Kategori Cerpen

Selasar Terakhir: Menunggu Sangkakala Bergema

 


Selasar Terakhir: Menunggu Sangkakala Bergema mengisahkan sebuah refleksi eksistensial di penghujung zaman yang dibungkus melalui dialog filosofis antara seorang pemuda bernama Haris dan gurunya, Ustaz Mansur. Bertempat di sebuah kafe remang yang menjadi simbol an-nihayah (akhir) dari keriuhan duniawi, cerpen ini membedah kecemasan manusia modern dalam menghadapi tanda-tanda Kiamat Sugra yang mulai merayap di sela-sela peradaban. Narasi ini membawa pembaca menelusuri kepastian Yaumul Fasl (Hari Keputusan) yang bersifat la raiba fiha—tiada keraguan padanya—sebagaimana yang termaktub dalam mushaf Al-Qur'an.

​Melalui diskursus yang intens, cerpen ini menggambarkan kengerian transisi kosmik; mulai dari Nafkhatul Faza’ (tiupan sangkakala pertama yang mengejutkan dan mematikan) yang meluluhlantakkan segenap makhlukullah, hingga Nafkhatul Ba’ats (tiupan kebangkitan) yang memaksa manusia berdiri sendiri tanpa nasab atau pertalian keluarga. Di tengah fenomena fitnah yang menyebar cepat dan degradasi iman yang digambarkan seperti memudarnya corak pakaian, Haris harus berhadapan dengan kenyataan pahit tentang masa depan di mana Al-Qur'an akan diangkat kembali ke langit, meninggalkan dunia dalam kegelapan wahyu yang total.

​Cerita ini bukan sekadar tentang kehancuran materi atau Kiamat Kubra yang mencekam, melainkan sebuah evaluasi ruhani tentang kesiapan jiwa menghadapi pengadilan Rabbul 'Alamin. Dengan menyelaraskan dalil-dalil naqli dan realitas sosial, cerpen ini ditutup dengan sebuah resolusi batin: bahwa di tengah dunia yang sedang menuju senjanya, satu-satunya pegangan yang tersisa adalah iman yang digenggam erat laksana bara api. Sebuah kisah tentang cara manusia memandang "jarak antara telunjuk dan jari tengah" sebagai sisa waktu untuk bersujud sebelum sangkakala benar-benar membungkam segala kefanaan.

Lampu kafe yang remang temaram menciptakan bayangan panjang di atas meja kayu jati yang sudah mulai retak dimakan usia. Di luar, langit kota tampak jingga pekat, bukan karena matahari terbenam yang indah, melainkan karena polusi dan kabut tipis yang seolah enggan beranjak. Haris menyesap kopi hitamnya yang sudah mendingin, sementara di hadapannya, Ustaz Mansur masih setia membolak-balik lembaran mushaf saku miliknya.

​Suasana hening itu tiba-tiba pecah ketika Haris meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang sedikit keras. Ia menatap lekat-lekat pada gurunya itu, ada guratan kecemasan yang tak mampu ia sembunyikan lagi.

​"Ustaz," panggil Haris lirih. "Apakah benar kita sedang hidup di sisa-sisa napas dunia? Rasanya, semua tanda yang pernah Ustaz ceritakan kini bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur, tapi sudah ada di depan mata."

​Ustaz Mansur mendongak, menutup mushafnya perlahan. Ia tersenyum tipis, jenis senyuman yang menenangkan namun sarat akan keseriusan. "Dunia ini memang sudah sangat tua, Ris. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda sambil merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, beliau berkata, 'Aku diutus dan kiamat seperti ini'. Bayangkan, jarak antara dua jari itu sesingkat itulah kedekatan kita dengan akhir zaman sejak beliau wafat."

​Haris bergidik. Ia teringat akan berita-berita di ponselnya; tentang fitnah yang menyebar secepat kilat, hilangnya rasa malu, hingga kekacauan yang tak masuk akal. "Tapi Ustaz, terkadang saya merasa takut. Bagaimana jika besok adalah Kiamat Kubra? Bagaimana jika tiba-tiba alam semesta ini digulung?"

