Cerpen berjudul Memutar Sauh di Arus Masa: Sepuluh Tahun yang Tak Pernah Benar-benar Pergi ini mengisahkan tentang sebuah perjalanan retrogresi memori yang dialami oleh Daffa, seorang mahasiswa semester enam jurusan Tadris Bahasa Indonesia di Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Narasi bermula ketika Daffa terjebak dalam sebuah trend viral di media sosial tahun 2026 bertajuk "2016 was 10 years ago", sebuah tantangan yang memaksanya melakukan glance back ke masa sepuluh tahun silam saat ia masih duduk di kelas 5 SD Negeri Kepuhrubuh. Melalui kolase empat foto program legendaris Trans7—Spotlite dengan nuansa biru mudanya yang menenangkan, Wow Indonesia yang sarat akan kebanggaan nasional, aksi illusionist Russell Rich dalam Fatamorgana, serta format ikonik On The Spot—Daffa mengalami epifani tentang bagaimana tontonan akhir pekan tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah safe space dan fondasi imajinasi yang membentuk jati dirinya sebagai calon sarjana sastra.
Cerpen ini secara mendalam mengeksplorasi konflik internal berupa cognitive dissonance yang dialami Daffa; pertentangan antara tuntutan dunia dewasa yang dipenuhi diktum sastra yang rumit dengan kerinduan akan kesederhanaan hidup di Desa Kepuhrubuh tahun 2016. Dengan menggunakan gaya bahasa yang puitis dan reflektif, cerita ini menggambarkan sebuah pilgrimage harian antara kampus dan rumah, di mana setiap sudut jalanan Ponorogo menjadi saksi proses re-contextualization atas masa lalu. Pada akhirnya, kisah ini merupakan sebuah manifesto bahwa nostalgia bukanlah sebuah beban anakronis, melainkan sebuah sauh yang menjaga kewarasan manusia di tengah derasnya arus waktu. Melalui tokoh Daffa, pembaca diajak menyadari bahwa setiap individu adalah sebuah palimpsest, di mana jejak masa kecil akan selalu membekas dan memberikan ritme yang konstan bagi langkah menuju masa depan.
Layar smartphone di genggamanku berpendar terang, menampilkan kolom Instastory yang siap diisi. Di bagian atas, bertengger sebuah stiker Add Yours yang sedang viral: "2016 was 10 years ago. Post you in 2016."
Aku tertegun sejenak. Jari-jariku yang biasanya lincah mengetik analisis strukturalisme untuk tugas kuliah Tadris Bahasa Indonesia, kini mendadak kaku. Sepuluh tahun. Angka itu terasa seperti sebuah gertakan. Bagaimana mungkin waktu melesat secepat anak panah yang lepas dari busurnya?
"Daf, belum pulang? Matkul Menyimak sudah selesai dari tadi, lho," tegur sebuah suara.
Aku mendongak, mendapati kawan sekelasku berdiri di ambang pintu kelas Universitas Islam Negeri Kiai Ageng Muhammad Besari. "Bentar, dikit lagi. Mau milih foto buat challenge di Instagram," jawabku sambil tersenyum tipis.
"Oalah, tren tahun 2016 itu ya? Zaman kita masih pakai seragam merah putih," sahutnya sambil tertawa lalu beranjak pergi.
Aku kembali menatap layar. Tahun 2026 ini, sebagai mahasiswa semester enam yang setiap hari melaju pulang-pergi dari Desa Kepuhrubuh menuju kampus di Ponorogo, hidupku dipenuhi dengan diktum-diktum sastra dan kurikulum. Namun, di dalam galeri ponselku, aku menyimpan sebuah folder khusus bertajuk Nostalgia. Aku tidak ingin mengunggah foto diriku yang masih ingusan. Aku ingin mengunggah "jiwa" dari tahun 2016-ku.
Pikiranku terseret mundur. Déjà vu.
Sabtu pagi, awal tahun 2016. Aku masih duduk di kelas 5 SD Negeri Kepuhrubuh, semester kedua yang penuh dengan janji-janji bermain. Pukul 10.25 WIB, bel sekolah berbunyi nyaring, membebaskan kami dari jerat rumus matematika. Aku berlari kencang menuju rumah, debu-debu jalanan pedesaan menempel di kaus kaki putihku yang sudah mulai melar.
