Bangsa. Sementara itu, Om Anton sedang sibuk mengatur posisi tripod ponsel untuk melakukan video call dengan Pak Slamet yang sedang berada di Jakarta Selatan.

​"Lha ini sudah nyambung! Assalamu’alaikum, Pakne! Sehat di Jakarta?" seru Om Anton saat wajah Pak Slamet muncul di layar ponsel yang disandarkan di atas meja.

​"Wa’alaikumussalam*, alhamdulillah, Ton. Piye kabar Ponorogo? Panas?" sahut Pak Slamet dari seberang sana, suaranya terdengar jernih melalui pengeras suara.

​"Lagi cerah, Pak. Ini anak-anak pada kumpul di teras," jawab Bu Tutik sambil melambaikan tangan ke arah kamera.

​Tiba-tiba, Bagas yang duduk di lantai sambil memegang stik game bersama Aiko, celetuk tanpa sengaja, "Mas Daffa, ini di YouTube ada iklan lama Trans7 tahun 2016. Judulnya Movievaganza Spesial Ramadhan. Kok filmnya bagus-bagus ya? Ada Laskar Pelangi juga."

​Daffa menghentikan ketikannya. Ia menoleh ke arah sepupunya itu dengan senyum tipis yang penuh arti. "Wah, Gas, itu bukan sekadar program film biasa. Itu salah satu momen golden age tontonan Ramadhan di televisi kita. Tahun 2016 itu, kalau nggak salah tayangnya setiap jam setengah sembilan malam setelah Tarawih."

​Nara ikut menimpali, "Oh, aku ingat! Dulu kita sering berebut remote sama Mas Daffa gara-gara aku mau nonton kartun, tapi Mas Daffa maunya nonton film yang ada Reza Rahadian-nya itu, kan? Yang jadi tukang copet?"

​"Iya, Alangkah Lucunya (Negeri Ini)," sahut Daffa cepat. "Itu film satir yang keren banget. Tapi bukan cuma itu, jadwal sebulannya benar-benar padat dengan film berkualitas. Dari mulai perjuangan Emak di Emak Ingin Naik Haji sampai drama cinta sejati di Habibie & Ainun."

​Bu Nita yang sedang menyesap teh hangat ikut berkomentar, "Iya, dulu Ibu sering jadikan film-film itu bahan cerita buat anak-anak di TK. Kayak film Moga Bunda Disayang Allah itu lho, sangat menyentuh. Perjuangan guru mengajar anak difabel. Benar-benar heartwarming."

​Mbah Sudarmi yang sedari tadi menyimak sambil mengunyah sirih, menyahut dengan bahasa Jawa yang khas, "Nduk, film sing mbah eling kuwi sing Rhoma Irama munggah haji numpak motor kae lho, opo judule? Haji Backpacker yo?"

​"Bukan Mbah, kalau Rhoma Irama itu Sajadah Ka'bah. Kalau yang keliling sembilan negara naik motor dan jalan kaki itu Haji Backpacker, pemainnya Abimana," koreksi Daffa dengan lembut, membuat suasana diskusi santai itu semakin hidup.

​"Bayangkan ya, sepuluh tahun yang lalu tontonan kita sebermutu itu," ujar Pak Slamet dari layar ponsel. "Di Jakarta dulu, Bapak kalau pulang kerja langsung standby depan TV sama teman-teman kos. Film-film seperti Negeri 5 Menara itu benar-benar jadi mood booster buat kami yang lagi merantau. Kalimat Man Jadda Wajada itu rasanya sakti sekali."

​Aiko, yang paling kecil di antara mereka, mendongak menatap Daffa. "Mas Daffa, ceritain dong film-film lainnya. Aiko mau tahu kenapa film jaman dulu dibilang lebih bagus."

​Daffa tersenyum, menutup draf esainya, dan mulai mengatur posisi duduknya agar lebih nyaman. "Oke, kita bedah satu-satu ya. Kita mulai dari minggu pertama bulan Juni 2016 itu. Benar-benar memorable banget karena film-filmnya punya pesan spiritual yang dalam, tapi tetap asyik ditonton secara pop."

