Bingkai Rindu di Bumi Reog: Saat Semua Pulang ke Rumah (Versi Perluasan) mengisahkan tentang sebuah perjalanan pulang yang melampaui sekadar tradisi mudik tahunan. Cerita ini merupakan representasi mendalam dari narasi sebelumnya dengan judul yang sama, namun kini hadir dalam cakupan yang lebih luas, detail, dan emosional. Berlatar di kediaman Nenek Sudarmi di Desa Kepuhrubuh, Kecamatan Siman, Ponorogo, kisah ini memotret dinamika keluarga besar yang datang dari berbagai penjuru—mulai dari Pak Slamet Mulyanto yang menempuh perjalanan jauh dari Jakarta, hingga rombongan Radit, Bu Yuli, dan Om Ratono yang datang dari Tegal.
Versi perluasan ini secara jeli menggambarkan bagaimana spektrum emosi manusia bertabrakan dalam waktu singkat; dimulai dari sukacita euphoria perayaan tahun baru 2026, hingga duka mendalam saat kabar berpulangnya Mbah Tohari di Desa Jabung memaksa keluarga ini berdiri dalam saf-saf layat yang sunyi. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Daffa, Nara, Bagas, Aiko, serta dukungan dari keluarga Om Anton Rifa'i dan Bu Nita, memperkaya jalinan cerita tentang arti kebersamaan.
Dengan sentuhan teknologi Artificial Intelligence sebagai medium pengikat rindu dan interaksi hangat dengan warga lokal seperti Bu Khomsatun, cerpen ini menegaskan bahwa keluarga adalah sebuah sanctuary yang abadi. Melalui narasi yang lebih panjang, pembaca diajak menyelami setiap detail sensori dan batin, membuktikan bahwa sejauh apa pun langkah kaki merantau, rumah dan kasih sayang keluarga adalah tujuan akhir yang selalu memiliki cara untuk memanggil kita kembali.
Sisa hujan semalam masih meninggalkan aroma tanah basah—petrichor—yang menusuk hingga ke dalam tulang. Udara dingin Kota Madiun terasa lebih menggigit dari biasanya saat jam digital di dasbor mobil menunjukkan pukul 03.45 WIB. Di dalam kabin mobil Datsun putih yang melaju membelah kesunyian jalanan menuju Stasiun Madiun, Om Anton Rifa’i sesekali membetulkan letak kacamatanya yang sedikit berembun. Fokusnya tertuju pada aspal hitam yang masih tampak mengkilap terpapar lampu jalanan yang remang.
Di sampingnya, Bu Nita sibuk mengecek layar ponselnya yang berpendar terang, memastikan pesan terakhir yang masuk di grup keluarga. "Sudah sampai mana, Pak? Kereta Kaligung dari Tegal bukannya jadwalnya sebelum subuh begini, ya? Takutnya mereka sudah turun dan bingung mencari kita," tanya Bu Nita dengan nada cemas yang tak bisa disembunyikan.
"Iya, Bu. Tenang saja, ini sudah dekat stasiun. Lagipula Mas Ratono tadi sudah memberi kabar dari Jakarta kalau anak istrinya sudah hampir sampai di Madiun," jawab Om Anton dengan nada tenang, berusaha menenangkan istrinya. Meski Om Ratono—kakak dari Om Anton yang bekerja di Jakarta—tidak bisa ikut dalam rombongan kereta, ia terus memantau perjalanan Bu Yuli dan Radit dari kejauhan.
Setibanya di area penjemputan stasiun yang mulai menggeliat, sosok yang dinanti akhirnya muncul dari balik pintu keluar peron. Radit, remaja laki-laki yang kini tampak lebih tinggi, mengenakan jaket hoodie tebal dan memanggul tas punggung besar yang terlihat penuh. Di sampingnya, berjalan dengan langkah mantap namun lelah, adalah Bu Yuli. Senyum merekah di wajah mereka berdua saat menangkap lambaian tangan Om Anton. Lelah perjalanan panjang dari Tegal seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan sambutan keluarga di tanah perantauan.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di Jawa Timur!" seru Radit dengan suara serak khas bangun tidur, namun penuh semangat. Ia segera menyalami Om Anton dan Bu Nita dengan takzim, mencium tangan mereka sebagai bentuk hormat.