"Mak, Daffa pulang!" teriakku sembari melempar tas di kursi kayu.
Tanganku segera meraih remote televisi tabung di ruang tengah, menekan tombol angka yang mengarah ke saluran Trans7. Tepat waktu. Pukul 10.30 WIB, lagu pembuka yang ceria dengan visual dominan warna biru muda muncul di layar.
"Nah, ini dia! Spotlite," gumamku puas.
"Daf, ganti baju dulu! Jangan cuma nonton TV terus," teriak Ibu dari dapur.
"Bentar, Mak! Ini lagi bahas video viral kucing pintar, unik banget!" sahutku tanpa mengalihkan pandangan.
Acara itu terasa sangat segar, mungkin karena tone warnanya yang biru cerah, sangat cocok dengan suasana Sabtu pagi yang santai. Berbeda dengan On The Spot yang punya format "7 hal ter-", Spotlite terasa lebih random dan mengalir apa adanya.
Ingatanku terus berputar. Sabtu adalah hari keramat bagi televisiku. Sore harinya, tepat pukul 17.00 WIB, aku akan duduk manis menyaksikan Wow Indonesia. Ada rasa bangga yang membuncah setiap kali narator membahas prestasi anak bangsa atau tempat-tempat eksotis di kancah dunia. Namun, yang paling aku tunggu adalah transisi menuju malam.
Setelah Wow Indonesia, Russell Rich dan Andy Garcia akan muncul di acara Fatamorgana.
"Lihat ini, Mak! Dia bisa memindahkan benda hanya dengan tangan kosong!" seruku heboh saat melihat Russell Rich melakukan aksinya.
"Itu trik kamera, Daf. Namanya juga illusionist," komentar Kakakku yang sedang membaca buku di sampingku.
"Tapi kelihatan nyata banget! Bukan sulap bukan sihir, hanya fatamorgana," balasku menirukan tagline mereka, sambil tertawa melihat ekspresi lucu Andy Garcia yang seringkali menjadi penyeimbang suasana.
Dan puncaknya, saat magrib telah lewat, suara soundtrack misterius On The Spot Weekend akan menggema. Saat itu, mereka masih menggunakan Opening Background Bridge (OBB) lama versi 2011-2015 yang sangat ikonik dan membekas di telinga, berbeda dengan versi baru yang mulai dipakai di hari kerja.
Kembali ke tahun 2026, di pojok kantin kampus, aku menghela napas panjang. Aku mulai menyusun empat foto kolase dalam story-ku: cuplikan layar biru muda Spotlite, kemegahan Wow Indonesia, trik kamera Russell Rich di Fatamorgana, dan tentu saja logo tujuh angka legendaris On The Spot.
Aku mengetikkan sebuah caption dengan gaya bahasa yang sedikit puitis, sisi mahasiwa sastraku mulai mengambil alih:
"Memutar kembali sauh ke tahun 2016. Saat bahagia sesederhana menunggu jam tayang Trans7 sepulang sekolah di Kepuhrubuh. Sepuluh tahun berlalu, tapi frekuensi kenangannya masih tertangkap jelas di kepala."
Aku menekan tombol Share. Di luar, langit Ponorogo mulai meredup, namun di dalam kepalaku, Sabtu pagi tahun 2016 itu baru saja dimulai kembali.
Setelah tombol Share kuklik, lingkaran merah muda melingkari foto profilku. Unggahan itu mengudara, melepaskan ribuan serpihan memori yang selama ini tersimpan rapi di folder otak paling belakang. Tak butuh waktu lama hingga notifikasi mulai bermunculan. Namun, di tengah keriuhan digital itu, aku justru merasa terlempar ke dalam sebuah limbo. Aku berada di sana, di antara bangku kuliah yang dingin dan kursi kayu ruang tengah rumahku di Kepuhrubuh sepuluh tahun silam.
"Daf, serius amat? Lagi nunggu balasan dari dosen pembimbing atau nunggu update skor bola?"