​Diskusi di teras rumah Desa Kepuhrubuh itu pun mengalir, membedah satu per satu judul film yang pernah menghiasi layar kaca sepuluh tahun silam, membangkitkan kenangan tentang nilai-nilai kehidupan, perjuangan, dan tentu saja, berkah Ramadhan yang tak terlupakan.

​"Jadi begini, Ko," Daffa memulai penjelasannya dengan nada ala dosen muda. "Minggu pertama itu dibuka dengan Emak Ingin Naik Haji. Bayangkan, Zein yang diperankan Reza Rahadian harus melihat ibunya yang sabar, diperankan Aty Cancer, terus-menerus diuji oleh tetangga yang pamer ibadah. Itu film yang bikin sesak dada tapi inspiring."

​"Terus besoknya ada Negeri 5 Menara," potong Nara semangat. "Itu yang ada mantra Man Jadda Wajada-nya kan? Alif yang tadinya terpaksa masuk pesantren malah sukses di luar negeri. Itu film wajib buat anak sekolah biar nggak malas belajar!"

​"Betul," sahut Pak Slamet dari layar ponsel. "Tapi jangan lupa hari Rabunya, ada La Tahzan. Wah, itu mah dramanya kelas berat. Marshanda sama Deva Mahenra. Isunya tentang pengasuh yang pakai ilmu mistis atau pelet buat merebut suami orang. Benar-benar bikin geregetan seisi rumah dulu."

​"Eh, tapi habis itu suasananya berubah jadi perjalanan spiritual yang cantik di Ku Kejar Cinta ke Negeri Cina," tambah Daffa. "Adipati Dolken ngejar Eriska Rein sampai ke Beijing. Meski akhirnya telat karena si perempuan sudah tunangan, tapi karakter Imam di situ jadi belajar tentang Islam. Lalu ditutup akhir pekan dengan Haji Backpacker yang keliling sembilan negara, dan satire korupsi yang lucu tapi getir di Alangkah Lucunya (Negeri Ini)."

​Perjuangan Perempuan dan Realitas Sosial

​Bu Nita menaruh cangkir tehnya, matanya berbinar. "Kalau minggu kedua, Ibu paling ingat Perempuan Berkalung Sorban. Perjuangan Anissa melawan budaya patriarki di pesantren itu sangat powerful. Meskipun dia harus melewati pernikahan yang menyakitkan dengan Samsudin, akhirnya dia menemukan kedamaian."

​"Iya, Bu," sahut Nara. "Terus ada Moga Bunda Disayang Allah. Itu film yang paling bikin nangis sekeluarga. Karang yang trauma harus ngajar Melati yang buta, tuli, dan bisu. Chemistry-nya dapet banget."

​"Lha kalau Mbah ya tetep seneng Sajadah Ka'bah," sela Mbah Sudarmi sambil terkekeh. "Rhoma Irama ngelawan wong serakah sing arep nggusur masjid dinggo panggon judi. Marai semangat!"

​Daffa mengangguk. "Minggu kedua itu memang campur aduk, Mbah. Ada Jakarta Maghrib yang isinya omnibus—cerita pendek tentang keresahan orang kota saat maghrib. Ada juga Tanah Surga... Katanya yang lokasinya di perbatasan Kalimantan. Itu film yang nampar kita soal nasionalisme. Terus buat yang muda-muda, ada Aku, Kau dan KUA yang kocak soal taaruf, dan ditutup Kabayan Jadi Milyuner yang harus cari uang satu miliar dalam seminggu demi pesantren."

​Dari Musikal Hingga Laskar Pelangi

​Bagas yang tadinya sibuk dengan game-nya kini benar-benar menyimak. "Mas, yang film musik itu apa?"

​"Itu Dawai 2 Asmara, Gas. Ada Ridho Rhoma sama ayahnya. Dilema cinta segitiga tapi dibungkus musik dangdut yang modern," jelas Daffa. "Tapi minggu ketiga itu primadonanya ya trilogi Belitung. Ada Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, sama Edensor. Itu mah mahakarya. Perjuangan Ikal dan Arai dari sekolah yang mau roboh sampai bisa kuliah di Sorbonne, Prancis. Benar-benar definisi dream high."