"Ayo, segera masuk mobil. Barang-barangnya biar ditaruh di bagasi dulu. Kita kejar subuh di rumah Ponorogo saja, supaya bisa segera istirahat dan sarapan bareng Nenek Sudarmi," ajak Bu Nita hangat sambil merangkul pundak kakak iparnya, Bu Yuli.
Mobil Datsun putih itu pun meluncur meninggalkan Madiun tepat saat azan subuh mulai berkumandang lamat-lamat dari kejauhan. Mereka tiba di kediaman keluarga besar di Ponorogo tepat saat langit mulai berubah warna menjadi ungu kebiruan—twilight.
Kepulangan Radit dan Bu Yuli pada tanggal 21 Desember 2025 itu menjadi pemicu riuhnya rumah keluarga besar di Bumi Reog. Suasana rumah Nenek Sudarmi yang biasanya sunyi, seketika berubah menjadi pusat gravitasi bagi seluruh anggota keluarga. Nenek Sudarmi sudah menunggu di ambang pintu dengan senyum paling tulus yang ia miliki.
Bagi Daffa, kepulangan Radit adalah kepingan puzzle yang ia nantikan. Kedatangan sepupunya itu berarti lengkaplah sudah formasi mereka. Bersama Bagas—saudara sepupu yang memang tinggal di Ponorogo—ketiganya telah siap menjelma menjadi trio yang tak terpisahkan, siap mengukir cerita baru di tanah kelahiran para ksatria Reog. Dari dalam rumah, terdengar suara Aiko yang berlarian menyambut kakaknya, menambah semarak suasana kepulangan yang penuh haru tersebut.
Kehadiran Radit di rumah Ponorogo seolah menyuntikkan energi baru bagi Daffa dan Bagas. Rumah Nenek Sudarmi kini tak pernah sepi dari deru tawa dan obrolan khas remaja. Namun, di antara segala keriuhan itu, ada satu tradisi yang tak pernah mereka lewatkan sejak kepulangan Radit: menjaga langkah menuju rumah Tuhan.
Setiap kali suara muazin mulai membelah langit Ponorogo—terutama saat momentum syahdu Maghrib, keheningan Isya’, dan puncaknya pada prosesi ibadah shalat Jumat—ketiga pemuda ini akan segera bersiap. Bagai sebuah ritual tanpa kata, mereka akan mengenakan sarung dengan lipatan yang rapi di pinggang, memadukannya dengan baju koko, dan menyampirkan sajadah di pundak.
"Daf, Gas, ayo berangkat sekarang biar dapat shaf depan! Malu kalau sampai terlambat, apalagi kita ini tamu yang baru pulang," ajak Radit dengan semangat yang meluap-luap. Remaja asal Tegal itu sudah berdiri di ambang pintu, tampak gagah dengan kopiah hitamnya. Tiap kali waktu Maghrib tiba, dialah yang paling antusias menjadi "komando" bagi kedua sepupunya.
"Sabar, Dit! Bagas masih sibuk cari pecinya yang hilang. Tadi katanya ditaruh di atas bufet, tapi sekarang entah ke mana," sahut Daffa dari ruang tengah. Ia tertawa kecil melihat Bagas yang kelabakan, membongkar tumpukan bantal di kursi tamu sambil menggerutu pelan.
"Nah, ketemu! Ternyata terselip di balik mukena Aiko," seru Bagas lega sambil membetulkan posisi pecinya yang sedikit miring.
Mereka bertiga kemudian melangkah keluar, menyusuri jalanan aspal kecil di depan rumah. Tujuan mereka sangat dekat, hanya di seberang jalan, yaitu Masjid Ribaathu Adnin. Bangunan masjid itu tampak megah dengan lampu-lampu yang mulai menyala terang, membiaskan cahaya hangat ke arah jalanan. Meskipun jaraknya hanya beberapa langkah, mereka tetap berjalan dengan khidmat, menikmati udara sore Bumi Reog yang mulai mendingin.