Suara itu membuyarkan lamunanku. Fajar, kawan akrabku yang juga sesama peminat sastra, menarik kursi di hadapanku. Ia melirik layar ponselku yang masih menampilkan potret Russell Rich di acara Fatamorgana.
"Bukan, Jar. Cuma lagi terjebak di tahun 2016. Kau ingat acara ini?" tanyaku sambil mengarahkan layar ponsel ke arahnya.
Fajar menyipitkan mata. "Wah, Fatamorgana! Yang host-nya Andy Garcia itu, kan? Yang trik-triknya sering dibilang camera trick tapi tetap saja kita tonton sampai melongo. Dulu aku sering berdebat sama adikku gara-gara ini. Dia percaya itu sihir, aku percaya itu cuma editing."
Aku tertawa, sebuah tawa yang sarat akan nostalgia. "Persis seperti kakakku dulu. Tapi bagiku yang masih kelas 5 SD, keajaiban itu nyata. Menonton Russell Rich melakukan illusionist act setiap Sabtu jam setengah enam sore adalah sebuah pelarian. Di Kepuhrubuh, hiburan kami ya cuma itu, TV tabung dan imajinasi."
"Tapi jujur ya, Daf," Fajar menyandarkan punggungnya, matanya menatap langit-langit kantin. "2016 itu terasa seperti the last golden era sebelum semuanya pindah ke algoritma pendek seperti sekarang. Dulu kita punya jadwal tetap. Sabtu jam sepuluh pagi pulang sekolah, langsung nunggu Spotlite. Warna biru mudanya itu lho, menenangkan banget, ya?"
"Iya, soothing banget," timpalku cepat. "Padahal isinya cuma informasi random, tapi entah kenapa terasa lebih berbobot daripada scrolling video pendek sekarang. Ada semacam bond antara kita dengan jadwal acara televisi. Kita belajar menghargai waktu karena kita tahu On The Spot nggak akan menunggu kita selesai mandi."
Kami terdiam sejenak. Di sekeliling kami, mahasiswa lain sibuk dengan laptop mereka, mengerjakan tugas linguistik atau sekadar mabar game online. Realitas 2026 mendesak masuk, namun aku masih enggan beranjak dari frekuensi 2016.
"Sekarang kita sudah jadi mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia semester enam," gumamku, lebih kepada diriku sendiri. "Kita belajar aestheticism, belajar teori sastra, tapi kadang aku merasa kosa kata yang aku pelajari di kampus tak cukup mampu mendeskripsikan betapa 'megahnya' perasaan bangga saat menonton Wow Indonesia jam lima sore dulu. Melihat Indonesia dipuji dunia lewat layar kaca itu... rasanya seperti kita ikut berdiri di sana."
Fajar tersenyum simpul. "Itulah sastra yang sebenarnya, Daf. Sastra bukan cuma di buku. Memorimu tentang 2016 itu adalah narasi yang kamu tulis sendiri. Tapi, apa kamu nggak merasa... asing? Maksudku, jarak sepuluh tahun itu jauh. Kepuhrubuh yang sekarang sudah beda dengan yang dulu."
Aku mengangguk pelan. Pertanyaan Fajar menghantamku tepat di ulu hati. Memang benar, perjalananku pulang-pergi Kepuhrubuh-Ponorogo setiap hari menunjukkan banyak perubahan. Sawah-sawah yang dulu sering kulewati saat pulang sekolah kini mulai berganti menjadi deretan ruko. Namun, setiap kali aku mendengar Opening Background Bridge (OBB) lama On The Spot di YouTube, aku merasa masih menjadi anak kecil yang sama.
"Justru itu masalahnya, Jar," balasku dengan nada serius. "Ada sebuah cognitive dissonance. Di satu sisi, aku harus bersikap dewasa, menganalisis puisi-puisi Sapardi atau Goenawan Mohamad. Di sisi lain, aku masih Daffa kecil yang hafal betul kalau jam 19.15 di hari kerja itu jatahnya On The Spot versi baru, sementara hari Sabtu kita tetap setia dengan format lama di jam enam sore. Aku seperti hidup di dua garis waktu yang bersilangan."