​"Ketakutan adalah tanda imanmu masih hidup, Ris," jawab Ustaz Mansur tenang. "Namun ingatlah, Kiamat Sugra atau tanda-tanda kecilnya sudah lama merayap di sekitar kita. Fitnah-fitnah besar, kemunculan sosok-sosok pendusta, hingga nanti puncaknya adalah munculnya Al-Masih ad-Dajjal dan turunnya Nabi Isa alaihissalam. Semua itu adalah pengingat agar kita tidak terlelap dalam mimpi duniawi."

​"Lalu, bagaimana dengan kepastiannya? Banyak orang sekarang mencoba meramal tanggal dan tahunnya," tanya Haris lagi, mencoba mencari celah logika.

​Ustaz Mansur menggeleng pelan. "Itu sia-sia. Bahkan Rasulullah pun ketika ditanya oleh Jibril tentang kapan hari itu tiba, beliau menjawab bahwa yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya. Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah. Itu adalah rahasia mutlak-Nya. Namun satu yang pasti, dalam Surah Al-Hajj ayat tujuh dikatakan: Wa annas-sa'ata atiyatul la raiba fiha—dan sungguh, kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya."

​Haris terdiam. Ia membayangkan sebuah hari yang dijanjikan dalam Surah Ad-Dukhan, sebuah Yaumul Fasl atau Hari Keputusan. Di mana semua perdebatan manusia akan berakhir, dan semua topeng akan terbuka.

​"Bayangkan sebuah pagi, Ris," lanjut Ustaz Mansur dengan suara yang lebih dalam, "ketika dunia sedang dalam puncaknya melupakan Tuhan. Lalu tiba-tiba, Suri ditiupkan. Tiupan sangkakala pertama yang akan mematikan seluruh penduduk langit dan bumi, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Itulah momen fana yang sesungguhnya. Tidak ada lagi jabatan, tidak ada lagi harta, bahkan dalam Surah Al-Mu'minun disebutkan bahwa tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka. Seorang ibu tidak akan lagi menanyakan anaknya, dan seorang ayah tidak akan lagi mengenal wajah putranya. Semua sibuk dengan urusannya sendiri."

​Haris menunduk, tangannya sedikit gemetar. Di pojok kafe, terdengar lagu populer yang diputar lewat pengeras suara, kontras sekali dengan obrolan berat yang sedang mereka jalani. Ia merasa seolah-olah kafe ini adalah sebuah selasar kecil di ujung waktu, tempat terakhir untuk merenung sebelum semua hiruk-pikuk ini berakhir dalam satu tiupan sangkakala yang memekakkan.

​"Apakah Islam akan benar-benar hilang sebelum itu terjadi, Ustaz?"

​Ustaz Mansur menghela napas panjang. "Ada masanya nanti, Islam akan terhapus perlahan seperti corak pakaian yang memudar. Bahkan Al-Qur'an akan diangkat dari bumi dalam satu malam, hingga tak tersisa satu ayat pun di hati manusia maupun di atas lembaran kertas. Hanya tersisa orang-orang tua yang merintih mengucapkan Laa ilaaha illallah tanpa tahu maknanya secara dalam, hanya karena mereka pernah mendengar orang tua mereka mengucapkannya. Di situlah, saat dunia benar-benar gelap dari cahaya wahyu, kiamat akan tegak."

Keheningan kembali menyergap meja mereka, namun kali ini terasa lebih menindih. Haris memandang ke luar jendela besar kafe. Di trotoar, orang-orang hilir mudik dengan mata terpaku pada layar gawai, tertawa tanpa suara, atau berdebat dengan raut wajah tegang. Ia merasa ada jurang pemisah yang lebar antara ketenangan Ustaz Mansur dan kegilaan yang terjadi di luar sana.

​"Jika Al-Qur'an benar-benar diangkat suatu malam nanti," suara Haris bergetar, "berarti kita sedang menuju sebuah peradaban yang benar-benar buta, Ustaz? Tanpa kompas, tanpa cahaya?"

​Ustaz Mansur mengangguk pelan, jemarinya mengusap sampul mushafnya dengan penuh kasih. "Benar, Ris. Itulah masa di mana fitnah telah mencapai puncaknya. Bayangkan sebuah dunia di mana kebenaran dianggap dusta dan pendusta dianggap pahlawan. Yaumul Fasl atau Hari Keputusan itu bukan sekadar akhir dari kalender, melainkan akhir dari segala sandiwara manusia. Namun, sebelum kebangkitan itu terjadi, kita akan melewati fase kehancuran total melalui tiupan Suri yang pertama."