​"Tapi ada yang lucu juga, Kiamat Sudah Dekat," tambah Pak Slamet. "Andre Taulany jadi rocker yang belajar salat demi cintanya ke anak Haji Romli. Itu komedi religi paling legendaris sih menurut Bapak."

​"Jangan lupa Jingga dan Mentari dari Kurau, Pak," sela Bu Tutik. "Dua-duanya soal anak-anak hebat yang punya keterbatasan fisik dan ekonomi tapi nggak mau nyerah. Sangat heartwarming dan edukatif buat ditonton pas Ramadhan."

​Puncak Penutup: Mimpi dan Air Mata

​"Minggu terakhirnya nggak kalah berat ya, Mas?" tanya Aiko penasaran.

​Daffa menghela napas panjang, mengingat-ingat. "Penutupnya itu luar biasa, Ko. Ada Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar. Bayangkan perjuangan mahasiswi di Singapura yang makan roti tawar tiap hari demi sukses di usia muda. Terus ada Air Mata Terakhir Bunda, yang latar tempatnya dekat kita, Sidoarjo. Ibu tunggal penjual lontong kupang yang berjuang demi anaknya di tengah bencana lumpur Lapindo."

​"Terus ada film favorit Bapak itu," kata Bu Tutik melirik ke arah layar ponsel.

​"Iya, Habibie & Ainun," sahut Pak Slamet dengan nada hormat. "Kisah cinta sejati yang bikin kita sadar kalau di balik laki-laki hebat, ada perempuan yang jauh lebih hebat. Itu film penutup yang sangat emosional sebelum lebaran waktu itu."

​"Oh iya, satu lagi," Daffa menambahkan, "Film Malam Seribu Bulan soal dua penjahat yang mau insaf, dan Seputih Cinta Melati sebagai penutup tanggal 1 Juli 2016. Film itu manis banget karena menceritakan narapidana yang kabur tapi malah sadar gara-gara kebaikan anak kecil."

​Daffa menutup penjelasannya dengan tatapan menerawang ke arah pepohonan jati di depan rumah. "Trans7 tahun 2016 itu bukan cuma kasih tontonan, tapi kasih tuntunan yang dikemas cantik. Di beranda Kepuhrubuh ini, rasanya nostalgia itu makin terasa nyata."

​"Mas Daffa," panggil Bagas sambil menunjukkan layar ponselnya, "Coba lihat ini, ada trailer film yang tadi Mas sebutin. Kita tonton bareng-bareng yuk di TV ruang tengah!"

​"Ide bagus, Gas! Yuk, mumpung internetnya kencang," ajak Daffa sambil bangkit dari amben kayu.

Layar televisi di ruang tengah kini menampilkan kompilasi adegan dari Movievaganza 2016. Cahaya dari layar berpendar di wajah keluarga besar itu, menciptakan suasana kontemplatif di tengah hari Minggu yang terik. Daffa, dengan latar belakang keilmuan bahasa dan sastranya, mulai membedah lebih dalam bukan sekadar plot, melainkan ruh dari film-film tersebut.

​"Kalau kita bedah secara semiotika, film-film pilihan Trans7 sepuluh tahun lalu itu punya pola yang konsisten, Pak," ujar Daffa sambil membetulkan letak kacamatanya. "Hampir semuanya mengusung tema transendensi. Bagaimana manusia melampaui keterbatasan fisiknya, seperti di film Jingga atau Moga Bunda Disayang Allah, untuk menemukan Tuhan."

​Pak Slamet di layar ponsel mengangguk setuju. "Benar, Daf. Bapak rasa puncaknya itu ada di Haji Backpacker. Tokoh Mada itu representasi kita semua yang kadang marah sama takdir. Perjalanannya melintasi sembilan negara itu sebenarnya perjalanan batin. Sinematografinya megah, tapi pesannya sederhana: sejauh apa pun kamu lari, Tuhan selalu punya cara untuk memanggilmu pulang."

​"Tapi Mas," sela Nara yang sejak tadi menyimak dengan dahi berkerut, "Kenapa film sekarang rasanya beda ya? Maksudku, film-film 2016 itu kayak punya soul yang lebih kuat. Apa karena dulu kita nontonnya pas Ramadhan jadi lebih terbawa suasana?"