Aku kembali menatap unggahanku. Beberapa komentar masuk. “Wah, kangen banget masa-masa ini!” atau “Dulu rela lari-lari sepulang sekolah biar nggak ketinggalan Spotlite!”
"Ternyata aku nggak sendirian," kataku pelan. "Banyak dari kita yang sedang 'memutar sauh'. Kita bukan gagal move on, kita hanya sedang mengisi ulang energi dari masa di mana beban terberat kita hanyalah mengerjakan PR Matematika sebelum jam tayang favorit dimulai."
Fajar menepuk bahuku. "Yah, selamat datang di kedewasaan, Daf. Di mana kita hanya bisa menonton masa lalu lewat layar 6 inci, bukan lagi layar cembung 21 inci. Ayo balik, kelas Sastra Bandingan mau dimulai. Jangan sampai kau kena fatamorgana di kantin ini terus."
Aku mengemasi tas, namun pandanganku sempat tertuju pada satu foto di kolaseku: logo On The Spot. Dalam hati, aku berjanji pada Daffa kecil di tahun 2016, bahwa meski dunia berubah dan aku kini bergelut dengan teori-teori sastra yang rumit, Sabtu pagi di Kepuhrubuh itu tak akan pernah benar-benar mati. Ia akan tetap menjadi naskah paling indah yang pernah kutulis dalam hidupku.
Langkahku terasa berat saat menyusuri koridor kampus menuju tempat parkir. Meski Fajar sudah mengajakku kembali ke realitas, percakapan tadi justru menyisakan lubang besar di dada. Aku menghidupkan mesin motor, memulai perjalanan rutin sejauh belasan kilometer menuju Desa Kepuhrubuh. Di sepanjang jalan, angin Ponorogo menerpa wajah, namun pikiranku justru melakukan retrogresi hebat. Aku bukan lagi mahasiswa semester enam yang sedang memikirkan skripsi; aku adalah anak kecil dengan seragam yang penuh keringat.
Tiba di rumah, suasana hening. Aku melangkah ke ruang tengah, tempat di mana televisi tabung itu dulu bertahta. Kini, posisinya telah digantikan oleh televisi layar datar yang tipis dan dingin. Aku duduk di kursi kayu yang sama—kursi yang dulu menjadi saksi bisu betapa antusiasnya aku menunggu pukul 10.30 WIB untuk menyaksikan Spotlite.
Aku merogoh ponsel, melihat kembali unggahan Instastory-ku. Notifikasi masih terus mengalir, tetapi ada satu komentar dari kakakku yang membuat dadaku sesak: "Daf, ingat tidak? Dulu kamu sampai menangis kalau listrik padam pas jamnya Fatamorgana."
Aku tersenyum getir. Mataku memanas. Di sinilah letak disekuilibrium itu. Sebagai mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, aku sering menganalisis tentang metafora dan citraan dalam puisi, namun aku baru menyadari bahwa hidupku sendiri adalah sebuah alusi yang panjang terhadap tahun 2016.
"Daffa? Sudah pulang, Le?" suara Ibu memecah keheningan. Beliau muncul dari dapur, menyeka tangan dengan celemek. "Kok melamun di depan TV mati?"
"Mak," panggilku lirih. "Mak ingat tidak dulu Daffa setiap Sabtu jam sepuluh pagi langsung lari ke depan TV? Nonton acara yang warnanya biru muda itu?"
Ibu terkekeh, duduk di sampingku. "Ya ingat, toh. Kamu sampai tidak mau makan kalau belum selesai menonton video kucing-kucing itu. Kenapa? Kok tiba-tiba tanya begitu?"
"Tadi di kampus ada tantangan di media sosial, Mak. Mengingat kejadian sepuluh tahun lalu," jawabku. "Tiba-tiba rasanya... 2016 itu jauh sekali, tapi kenapa rasanya lebih nyata daripada sekarang? Sekarang Daffa sibuk kuliah, sibuk jadi orang dewasa, tapi rasanya ada yang hilang. Dulu, bahagia itu cuma sesederhana dengar musik pembuka On The Spot yang lama."