​"Bagaimana suasananya saat itu?" tanya Haris, dadanya terasa sesak.

​"Mencekam melebihi apa pun yang bisa digambarkan oleh film-film bencana buatan manusia," jawab Ustaz Mansur. Suaranya merendah, menambah kesan mistis di sudut kafe itu. "Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa ketika sangkakala ditiupkan, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi. Bayangkan, Ris, seluruh kehidupan—dari malaikat di langit hingga serangga di lubang tanah—akan tersungkur dalam kematian seketika, kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Alam semesta yang luas ini akan digulung layaknya lembaran kertas. Galaksi akan bertabrakan, bintang-bintang berguguran, dan bumi memuntahkan isinya."

​Haris membayangkan gedung-gedung pencakar langit di luar sana runtuh seperti pasir ditiup angin. "Dan setelah itu... semua berakhir begitu saja?"

​"Tidak, justru itu adalah awal yang baru," Ustaz Mansur menatap tajam mata Haris. "Akan ada tiupan kedua. Nafkhatul Ba'ats—tiupan kebangkitan. Seketika itu juga, tanah-tanah makam terbelah. Manusia-manusia dari zaman Nabi Adam hingga manusia terakhir akan bangkit dalam keadaan yang belum pernah mereka bayangkan. Mereka berdiri, menunggu putusan masing-masing dengan mata yang terbelalak ketakutan. Itulah saat di mana nasab atau pertalian keluarga tidak lagi berguna."

​"Ustaz tadi bilang, bahkan seorang ibu tidak akan bertanya tentang anaknya?" Haris mencoba mencerna kengerian itu.

​"Tepat. Falaa ansaba bainahum. Tidak ada lagi silsilah, tidak ada lagi kebanggaan marga, tidak ada lagi rasa iba antara kekasih. Mengapa? Karena setiap jiwa sedang memikul beban ketakutan yang luar biasa. Di bawah matahari yang didekatkan, manusia akan tenggelam dalam keringatnya sendiri sesuai kadar amalnya. Saat itu, Haris, engkau tidak akan mencari ibumu, dan ibumu tidak akan mencarimu. Semua orang akan berkata, 'Nafsi, nafsi—diriku sendiri, diriku sendiri'."

​Haris menelan ludah yang terasa getir. "Jadi, semua kemewahan yang kita kejar sekarang, semua perdebatan politik, semua harta yang kita kumpulkan hingga lupa waktu ibadah... semuanya akan menjadi nol?"

​"Lebih buruk dari nol, Ris," Ustaz Mansur tersenyum getir. "Semua itu akan menjadi saksi yang memberatkan jika tidak digunakan di jalan Allah. Kiamat itu la raiba fiha, tidak ada keraguan padanya. Pasti datang. Masalahnya bukan kapan ia datang, tapi dalam keadaan seperti apa kita saat ia datang. Apakah kita sedang dalam sujud, atau justru sedang asyik dalam kemaksiatan saat sangkakala itu tiba-tiba menggelegar?"

​Tiba-tiba, lampu kafe berkedip sesaat akibat fluktuasi listrik. Haris tersentak, hampir menumpahkan sisa kopinya. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah guncangan kecil itu adalah awal dari kehancuran yang mereka bicarakan. Ia menyadari betapa rapuhnya tembok-tembok di sekelilingnya, betapa tipisnya batas antara dunia yang ia kenal dengan keabadian yang menakutkan itu.

​"Lalu, apa yang tersisa bagi kita, Ustaz? Jika Islam pun akan memudar seperti corak pakaian yang usang?" tanya Haris dengan nada putus asa yang mulai merayap.

​"Yang tersisa adalah iman yang kau genggam erat-erat di telapak tanganmu, meski rasanya panas seperti memegang bara api," jawab Ustaz Mansur tegas. "Selama masih ada napas, pintu taubat masih terbuka sebelum matahari terbit dari barat. Kita berada di selasar terakhir ini bukan untuk meratap, tapi untuk bersiap."