​"Bisa jadi, Nar," jawab Daffa. "Tapi ada faktor sincerity atau ketulusan dalam penceritaannya. Coba lihat Air Mata Terakhir Bunda. Itu bukan sekadar drama air mata. Itu adalah potret social realism tentang korban lumpur Lapindo. Film itu memotret kemiskinan tanpa mengeksploitasinya, tapi justru menjadikannya bahan bakar untuk martabat. Itulah kenapa penonton merasa terhubung."

​Bu Nita, yang sebagai guru sangat memperhatikan aspek edukasi, ikut menimpali, "Ibu paling kagum sama konsistensi mereka menghadirkan film seperti Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Itu bukan cuma soal anak sekolah, tapi soal mentality. Mantra Man Jadda Wajada dari Negeri 5 Menara itu bukan sekadar dialog, tapi sudah jadi cultural phenomenon yang menyemangati generasi kalian."

​Tiba-tiba, Bagas yang sedari tadi asyik menonton cuplikan Alangkah Lucunya (Negeri Ini) berceletuk, "Mas, bagian pas Muluk bilang kalau dia mengajar copet itu beneran nyindir ya? Dia bilang, 'Apa gunanya ijazah kalau hanya untuk jadi pengangguran?' Wah, itu ngeri banget kata-katanya."

​Daffa tersenyum tipis. "Itulah satire, Gas. Deddy Mizwar itu jenius. Dia menggunakan komedi untuk memotret ironi pendidikan kita. Evaluasi besarnya adalah, program Movievaganza 2016 itu berhasil menyeimbangkan antara tontonan yang menghibur (seperti Kabayan Jadi Milyuner) dengan kritik sosial yang tajam. Mereka tidak menganggap penonton itu bodoh."

​Suasana mendadak hening sejenak saat cuplikan Habibie & Ainun muncul di layar. Adegan Pak Habibie yang menangis di depan pusara Ainun membuat Mbah Sudarmi menyeka sudut matanya dengan ujung kebaya.

​"Nduk, film kuwi lho... sing nggarai Mbah ngerti yen tresno sejati kuwi ora mung neng lambe, tapi neng laku (Nduk, film itu yang membuat Mbah paham kalau cinta sejati itu tidak hanya di bibir, tapi di perbuatan)," bisik Mbah Sudarmi lirih.

​"Itu climax dari seluruh rangkaian memorabilia ini, Mbah," pungkas Daffa dengan nada rendah yang penuh hormat. "Menutup rangkaian dengan Habibie & Ainun dan Seputih Cinta Melati adalah langkah yang sangat poetic. Kita diajak melihat cinta dalam bentuknya yang paling agung—cinta pada pasangan, dan cinta pada kemanusiaan melalui ketulusan anak kecil. Program itu bukan sekadar mengisi waktu kosong antara Tarawih dan sahur, tapi sebuah curated experience yang membentuk cara kita memandang hidup."

​Daffa terdiam sejenak, menatap keluarganya satu per satu. "Mungkin di tahun 2026 ini kita punya teknologi lebih canggih, tapi nilai-nilai dari beranda Kepuhrubuh tahun 2016 lewat layar perak itu tetap jadi kompas yang nggak akan usang."

Matahari makin tinggi di atas langit Desa Kepuhrubuh, namun hawa sejuk seolah enggan beranjak dari ruang tengah rumah Mbah Sudarmi. Di layar televisi, cuplikan film Seputih Cinta Melati perlahan memudar, menyisakan keheningan yang nyaman. Daffa menutup laptopnya perlahan, merasa esainya tentang semiotika film kini telah mendapatkan ruh yang lebih hidup berkat diskusi keluarga ini.

​"Jadi, Mas," Bagas memecah kesunyian, matanya masih menatap layar TV yang sudah berganti siaran berita. "Apa film-film itu masih relevan kalau diputar lagi sekarang, di tahun 2026? Maksudku, kan zamannya sudah beda banget."

​Daffa tersenyum, menyandarkan punggungnya ke tiang kayu jati yang kokoh. "Relevansi itu bukan soal tahun produksinya, Gas, tapi soal universal values atau nilai-nilai semesta yang dibawa. Sampai kapan pun, perjuangan seorang ibu di Air Mata Terakhir Bunda atau semangat Man Jadda Wajada di Negeri 5 Menara nggak akan pernah kedaluwarsa. Itu adalah bahan bakar buat jiwa."