Di teras rumah, Bu Yuli—ibunda Radit—memperhatikan ketiganya dengan tatapan teduh. Sebelum mereka benar-benar menyeberang, ia menyempatkan diri memberi wejangan yang selalu sama setiap harinya.
"Radit, Daffa, Bagas! Ingat ya, kalau shalat berjamaah sudah selesai, jangan langsung bubur—langsung bubar maksud Ibu. Ikutlah dzikir dan doa dulu bersama imam. Pulangnya harus bareng-bareng dengan jamaah lainnya, jangan lari-larian seperti anak kecil," pesan Bu Yuli dengan nada tegas namun penuh kasih sayang. Bagi Bu Yuli, ibadah bukan hanya soal menggugurkan kewajiban, tapi tentang ketenangan jiwa setelah salam terakhir diucapkan.
Ketiganya mengangguk serempak, memberikan gestur hormat sebelum akhirnya hilang di balik pintu masjid.
Malam itu, suasana di barisan shaf terasa lebih lengkap, meski ada ruang kosong yang masih tersisa di hati mereka. Di tengah lantunan dzikir yang menggema di dalam Masjid Ribaathu Adnin, ada doa-doa yang dipanjatkan untuk dua sosok yang masih berada di kejauhan. Om Ratono, bapak dari Radit, serta Pak Slamet Mulyanto, bapak dari Daffa, saat ini masih bergelut dengan hiruk-pikuk Jakarta. Keduanya belum bisa pulang ke Ponorogo karena urusan pekerjaan yang belum usai.
Namun, di bawah kubah masjid itu, dalam sujud yang khusyuk, Radit, Daffa, dan Bagas seolah menitipkan rindu mereka pada angin malam. Mereka tahu, tak lama lagi, formasi keluarga besar ini akan benar-benar utuh saat para bapak menyusul pulang ke pelukan Bumi Reog.
Tak hanya urusan ibadah yang menjadi perekat persaudaraan mereka, urusan perut pun menjadi agenda wajib yang tak boleh terlewatkan. Sore itu, langit Ponorogo tampak cerah dengan semburat oranye yang menawan. Setelah berdiskusi singkat di teras rumah Nenek Sudarmi, mereka bertiga memutuskan untuk berboncengan motor menuju pusat kota untuk mencari suasana baru.
"Kita ke Gacoan Ponorogo, yuk? Mumpung antreannya tidak terlalu full," usul Bagas sambil memutar-mutar kunci motornya.
Radit dan Daffa setuju. Persiapan pun dilakukan. Radit, yang meski baru beberapa hari di Ponorogo sudah mulai beradaptasi dengan jalanan setempat, dipercaya menunggangi motor Supra milik keluarga. Ia membonceng Bagas yang bertugas sebagai navigator dari jok belakang. Sementara itu, Daffa mengendarai motor Beat miliknya sendiri, melaju paling depan sebagai pemandu jalan alias road captain.
Deru mesin motor membelah jalanan kota yang mulai ramai oleh lalu lalang kendaraan di jam pulang kantor. Daffa dengan sigap membelah kemacetan kecil, diikuti Radit yang tampak konsentrasi penuh mengendalikan Supra-nya. Sesampainya di lokasi tujuan, mereka beruntung karena antrean belum mengular hingga ke area parkir.
Di dalam gerai, di tengah riuh rendah suara pengunjung yang didominasi anak muda dan aroma cabai yang menyengat hingga menusuk hidung, mereka duduk melingkar di salah satu meja kayu. Pelayan datang membawa pesanan yang sejak tadi dinanti.
Daffa, yang memang dikenal sebagai pedas-holic dan sudah terbiasa dengan kuliner ekstrem, tanpa ragu memesan mi level 6. "Level 6 itu standar minimal buat lidah orang asli sini, Dit," kelakarnya sambil mengaduk mi yang tertutup lapisan cabai merah gelap.