Lampu kafe yang kembali stabil tidak serta-merta menenangkan detak jantung Haris. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih sedikit bergetar. Bayangan tentang Yaumul Fasl—Hari Keputusan—kini terasa begitu nyata, seolah-olah tirai realitas di hadapannya bisa tersingkap kapan saja untuk menunjukkan kebenaran yang dijanjikan.

​"Ustaz," suara Haris kini lebih stabil, namun penuh penekanan. "Jika kepastian itu begitu mutlak, mengapa kita seringkali merasa bahwa dunia ini akan abadi? Mengapa kita begitu berani menunda tobat padahal jarak kita dengan kiamat hanya sependek jari telunjuk dan jari tengah Rasulullah?"

​Ustaz Mansur menghela napas, tatapannya menerawang ke arah langit jingga di luar jendela yang kini mulai menggelap. "Itulah al-ghuful atau kelalaian, Ris. Dunia ini adalah panggung sandiwara yang sangat rapi. Kita terlalu sibuk dengan urusan dunya hingga lupa bahwa Allah telah berfirman dalam Surah Al-Hajj: Wa annas-sa'ata atiyatul la raiba fiha—bahwa kiamat itu pasti datang, tanpa keraguan. Keraguan itu bukan terletak pada janji Allah, melainkan pada hati manusia yang tertutup oleh debu-debu dosa."

​Klimaks dari kegelisahan Haris memuncak saat ia membayangkan sebuah transisi besar yang mengerikan. "Saya membayangkan saat Suri ditiupkan untuk pertama kalinya, Ustaz. Saat semua suara musik di kafe ini, semua deru mesin di jalanan, dan semua tawa manusia tiba-tiba dibungkam oleh satu suara yang mematikan segala yang bernyawa."

​"Benar," sahut Ustaz Mansur dengan nada yang menggetarkan sukma. "Itulah saat fana mencapai titik nadirnya. Bayangkan kepanikan yang tak sempat dirasakan karena kematian datang lebih cepat dari rasa takut itu sendiri. Nafkhatul faza'—tiupan yang mengejutkan dan mematikan. Tidak ada lagi waktu untuk berpamitan. Tidak ada lagi waktu untuk sekadar mengucap istighfar. Di situlah keberadaan manusia benar-benar di titik nol."

​Ustaz Mansur kemudian memcondongkan tubuhnya, suaranya merendah namun tajam. "Namun, ketakutan yang sesungguhnya adalah setelah itu, Ris. Saat tiupan sangkakala kedua menggema. Nafkhatul ba'ats. Bayangkan miliaran manusia bangkit dari tanah seolah-olah mereka adalah belalang yang bertebaran. Di saat itulah kebenaran dari Surah Al-Mu'minun terjadi: Falaa ansaba bainahum. Tidak ada lagi ayah, tidak ada lagi anak. Hubungan darah yang selama ini kita agungkan di dunia akan terputus total. Kau akan melihat seorang ibu yang menyusui meninggalkan bayinya, dan setiap orang hanya peduli pada catatan amalnya sendiri."

​"Jadi, tidak ada yang bisa saling menolong?" tanya Haris dengan tenggorokan yang terasa kering.

​"Tidak ada, kecuali bagi mereka yang mendapatkan syafa'at dengan izin-Nya," jawab Ustaz Mansur. "Inilah evaluasi terbesar bagi setiap jiwa. Kita sering mengira memiliki banyak waktu, padahal Islam sendiri bisa terangkat dari bumi dalam satu malam. Jika mushaf yang saya pegang ini suatu saat kembali ke langit dan hanya menyisakan lembaran kosong, apa yang tersisa di dalam dadamu? Apakah masih ada Laa ilaaha illallah yang murni, ataukah hanya sisa-sisa corak agama yang sudah memudar seperti pakaian usang?"

​Haris tertegun. Ia menyadari bahwa selama ini ia sedang berdiri di ambang pintu yang sangat besar, namun ia justru sibuk memikirkan warna cat pintu tersebut daripada mempersiapkan apa yang harus ia bawa saat pintu itu terbuka.