​Pak Slamet, yang wajahnya masih terpampang di layar ponsel lewat video call, mengangguk setuju. "Betul kata Masmu, Gas. Tontonan itu ibarat cermin. Kalau cerminnya jernih seperti program Movievaganza 2016 itu, kita bisa melihat kekurangan diri kita dan memperbaikinya. Bapak harap, meski sekarang tontonan sudah ribuan jumlahnya di internet, kalian tetap punya filter buat memilih mana yang sekadar lewat dan mana yang membekas."

​"Iya, Pak," sahut Nara pelan. "Tadi pas lihat cuplikan Merry Riana, aku jadi mikir. Dia berjuang di Singapura cuma dengan uang pas-pasan, tapi bisa sukses. Aku yang sekolah di Ponorogo dengan fasilitas cukup, harusnya malu kalau masih malas-malasan."

​Bu Nita mengelus bahu Nara dengan lembut. "Itulah gunanya kita mengenang lagi, Nduk. Bukan cuma buat kangen-kangenan sama aktornya, tapi buat ambil ibrah atau pelajaran. Di TK, Ibu selalu bilang ke anak-anak, 'Jadilah seperti Melati di film Moga Bunda Disayang Allah.' Meski dalam kegelapan, dia tidak berhenti mencari cahaya."

​Mbah Sudarmi bangkit dari duduknya, melipat sirihnya dengan rapi. "Wis, wis... diskusi layar perak wis rampung. Saiki wayahe mangan awan. Kuwi lho, Ibu wis masak sayur lodeh karo sambel terasi (Sudah, sudah... diskusi layar perak sudah selesai. Sekarang waktunya makan siang. Itu lho, Ibu sudah masak sayur lodeh dan sambal terasi)," ujar beliau sambil tersenyum lebar.

​Suasana haru mendadak berubah menjadi ceria. Om Anton mematikan tripod ponselnya setelah berpamitan dengan Pak Slamet. "Pakne, maturnuwun ya diskusinya! Kapan-kapan kita sambung lagi pas Bapak pulang mudik!"

​"Sama-sama, Ton! Assalamu’alaikum!" suara Pak Slamet menghilang seiring padamnya layar ponsel.

​Daffa membantu Aiko merapikan stik game dan buku-bukunya. Sebelum beranjak ke ruang makan, ia sempat menoleh ke arah kalender dinding yang menunjukkan tahun 2026. Ia menyadari satu hal penting; memorabilia Movievaganza Trans7 tahun 2016 bukan sekadar deretan judul film. Itu adalah sebuah legacy—warisan rasa yang pernah menyatukan keluarga di depan televisi setelah lelah beribadah Tarawih.

​"Mas Daffa, ayo makan! Nanti lodehnya dingin!" teriak Bagas dari arah dapur.

​"Iya, Gas! Sebentar!" jawab Daffa.

​Sambil melangkah, Daffa bergumam pelan, teringat salah satu kutipan dari film Laskar Pelangi yang baru saja mereka bahas. "Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya."

​Di beranda Kepuhrubuh, kenangan sepuluh tahun silam itu telah bertransformasi menjadi energi baru. Meski Ramadhan 2016 telah lama berlalu, gema pesan-pesan moralnya tetap menggantung indah di sela-sela atap joglo, menjaga hangatnya hubungan keluarga itu dalam balutan nilai-nilai yang tak lekang oleh waktu.

Suasana ruang tengah yang tadinya penuh dengan suara riuh rendah diskusi, kini perlahan melandai. Aroma sayur lodeh dan sambal terasi dari dapur mulai mendominasi indra penciuman, menandai berakhirnya sesi bedah film yang tak sengaja dimulai dari sebuah iklan lama di YouTube. Namun, bagi Daffa, diskusi ini bukan sekadar mengisi waktu luang di hari Minggu. Ia merasa ada benang merah yang berhasil ditarik dari ingatan sepuluh tahun silam menuju realitas masa depannya sebagai calon pendidik.