Aku terdiam, tenggelam dalam kontemplasi. Klimaks dari kegelisahan ini memuncak saat aku menyadari bahwa aku sedang merindukan sebuah kepastian. Di tahun 2016, hidup terasa pasti: Sabtu pagi adalah Spotlite, sore adalah Wow Indonesia dan Fatamorgana, lalu malam ditutup dengan On The Spot Weekend. Tidak ada algoritma yang memaksa, tidak ada informasi yang tumpang tindih. Hanya ada aku, frekuensi Trans7, dan imajinasi masa kecil.
"Daf," Ibu memegang bahuku lembut. "Waktu itu memang tidak bisa diputar balik, seperti fatamorgana yang kamu tonton dulu. Kelihatannya nyata, tapi sebenarnya sudah lewat. Tapi ilmu sastra yang kamu pelajari sekarang itu kan gunanya untuk mengabadikan rasa, bukan?"
Kata-kata Ibu menghantamku. Inilah epifani yang kucari. Sebagai calon sarjana sastra, aku menyadari bahwa memori 2016 ini bukan sekadar nostalgia melankolis, melainkan sebuah arkaisme personal yang membentuk jati diriku.
Aku kembali menatap layar ponselku. Di sana, gambar Russell Rich dan Andy Garcia seolah melambaikan tangan dari masa lalu. Aku menyadari bahwa meski aku kini berada di tahun 2026, bergelut dengan genre sastra dan kurikulum pendidikan, anak kecil yang berlari pulang dari SD Negeri Kepuhrubuh itu masih ada di dalam diriku. Ia tidak hilang; ia hanya sedang bernaung di bawah diksi-diksi yang kini kususun.
"Benar, Mak," gumamku sambil mengusap sudut mata. "Sepuluh tahun itu mungkin mengubah angka, tapi tidak mengubah frekuensi di hati."
Aku membuka aplikasi catatan di ponsel, jemariku mulai menari lincah. Aku tidak lagi menulis tugas kuliah, melainkan bait-bait puisi tentang sebuah layar cembung, tentang warna biru muda di Sabtu pagi, dan tentang bagaimana sebuah acara televisi bisa menjadi sauh yang menjaga kewarasanku di tengah arus masa yang kian menderu.
Malam mulai jatuh di Desa Kepuhrubuh. Aku duduk di teras rumah, memandangi jalanan aspal yang kini diterangi lampu jalan LED, sangat berbeda dengan temaram lampu kuning sepuluh tahun silam. Ponsel di genggamanku masih bergetar, namun hiruk-pikuk digital itu kini terasa seperti latar suara yang jauh. Aku telah selesai dengan kegelisahanku; katarsis itu akhirnya datang.
Aku membuka kembali aplikasi Instagram, melihat deretan foto yang kuunggah tadi. Empat jendela menuju masa lalu. Aku menyentuh layar pada gambar Spotlite, lalu beralih ke logo On The Spot.
"Daf, kopinya diminum dulu. Malah bengong lagi," Kakakku tiba-tiba muncul dan meletakkan cangkir di meja kayu. Ia melirik layar ponselku. "Masih bahas postingan itu? Kamu benar-benar puitis ya di caption-nya. Mahasiswa sastra memang beda."
Aku tersenyum, kali ini tanpa beban. "Bukan puitis, Mbak. Aku cuma sedang melakukan re-contextualization. Mencoba memahami kenapa memori tentang Trans7 tahun 2016 itu begitu kuat mengikatku."
"Lalu, ketemu jawabannya?" tanyanya sambil duduk di kursi sebelah.
"Ketemu," jawabku mantap. "Ternyata, 2016 bukan sekadar angka atau deretan program TV. Itu adalah safe space. Saat aku menonton Russell Rich di Fatamorgana atau bangga melihat Wow Indonesia, aku sedang membangun fondasi imajinasiku. Tanpa rasa ingin tahu yang dipupuk acara-acara itu, mungkin aku tidak akan pernah mengambil jurusan Tadris Bahasa Indonesia. Aku jatuh cinta pada narasi karena mereka."
Kakakku mengangguk-angguk. "Jadi, tantangan '10 tahun yang lalu' itu bukan buat bikin sedih karena kita sudah tua?"