​"Kiamat bukan hanya tentang kehancuran galaksi, Ris," pungkas Ustaz Mansur sambil mengemasi mushaf-nya. "Tapi tentang kebangkitan setiap jiwa untuk mempertanggungjawabkan setiap detik yang telah ia lalui. Pengetahuan tentang kapan waktunya adalah milik Allah secara mutlak, namun persiapan untuk menghadapinya adalah mutlak milik kita."

Malam benar-benar telah jatuh di luar kafe, namun cahaya dari balik kata-kata Ustaz Mansur seolah baru saja menyulut sumbu di dada Haris. Haris menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh di jiwanya yang tadi sempat merasa sesak oleh bayangan Nafkhatul Faza’—tiupan yang mematikan.

​"Lalu, Ustaz," suara Haris memecah hening, kali ini tanpa getaran takut yang berlebihan, melainkan sebuah tekad. "Jika selasar terakhir ini adalah tempat kita bersiap, apa yang harus menjadi pegangan terakhir saat fitnah akhir zaman ini semakin menyesakkan?"

​Ustaz Mansur menyampirkan tas kecilnya, lalu menatap Haris dengan pandangan yang dalam. "Kembalilah pada akar, Ris. Ingatlah hadis tentang Islam yang akan memudar seperti corak pakaian. Jangan biarkan imanmu hanya menjadi atsar atau bekas yang samar. Jadikan ia hidup. Meski suatu saat Al-Qur'an diangkat dari muka bumi dalam semalam dan dunia kehilangan cahaya wahyunya, pastikan engkau bukan termasuk orang-orang yang hanya bisa membeo tanpa makna."

​Ustaz Mansur berdiri, diikuti oleh Haris. Mereka berjalan menuju pintu keluar kafe. Suara lonceng pintu berdentang, seolah menyentak Haris kembali ke realitas jalanan kota yang masih bising.

​"Dunia ini memang akan hancur, itu adalah haqqul yaqin," lanjut Ustaz Mansur sambil memandang lalu lalang manusia di trotoar. "Namun, jangan lupa bahwa setelah kehancuran itu ada Yaumul Ba’ats. Saat sangkakala ditiup untuk kedua kalinya, kita tidak lagi berdiri sebagai penduduk kota ini, melainkan sebagai hamba yang menunggu putusan di hadapan Rabbul 'Alamin. Sungguh, hari Keputusan adalah waktu yang dijanjikan bagi mereka semuanya."

​"Saya mengerti, Ustaz," jawab Haris mantap. "Ketakutan saya tadi adalah ketakutan pada kehancuran materi. Namun sekarang saya sadar, yang lebih menakutkan adalah bangkit dalam keadaan muflis, bangkrut tanpa membawa bekal apa pun saat hubungan keluarga pun tak lagi bisa menolong."

​Ustaz Mansur menepuk bahu Haris dengan hangat. "Benar. Falaa ansaba bainahum. Hari itu tidak ada lagi tanya tentang jabatan atau nasab. Yang ada hanya kau dan amalmu. Maka, selagi sangkakala belum bergema, selagi pintu taubat belum terkunci oleh terbitnya matahari dari arah barat, hiasilah sisa napasmu dengan sujud yang panjang."

​Di bawah temaram lampu jalan, Haris melihat tangannya sendiri. Jari telunjuk dan jari tengahnya ia rapatkan, persis seperti perumpamaan yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kedekatan kiamat. Jarak yang begitu tipis. Jarak yang membuktikan bahwa setiap detik yang ia lalui adalah langkah menuju Selasar Terakhir.

​"Terima kasih, Ustaz. Diskusi malam ini bukan lagi sekadar teori bagi saya," ujar Haris tulus.

​Ustaz Mansur tersenyum lalu melangkah menjauh, sosoknya perlahan menghilang di tengah kerumunan orang, menyisakan Haris yang masih berdiri tegak di depan kafe. Haris tidak lagi merasa asing dengan hiruk-pikuk di sekitarnya. Ia tahu dunia sedang menuju senjanya, namun di dalam dadanya, ia berjanji untuk menjaga api Laa ilaaha illallah agar tetap menyala, bahkan jika seluruh dunia memilih untuk gelap.

​Ia memandang langit hitam di atas kota. Kiamat itu la raiba fiha—tidak ada keraguan padanya. Dan kini, Haris siap untuk menunggu, bukan dengan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan dengan persiapan yang menghidupkan jiwa.