Bagas mengambil posisi aman di tengah dengan level 3, sementara Radit hanya berani memesan level 1. Bukan tanpa alasan, sebelum berangkat tadi, Bu Yuli sudah mewanti-wanti dengan nada tegas. "Radit, jangan aneh-aneh makannya. Perutmu itu belum terbiasa pedas Jawa Timuran. Level satu saja cukup!" pesan ibunya yang masih terngiang di telinga.
Di antara suapan mi yang panas dan pedas, tawa mereka pecah saat Radit mulai bercerita. Entah karena pengaruh capsaicin yang mulai membakar lidahnya atau memang suasana hati yang sedang riang, Radit tiba-tiba mencoba meniru dialek ngapak khas Tegal dengan nada yang sangat medok.
"Enyong neng kene kepedesan banget, Lur! Lambene nyong rasane kaya kobong!" seru Radit dengan ekspresi wajah yang kepedasan, membuat Daffa dan Bagas terpingkal-pingkal hingga hampir tersedak.
Logat ngapak yang lucu itu terdengar begitu kontras dengan suasana Bumi Reog, namun justru di situlah letak kehangatannya. Sambil sesekali mengelap keringat yang bercucuran di dahi dan menyeruput minuman dingin untuk meredakan rasa panas, mereka berbagi cerita tentang ambisi sekolah dan hobi yang sempat tertunda karena jarak.
Momen-momen sederhana di meja makan ini seolah menjadi perekat yang sangat kuat setelah sekian lama terpisah oleh bentangan kilometer antara Tegal, Jakarta, dan Ponorogo. Meskipun Om Ratono dan Pak Slamet Mulyanto masih tertahan oleh hiruk-pikuk pekerjaan di Jakarta, bagi ketiga pemuda ini, kebersamaan sore itu sudah cukup untuk sementara waktu mengobati rasa rindu yang tersimpan dalam bingkai kenangan.
Hari-hari di Bumi Reog berlalu dengan cepat, secepat deru angin yang membawa aroma sate ayam Ponorogo yang khas di sudut-sudut jalan. Keceriaan di rumah Nenek Sudarmi kian lengkap saat kalender di dinding ruang tamu mulai mendekati penghujung tahun. Pada tanggal 30 Desember 2025, suasana rumah terasa lebih emosional bagi Daffa. Selain karena atmosfer tahun baru yang mulai terasa, hari itu merupakan momen spesial: ulang tahun bapaknya, Pak Slamet Mulyanto, yang kebetulan bertepatan dengan hari kelahiran pembalap MotoGP jagoan Daffa, Enea Bastianini.
Meskipun Pak Slamet masih harus merampungkan pekerjaan di Jakarta dan belum bisa pulang hari itu, sebuah kejutan muncul dari layar ponsel yang bergetar di atas meja jati. Sebuah panggilan suara di grup keluarga besar memecah keheningan pagi yang sejuk.
"Assalamu’alaikum, semuanya. Saya sudah di jalan dari Jakarta, ini baru saja lewat tol trans Jawa. Posisi sekarang sudah masuk wilayah Jawa Tengah. Tunggu saya di Ponorogo, ya!" Suara Om Ratono, ayah dari Radit, terdengar mantap dan penuh energi meski barangkali ia sedang menahan kantuk di balik kemudi.
Mendengar suara sang anak dari pengeras suara ponsel, Nenek Sudarmi yang sedang duduk menyandarkan punggungnya langsung tersenyum lebar. Matanya yang mulai meredup seketika berbinar penuh rasa syukur. "Alhamdulillah, bapakmu menyusul, Dit. Lengkap sudah nanti kita berkumpul," ujar Nenek sambil mengelus lembut pundak cucunya, Radit, yang duduk di sampingnya.
Keesokan paginya, tepat saat fajar menyingsing dan sisa-sisa embun masih menyelimuti dedaunan, rencana penjemputan pun dimulai. Karena Om Ratono datang menggunakan bus dan turun di Stasiun Madiun sebagai titik temu terdekat, Om Anton Rifa’i segera bersiap. Berbeda dengan saat menjemput Bu Yuli dan Radit yang menggunakan mobil, kali ini Om Anton memilih menggunakan sepeda motor agar lebih gesit membelah arus lalu lintas pagi yang mulai padat oleh para pedagang pasar.