"Bukan," aku terkekeh. "Justru itu cara kita melakukan glance back untuk memastikan bahwa 'sauh' kita masih terikat kuat. Biarpun sekarang aku harus bolak-balik Kepuhrubuh-Ponorogo buat kuliah, aku tahu ke mana harus pulang kalau dunia mulai terasa terlalu bising."
Aku kembali menatap layar ponsel, lalu jemariku bergerak lincah menambahkan satu lagi Instastory tambahan berupa teks sederhana di atas latar hitam yang elegan:
"2016 tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya bertransformasi menjadi energi yang menggerakkan jemariku menyusun diksi hari ini. Terima kasih, Trans7, telah menjadi bagian dari kurikulum masa kecilku yang paling berharga."
Setelah menekan tombol post, aku meletakkan ponsel itu di meja. Aku tidak lagi merasa terasing di tahun 2026. Aku menyadari bahwa menjadi dewasa bukanlah tentang membunuh anak kecil yang ada di dalam diri, melainkan memberinya tempat duduk paling nyaman untuk menyaksikan kita tumbuh.
Suara jangkrik di sawah Kepuhrubuh mulai bersahut-sahutan, menciptakan simfoni alam yang menenangkan. Besok adalah hari Senin, aku harus kembali ke kampus UIN Kiai Ageng Muhammad Besari untuk membedah teori sastra yang lebih rumit. Namun, aku tidak takut lagi.
Sebab, di dalam kepalaku, musik pembuka On The Spot versi lama itu masih berputar, memberikan ritme yang konstan bagi langkahku. Aku telah berhasil memutar sauh, bukan untuk berhenti, melainkan untuk memastikan bahwa di arus masa yang paling deras sekalipun, aku tidak akan pernah kehilangan arah.
Malam di Kepuhrubuh kian larut, menyisakan kesunyian yang hanya dipecah oleh suara mesin kendaraan sesekali di kejauhan. Aku masih tertahan di teras, membiarkan dinginnya udara pedesaan meresap ke dalam pori-pori. Di depanku, sebuah buku antologi puisi tergeletak pasrah, namun pikiranku justru sedang menyusun sebuah epilogue yang jauh lebih personal daripada sekadar tugas kuliah.
Aku meraih ponsel untuk terakhir kalinya sebelum beristirahat. Kulihat jumlah penonton Instastory-ku terus bertambah. Ternyata, banyak kawan seangkatan di UIN Ponorogo yang merasakan hal serupa. Mereka terperangkap dalam liminal space antara tugas linguistik yang menumpuk dan memori masa kecil yang menggebu.
"Belum tidur, Daf?" suara Bapak terdengar dari balik pintu jati yang sedikit berderit. Beliau melangkah keluar, mengenakan sarung yang tersampir di bahu.
"Belum, Pak. Masih asyik memutar memori sepuluh tahun lalu," jawabku sembari menggeser duduk, memberi ruang bagi beliau.
Bapak menatap layar ponselku, melihat cuplikan OBB lama On The Spot yang sedang kuputar ulang melalui sebuah tautan di direct message. "Oalah, acara tujuh-tujuh itu ya? Bapak ingat dulu kamu sering protes kalau Bapak mau lihat berita, padahal itu jamnya Wow Indonesia."
Aku tertawa renyah, "Iya, Pak. Daffa dulu merasa kalau ketinggalan satu segmen saja, rasanya seperti kehilangan satu bab dalam hidup. Daffa baru sadar, Pak, ternyata hobi Daffa menganalisis teks sastra sekarang itu akarnya dari sana. Dari rasa ingin tahu yang dipantik lewat televisi tabung kita dulu."
Bapak menepuk lututku pelan. "Ya itu bagus. Hidup itu seperti palimpsest, Daf. Tulisan lama mungkin ditimpa tulisan baru, tapi bekasnya tetap ada. Kuliahmu di Tadris Bahasa Indonesia itu tulisan barunya, tapi dasarnya ya masa kecilmu di Kepuhrubuh ini."
Kalimat Bapak barusan adalah sebuah aphorism yang luar biasa bagi mahasiswa sastra sepertiku. Aku menyadari bahwa perjalananku pulang-pergi setiap Senin sampai Kamis menuju kampus bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah pilgrimage harian. Setiap kali aku melewati gerbang desa, aku merasa sedang melintasi gerbang waktu.