Haris melangkah pulang menembus dinginnya angin malam yang menusuk tulang. Di sepanjang jalan, ia melihat pemandangan yang sama dengan kacamata yang berbeda. Ia melihat gedung-gedung beton yang menjulang tinggi, yang mungkin suatu saat akan rata dengan tanah saat bumi memuntahkan isinya. Ia melihat orang-orang yang tertawa di dalam mobil mewah, yang mungkin suatu saat akan lari tunggang-langgang tanpa sempat menoleh pada anak istri mereka sendiri.

​Kata-kata Ustaz Mansur tentang Yaumul Fasl terus berdenging di telinganya seperti frekuensi radio yang tak kunjung padam.

​"Apakah mereka tahu?" bisik Haris pada dirinya sendiri sambil menatap kerumunan manusia di pusat perbelanjaan. "Apakah mereka sadar bahwa kita semua sedang mengantre di depan sebuah pintu yang bisa terbuka kapan saja?"

​Ia teringat kembali pada peringatan tentang Kiamat Sugra. Fitnah-fitnah yang merayap masuk ke dalam rumah melalui layar ponsel, perdebatan sia-sia yang menghabiskan umur, dan perlahan-lahan, rasa haus akan Tuhan yang mulai mengering dari sanubari manusia. Haris merogoh saku jaketnya, menyentuh ponselnya, lalu segera menarik tangannya kembali. Ia merasa ngeri membayangkan jika suatu pagi ia bangun dan menemukan mushaf di meja samping tempat tidurnya hanya berisi lembaran putih kosong—saat Al-Qur'an benar-benar telah diangkat dari bumi karena manusia tak lagi mengindahkannya.

​Tiba-tiba, langkahnya terhenti di depan sebuah taman kota yang sepi. Di sana, seorang kakek tua duduk bersimpuh di atas bangku taman, bibirnya komat-kamit samar. Haris mendekat perlahan, dan lamat-lamat ia mendengar kalimat yang sangat akrab di telinganya.

​"Laa ilaaha illallah... Laa ilaaha illallah..."

​Suara kakek itu parau, seolah-olah kata itu adalah satu-satunya harta yang tersisa dari ingatannya yang mulai memudar. Haris teringat hadis tentang tanda-tanda penghapusan Islam; tentang masa di mana agama hanya menjadi atsar atau bekas yang samar, dan hanya orang-orang tua yang tersisa mengucapkan kalimat tauhid tanpa tahu makna dalamnya.

​"Permisi, Kek," sapa Haris lembut.

​Si kakek menoleh, matanya yang keruh tampak bercahaya sesaat. "Anak muda... apakah kau masih mengenal kalimat ini?"

​Haris mengangguk pelan, tenggorokannya terasa tersumbat. "Masih, Kek. Dan saya berharap akan terus mengenalnya hingga Suri ditiupkan."

​Kakek itu tersenyum tipis, lalu kembali menatap langit malam. "Dunia sudah terlalu bising, Nak. Terlalu banyak suara yang menenggelamkan peringatan-Nya. Tapi ingatlah, wa annas-sa'ata atiyatul la raiba fiha. Kiamat itu pasti, meski manusia mencoba melupakannya dengan seribu cara."

​Haris melanjutkan perjalanannya dengan hati yang lebih tenang namun waspada. Ia sampai di rumahnya, sebuah bangunan sederhana yang kini terasa seperti benteng terakhir baginya. Sebelum masuk, ia berhenti sejenak di ambang pintu, menatap konstelasi bintang yang redup tertutup polusi cahaya kota.

​Ia membayangkan momen yang dijanjikan itu: tiupan sangkakala pertama yang akan membawa kesunyian mutlak bagi semesta, lalu tiupan kedua, Nafkhatul Ba’ats, yang akan membangkitkan miliaran jiwa dari tidur panjang di dalam kubur. Ia membayangkan saat ia berdiri di padang yang luas, di mana tidak ada lagi nasab atau pertalian keluarga, di mana setiap orang hanya membawa selembar catatan amal sebagai identitas.