​"Mas Daffa," panggil Aiko pelan sambil menarik ujung kaus kakaknya, "Kalau nanti Aiko sudah besar, apa film-film itu masih ada? Aiko ingin menonton Merry Riana sampai habis, bukan cuma cuplikannya."

​Daffa berjongkok agar sejajar dengan adik sepupunya itu, lalu tersenyum hangat. "Tentu masih ada, Ko. Film-film bagus itu seperti buku klasik; mereka punya rumahnya sendiri di sejarah. Tapi yang lebih penting, semangatnya harus ada di sini," Daffa mengetuk pelan dahi Aiko, "dan di sini," ia menyentuh dada kiri Aiko. "Semangat untuk tidak menyerah seperti Merry Riana, atau ketulusan mencintai seperti Pak Habibie."

​Om Anton yang sedang melipat tripodnya menyahut dengan nada sedikit menggoda, "Daf, kalau kamu nanti jadi guru bahasa, jangan lupa selipkan film-film ini di kelasmu. Anak-anak zaman sekarang—Gen Alpha dan setelahnya—perlu tahu kalau perfilman kita pernah se-idealis itu. Jangan cuma dikasih tontonan yang isinya pamer kemewahan saja."

​"Benar, Om," jawab Daffa mantap. "Saya sempat terpikir untuk memasukkan analisis struktur naratif Laskar Pelangi ke dalam skripsi saya. Bagaimana Andrea Hirata dan Riri Riza membangun harapan dari kemiskinan tanpa terlihat mengemis iba. Itu art yang sangat tinggi nilainya."

​Di sudut lain, Bu Nita dan Bu Tutik tampak sedang merapikan mukena dan sajadah yang tadi sempat terserak di dekat amben. Bu Nita menoleh ke arah Daffa, wajahnya memancarkan ketenangan seorang guru. "Nostalgia ini mengingatkan Ibu, Daf. Tahun 2016 itu, setelah nonton Seputih Cinta Melati, Ibu langsung tergerak membuat program 'Sedekah Dongeng' di TK PKK Tunas Bangsa. Kadang, sebuah film memang bisa menjadi trigger untuk kebaikan yang nyata."

​Mbah Sudarmi yang sudah berada di ambang pintu menuju ruang makan, berhenti sejenak. Beliau memandang ke arah foto keluarga besar yang tergantung di dinding jati, lalu bergumam dalam bahasa Jawa yang dalam, "Layar perak kuwi mung perantara, sing paling penting kuwi lakuning urip sing barokah. Kaya irah-irahan acarane Trans7 dhisik: Berkah Ramadhan. (Layar perak itu hanya perantara, yang paling penting itu jalannya hidup yang berkah. Seperti judul acaranya Trans7 dulu: Berkah Ramadhan.)"

​Daffa tertegun sejenak mendengar ucapan simbahnya. Kalimat itu seolah menjadi closing statement yang sempurna bagi seluruh rangkaian memorabilia pagi ini. Ia teringat kembali pada daftar film yang baru saja mereka bahas:


Nara, yang sudah siap dengan piring di tangannya, berseru dari arah meja makan, "Ayo Mas, semuanya! Jangan sampai diskusi film ini bikin kita lupa kalau perut juga butuh 'transendensi' lodeh buatan Ibu!"

​Gelak tawa pun pecah, memecah kesunyian rumah joglo itu. Satu per satu anggota keluarga melangkah menuju ruang makan, meninggalkan ruang tengah yang kini hanya menyisakan kehangatan sisa diskusi. Daffa adalah yang terakhir beranjak. Sebelum mematikan televisi, ia sempat melihat bayangan dirinya di layar yang hitam—seorang pemuda di tahun 2026 yang baru saja 'pulang' dari perjalanan waktu ke tahun 2016.

​Ia menyadari bahwa Movievaganza Spesial Ramadhan 2016 telah memberikan lebih dari sekadar memorabilia; program itu memberikan sebuah legacy tentang bagaimana seharusnya media massa bekerja—sebagai jembatan antara hiburan dan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Di beranda Kepuhrubuh, dalam hembusan angin Ponorogo yang mulai menyengat, Daffa berjanji dalam hati untuk terus menjaga nilai-nilai itu, lewat tulisan, lewat pengajaran, dan lewat cara ia menjalani hidup.