"Dulu jam sepuluh pagi hari Sabtu itu seperti gerbang menuju dunia lain bagi Daffa, Pak. Dari SD Negeri Kepuhrubuh lari pulang demi Spotlite. Warna biru mudanya itu... masih terbayang sampai sekarang," gumamku.
"Sekarang kamu sudah semester enam," Bapak mengingatkan dengan nada bangga. "Sebentar lagi jadi sarjana. Jangan sampai nostalgia ini cuma bikin kamu berhenti di tempat. Jadikan itu bahan bakarmu."
Aku mengangguk mantap. Aku teringat pada sosok Russell Rich di Fatamorgana. Mungkin hidup memang sering kali tampak seperti trik kamera—sebuah illusionist act yang membuat waktu terasa melompat dari 2016 ke 2026 dalam sekejap mata. Namun, rasa bangga yang kutonton di Wow Indonesia dan keteraturan format "7" di On The Spot telah membentuk struktur berpikirku yang kini begitu mencintai keteraturan bahasa.
Aku berdiri, menyalami Bapak, lalu melangkah masuk ke kamar. Sebelum memejamkan mata, aku membayangkan diriku sepuluh tahun ke depan, di tahun 2036. Mungkin saat itu aku akan kembali melihat unggahan ini dan tersenyum.
Kenangan tentang Trans7 di tahun 2016 bukan lagi sekadar tontonan, melainkan sebuah intertextuality yang menyatu dengan jiwaku. Aku adalah Daffa, mahasiswa sastra dari Kepuhrubuh yang besar bersama narasi-narasi unik di layar kaca. Dan meski sauh telah kuputar berkali-kali di arus masa yang deras, aku tahu hatiku akan selalu tertambat pada frekuensi yang sama—sebuah frekuensi sederhana di Sabtu pagi yang tak akan pernah benar-benar pergi.
Pada akhirnya, tantangan "2016 was 10 years ago" bukan sekadar ajang pamer memorabilia digital di media sosial. Bagiku, ia adalah sebuah memento mori sekaligus memento vivere—pengingat bahwa waktu memang mematikan, namun kenanganlah yang membuatnya tetap hidup. Sepuluh tahun telah mentransformasi bocah kelas 5 SD Negeri Kepuhrubuh yang gemar berlari mengejar jam tayang Spotlite, menjadi seorang mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia yang kini sibuk membedah semiotika kehidupan.
Ada sebuah amanat tersirat yang kudapati di antara deru mesin motor saat menempuh rute Ponorogo-Kepuhrubuh: bahwa menjadi dewasa tidak mengharuskan kita melakukan dekonstruksi total terhadap masa kecil. Kita sering kali terlalu ambisius mengejar masa depan hingga menganggap nostalgia sebagai beban anakronis yang menghambat kemajuan. Padahal, memori tentang Wow Indonesia yang membanggakan atau trik kamera di Fatamorgana adalah subteks yang membentuk karakter, rasa ingin tahu, dan daya imajinasi kita hari ini.
Hidup memang sering kali beroperasi seperti Opening Background Bridge (OBB) lama On The Spot; ada ritme yang berulang, ada misteri di setiap segmennya, dan ada batasan durasi yang memaksa kita untuk menghargai setiap detiknya. Keempat program televisi itu bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah manifesto sederhana bahwa kebahagiaan tidak butuh kemewahan algoritma, melainkan hanya butuh kehadiran yang utuh.
Maka, biarlah 2016 tetap menjadi sauh yang tertanam kuat di dasar batin. Sebab, seberapa jauh pun kita berlayar mengarungi samudra kedewasaan, kita selalu butuh satu titik koordinat untuk pulang dan menyadari bahwa diri kita yang sekarang adalah akumulasi dari tawa-tawa kecil di depan televisi tabung sepuluh tahun yang lalu. Waktu boleh melesat, frekuensi boleh berganti, namun esensi dari Sabtu pagi di Kepuhrubuh akan selalu menjadi naskah paling otentik yang pernah ditulis oleh takdir.

0 Komentar