​"Ya Allah," bisik Haris dalam sujud terakhirnya malam itu. "Jangan biarkan hamba termasuk orang-orang yang lalai saat hari itu tiba. Jangan biarkan hati hamba menjadi kosong seperti corak pakaian yang pudar sebelum Engkau memanggil hamba kembali."

​Di luar sana, kota masih terus berdenyut. Namun bagi Haris, setiap detak jam dinding kini terdengar seperti hitung mundur yang tak terelakkan. Ia tahu, pengetahuan tentang hari itu hanya milik Allah, namun ia juga tahu bahwa sejak Rasulullah merapatkan kedua jarinya, dunia sesungguhnya sudah berada di penghujung Selasar Terakhir.

​Cerita tentang dunia mungkin akan berakhir dalam kehancuran, namun bagi Haris, cerita tentang perjalanannya menuju Tuhan baru saja benar-benar dimulai. Di bawah selimut malam, ia memejamkan mata, bersiap untuk bangun di esok hari sebagai manusia yang lebih baik, setidaknya sebelum sangkakala itu benar-benar bergema dan meruntuhkan segala yang fana.

Pada akhirnya, kehidupan hanyalah sebuah istirahah singkat di bawah pohon yang rindang sebelum perjalanan panjang kembali dilanjutkan. Haris kini menyadari bahwa dunia yang ia pijak, dengan segala hiruk-pikuk dan kemegahannya, tak lebih dari sehelai sayap nyamuk di hadapan keagungan hari yang dijanjikan. Yaumul Fasl bukan lagi sekadar terminologi teologi yang ia dengar di bangku madrasah, melainkan sebuah kepastian eksistensial yang membayangi setiap embusan napasnya. Ia mengerti bahwa setiap detik yang terbuang dalam kelalaian adalah langkah kaki yang semakin menjauh dari keselamatan saat Suri pertama kali menggetarkan jagat raya.

​Ketakutan yang sempat menghimpit dadanya kini telah bertransformasi menjadi sebuah muraqabah—kesadaran mendalam bahwa ia selalu berada dalam pengawasan Sang Khalik. Ia tidak lagi memandang kiamat sebagai horor kehancuran kosmik semata, melainkan sebagai momen al-Haqq di mana segala kebenaran akan tersingkap dan segala kebatilan akan musnah. Bayangan tentang tiupan Nafkhatul Ba’ats yang membangkitkan miliaran jiwa tanpa nasab dan pertalian keluarga, menyadarkannya bahwa di hadapan Allah, manusia benar-benar berdiri sendiri-sendiri dengan beban amalnya masing-masing. Falaa ansaba bainahum—sebuah kalimat yang terus terngiang sebagai peringatan bahwa investasi terbaik bukanlah harta yang ia tumpuk, melainkan sujud yang ia ikhlaskan.

​Dunia mungkin sedang berlari menuju titik nadir kehancurannya. Islam mungkin akan memudar seperti atsar pada pakaian yang usang, dan mushaf mungkin akan diangkat kembali ke langit meninggalkan lembaran-lembaran bisu. Namun, selama sangkakala belum bergema, Haris memilih untuk menjadi penjaga api yang tersisa. Ia tidak ingin menjadi bagian dari mereka yang hanya membeo Laa ilaaha illallah di sisa umur dunia tanpa memahami hakikatnya. Ia ingin kalimat itu terhujam di jantungnya, menjadi kompas saat seluruh arah mata angin di dunia ini telah menyesatkan.

​Kini, setiap kali ia merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya, ia akan teringat betapa tipisnya tabir antara dirinya dengan keabadian. Kiamat itu la raiba fiha, tidak ada keraguan padanya. Kepastian ini tidak lagi membuatnya lumpuh, melainkan membuatnya tegak untuk mengisi selasar terakhir ini dengan amal-amal yang akan menjadi syafaat di Padang Mahsyar nanti. Di tengah dunia yang sedang menuju senjanya, Haris telah menemukan fajar di dalam jiwanya—sebuah kesiapan untuk menyambut seruan-Nya, kapan pun sangkakala itu diputuskan untuk bergema. Sebab pada hakikatnya, bukan dunia yang sedang berakhir, melainkan perjalanan pulang yang baru saja menemukan pintunya.

Posting Komentar

0 Komentar