​Diskusi itu memang telah usai, namun gema dari setiap fragmen film yang mereka bahas akan terus bergaung di sela-sela tiang kayu jati rumah itu, menjadi pengingat bahwa di tahun mana pun kita berada, ketulusan, kerja keras, dan cinta akan selalu menjadi bahasa yang universal.

Sesi makan siang di ruang makan rumah joglo itu berlangsung dengan khidmat namun tetap diselingi canda. Sayur lodeh dan sambal terasi menjadi pelengkap sempurna setelah perjalanan batin melintasi waktu. Namun, bagi Daffa, perbincangan tadi menyisakan sebuah konklusi besar yang mengendap di kepalanya sebagai seorang calon pendidik bahasa dan sastra.

​Daffa memandangi Bagas dan Aiko yang makan dengan lahap, lalu beralih pada Nara yang tampak lebih tenang dari biasanya. Ia menyadari bahwa deretan film dalam Movievaganza Spesial Ramadhan 2016 bukan sekadar strategi programming televisi untuk mengejar rating di jam utama (prime time). Lebih dari itu, kurasi film tersebut adalah sebuah bentuk cultural pedagogy—pendidikan budaya yang menyusup halus ke ruang keluarga.

​"Kalian tahu," ujar Daffa memecah keheningan, "amanat terbesar dari semua film yang kita bahas tadi adalah tentang istiqomah atau keteguhan hati. Lihatlah Emak yang istiqomah ingin berhaji, Alif yang istiqomah dengan Man Jadda Wajada-nya, hingga Sriyani di Sidoarjo yang istiqomah menyekolahkan anaknya di tengah kepungan lumpur. Film-film itu mengajarkan bahwa kesulitan ekonomi atau fisik bukanlah penghalang, melainkan katalisator untuk kemuliaan jiwa."

​Bu Tutik mengangguk setuju, "Benar, Daf. Dan yang paling penting adalah bakti. Hampir semua film itu, mulai dari Emak Ingin Naik Haji, Air Mata Terakhir Bunda, sampai Mentari dari Kurau, menonjolkan bagaimana bakti anak kepada orang tua adalah kunci pembuka pintu langit."

​Daffa menarik napas dalam, merumuskan refleksi akhirnya. "Intinya, tontonan berkualitas seperti yang disajikan Trans7 sepuluh tahun lalu itu adalah cermin bagi masyarakat. Jika kita menonton perjuangan Mada di Haji Backpacker, kita diajak berefleksi tentang eksistensi diri dan Tuhan. Jika kita menonton Alangkah Lucunya (Negeri Ini), kita diajak mengkritik sistem tanpa harus kehilangan rasa humor. Pesan moralnya jelas: hidup harus memiliki visi melampaui kepentingan diri sendiri."

​Diskusi di beranda Kepuhrubuh pagi hingga siang itu memberikan sebuah insight berharga: bahwa karya seni yang baik adalah karya yang mampu melakukan humanizing the humans—memanusiakan manusia. Di tengah gempuran konten digital tahun 2026 yang sering kali dangkal dan hanya mengejar viralitas, memorabilia Movievaganza 2016 hadir sebagai pengingat akan standar moral dan estetika yang pernah ada.

​Mbah Sudarmi menutup perjumpaan itu dengan sebuah nasihat penutup dalam bahasa Jawa yang sarat makna. "Nduk, Le... elinga. Donya iki mung mampir ngombe, nanging tontonan sing apik bisa dadi tuntunan sing nylametake lakumu. (Nduk, Le... ingatlah. Dunia ini hanya mampir minum, tapi tontonan yang baik bisa menjadi tuntunan yang menyelamatkan langkahmu.)"

​Daffa tersenyum. Ia merasa draf esainya kini bukan lagi sekadar tugas kuliah, melainkan sebuah manifesto kecil tentang bagaimana media seharusnya mendidik bangsa. Matahari Ponorogo kini tepat di atas kepala, namun di dalam hati setiap anggota keluarga di Kepuhrubuh, kesejukan dari nilai-nilai Layar Perak itu akan terus bersemi, melampaui batas waktu dan musim. 

Posting Komentar

0 Komentar