"Aku berangkat dulu, Bu. Kasihan Mas Ratono kalau menunggu terlalu lama di stasiun," pamit Om Anton kepada Bu Nita sambil mengenakan jaket tebal dan helm.
Perjalanan dari Ponorogo menuju Madiun memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang jalan, Om Anton menikmati scenery persawahan yang hijau di sisi kiri dan kanan. Setibanya di area parkir stasiun, ia melihat sosok pria dengan tas jinjing besar sedang berdiri di dekat pintu keluar. Itulah Om Ratono. Keduanya segera bersalaman erat, sebuah jabat tangan khas dua saudara yang lama tak bersua.
"Ayo, Mas, langsung naik. Kita kejar sarapan di rumah," ajak Om Anton.
Om Ratono naik ke boncengan motor dengan semangat. Sepanjang perjalanan pulang menuju Ponorogo, mereka mengobrol di atas motor, bersaing dengan deru mesin dan terpaan angin. Om Ratono bercerita betapa ia merindukan suasana ndeso setelah berbulan-bulan bergelut dengan polusi dan deadline pekerjaan di Jakarta.
Kepulangan Om Ratono seolah menjadi potongan puzzle terakhir yang melengkapi bingkai rindu keluarga besar mereka. Begitu motor berhenti di depan pagar rumah, Radit, Aiko, dan Bu Yuli langsung berlari menyambut. Pelukan hangat di teras rumah Nenek Sudarmi menjadi pemandangan yang mengharukan.
Kini, di bawah langit Ponorogo yang mulai berubah warna menjadi jingga keemasan—sebuah golden hour yang sempurna—mereka semua benar-benar bersiap menyambut malam pergantian tahun dengan formasi yang hampir sempurna. Meski Pak Slamet masih tertahan di Jakarta, kehadiran Om Ratono telah menghidupkan kembali roh di rumah itu. Rumah yang selalu menyimpan aroma kepulangan, kehangatan opor ayam buatan Nenek, dan kasih sayang yang tak pernah luntur oleh jarak.
Malam tanggal 31 Desember 2025 menjadi puncak kehangatan di rumah Nenek Sudarmi. Semburat jingga baru saja menghilang, digantikan oleh jubah malam yang membawa embun dingin khas kaki gunung. Namun, di dalam rumah, suasana justru terasa sangat kontras. Cahaya lampu gantung yang kuning keemasan memantul di atas lantai tegel tua, menciptakan atmosfer homey yang tidak bisa dibeli di kota besar mana pun.
Seluruh anggota keluarga kini telah berkumpul di ruang tengah. Meja-meja disingkirkan ke pinggir, diganti dengan hamparan karpet beludru yang luas sebagai alas untuk lesehan. Di tengah-tengah karpet, hidangan telah tertata rapi: mulai dari nasi putih yang mengepul, ayam bumbu lodho khas Mataraman, hingga sambal terasi yang aromanya membangkitkan selera. Sebagai pelengkap yang menyegarkan, Daffa dengan bangga meletakkan kontribusinya di tengah meja: satu botol besar Coca-Cola dingin yang masih berembun, sebuah sentuhan modern di tengah jamuan tradisional.
Suasana yang tadinya riuh oleh celotehan Aiko dan tawa Radit mendadak hening. Nenek Sudarmi menggeser duduknya, membetulkan letak kain jarik dan kerudungnya. Dengan suara yang sedikit bergetar karena usia namun tetap penuh wibawa, beliau memberikan isyarat untuk memulai asmaradana—sebuah momen penuh cinta dalam doa bersama.
"Ya Allah, terima kasih telah mengumpulkan kami semua di Bumi Reog ini dalam keadaan sehat. Meskipun ada yang masih berjuang di perantauan, seperti Pak Slamet di Jakarta, namun hati kami tetap satu di sini," ucap Nenek Sudarmi memulai doa dengan khidmat.
Seluruh kepala tertunduk. Bu Puji Hastuti tampak berkaca-kaca mendengar nama suaminya disebut, sementara Nara duduk tenang di samping ibunya. Nenek melanjutkan doanya dengan permohonan agar keluarga besar mereka selalu diberi kesehatan, kekuatan, keselamatan, dan kemakmuran di tahun yang akan datang. "Semoga tahun yang baru membawa berkah bagi keluarga kita dan menjadi jembatan untuk kebaikan-kebaikan selanjutnya," tutup Nenek.
"Amin..." sahut semua yang hadir secara serempak. Suara itu menggema di ruangan, menciptakan getaran spiritual yang menenangkan jiwa.
Begitu doa selesai, suasana khidmat segera mencair menjadi keriuhan yang hangat. Ritual kembul bujana—makan bersama—pun dimulai. Ruang tengah itu berubah menjadi ajang saling oper piring dan hidangan.
"Om Ratono, ini ayam lodho-nya dicoba, mumpung masih hangat!" seru Bu Nita sambil mengangsurkan piring saji. "Radit, ini sayurnya diambil, jangan mi terus yang dimakan," timpal Bu Yuli sambil memastikan piring anaknya terisi penuh.
Mereka saling berbagi, mengambil menu satu per satu sesuai selera, sambil sesekali terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Bagas dan Radit tampak asyik berebut kerupuk, sementara Aiko sibuk meminta Daffa membukakan tutup botol Coca-Cola yang tadi ia bawa.
Di sudut ruangan, Daffa tidak langsung menyentuh makanannya. Selaku kameramen handal kebanggaan RT di lingkungan rumahnya, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mendokumentasikan peristiwa ini. Ia mengambil kamera digitalnya, mencari sudut candid yang paling pas. Lewat lensa kamera, ia menangkap senyum tulus Nenek Sudarmi yang sedang memperhatikan anak cucunya makan, serta keakraban Om Anton dan Om Ratono yang sedang asyik berbincang mengenai rencana esok hari.
Daffa tersenyum di balik viewfinder-nya. Baginya, momen ini adalah masterpiece. Foto-foto ini bukan sekadar gambar diam, melainkan bukti otentik bahwa di bawah atap rumah Nenek Sudarmi, rindu yang selama ini tercecer di berbagai kota akhirnya terkumpul dan terbingkai dengan sempurna di Bumi Reog.
Sesaat setelah Isya’ berlalu, suasana di kediaman Nenek Sudarmi di Desa Kepuhrubuh, Kecamatan Siman, berubah total. Jika sebelumnya ruang tengah menjadi pusat keheningan doa, kini teras rumah yang luas dengan pilar-pilar kokohnya menjelma menjadi area family party yang semarak. Udara malam Ponorogo yang mulai menusuk tulang seolah kalah oleh kehangatan api yang mulai menyala di sudut halaman.
Kepulan asap dari panggangan mulai membumbung tinggi ke langit malam, membawa aroma gurih lemak daging yang menetes ke bara api—sebuah aroma appetizing yang menggoda selera siapa pun yang lewat di depan pagar. Om Ratono dan Om Anton tampak paling sibuk. Keduanya berbagi tugas di depan panggangan; Om Ratono dengan cekatan mengipasi bara hingga percikan apinya menari-nari, sementara Om Anton menyusun tusukan sate dan jagung manis di atas panggangan.
Di atas meja kayu panjang yang biasa digunakan Nenek untuk bersantai, Bu Yuli dan Bu Nita sedang berkolaborasi meracik bumbu. Tangan mereka lincah mengaduk bumbu kacang yang kental dan menyiapkan olesan mentega untuk jagung.
"Radit, Bagas! Jangan hanya scrolling medsos dan main game saja! Ayo ini jagungnya dibantu dibalik, jangan sampai overcooked atau malah gosong semua!" seru Bu Yuli sambil tertawa lebar, menggoda para remaja yang sedang asyik dengan ponsel masing-masing di atas lincak bambu.
Mendengar komando tersebut, Daffa segera beranjak. Ia tidak menuju panggangan, melainkan ke sudut teras untuk menyalakan sound system berukuran sedang milik Om Anton. Dengan gerakan expert, Daffa menyambungkan ponselnya melalui koneksi bluetooth. Tak lama kemudian, dentuman bas yang empuk mulai mengalun, memecah kesunyian malam pedesaan yang biasanya hanya diisi suara jangkrik.
Suasana makin cair. Di sela-sela membakar tempura dan sosis, Nara—adik kandung Daffa—dan Aiko tampak sibuk berebut ingin memutar lagu pilihan mereka. "Mas Daffa, gantian! Aku mau putar lagu yang lagi viral di TikTok!" rengek Nara sambil berusaha meraih ponsel kakaknya. Daffa hanya terkekeh dan akhirnya memberikan izin bagi adiknya untuk menjadi disc jockey dadakan malam itu.
Tanpa disangka, Bu Nita tiba-tiba meraih mikrofon dengan penuh percaya diri. "Ibu mau menyanyi lagu kesukaan zaman dulu ya. Biar kalian para gen-z ini tahu apa itu lagu berkualitas!" kelakar Bu Nita yang disambut sorakan meriah dan tepuk tangan dari Om Ratono.
Intro lagu Bukit Berbunga pun mengalun dari speaker. Bu Nita bernyanyi dengan penuh penghayatan, suaranya meliuk syahdu: "Di bukit indah berbunga... Kau mengajak aku ke sana..."
Suasana menjadi sangat nostalgic. Nenek Sudarmi yang duduk di kursi goyang tampak manggut-manggut menikmati irama, sementara yang lain bertepuk tangan mengikuti tempo. Tak mau kalah, Nara dan Aiko mendorong Daffa untuk maju. Daffa yang biasanya low profile dan kalem, akhirnya menyerah setelah dipaksa oleh sepupu-sepupunya.
"Oke, oke, ini khusus untuk yang lagi galau di malam tahun baru," canda Daffa. Ia mulai melantunkan lirik lagu Pudar milik Rossa. Suaranya yang empuk mengalir tenang: "Kurasakan pudar dalam hatiku... rasa cinta yang ada untuk dirimu... ku lelah..."
Sorakan "Ciee!" pecah dari arah Bagas dan Radit, membuat Daffa sedikit salah tingkah namun tetap melanjutkan nyanyiannya. Malam itu, teras rumah di Desa Kepuhrubuh benar-benar dipenuhi oleh euphoria kebersamaan. Ada kebahagiaan sederhana saat melihat Nara dan Aiko yang akhirnya berhasil mendapatkan jagung bakar pertama mereka, atau saat menyimak cerita-cerita epic Om Ratono tentang perjuangannya menembus kemacetan Jakarta demi bisa pulang ke Bumi Reog.
Meskipun Pak Slamet Mulyanto, bapak dari Daffa, masih berada di Jakarta karena urusan pekerjaan, kehadirannya seolah tetap terasa melalui panggilan video yang sesekali tersambung dan diletakkan di tengah meja.
Namun, di balik keriuhan dan tawa yang pecah di teras rumah Nenek Sudarmi malam itu, sebuah takdir lain sedang berjalan dalam sunyi di Desa Jabung, kecamatan sebelah. Tanpa mereka sadari, malam pergantian tahun ini akan menyimpan sebuah catatan yang tak terlupakan, tidak hanya bagi keluarga mereka, tapi juga bagi tanah kelahiran para ksatria ini.
Kebahagiaan yang meluap-luap di teras rumah Desa Kepuhrubuh itu mendadak terhenti, seolah membeku tepat saat matahari pertama di tahun 2026 mulai mengintip dari ufuk timur. Pagi itu, 1 Januari 2026, sisa-sisa aroma jagung bakar dan kembang api semalam masih terasa di udara yang lembap. Namun, sebuah dering telepon yang melengking tajam dari ponsel Bu Puji Hastuti menghancurkan seluruh sisa-sisa euphoria pergantian tahun dalam sekejap.
Suara di seberang telepon gemetar, membawa kabar yang tak pernah disangka-sangka. Mbah Tohari, sosok sepuh yang merupakan suami dari Mbah Ani—ibunda tercinta Pak Slamet Mulyanto—dikabarkan telah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Beliau mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit tepat saat jam menunjukkan pukul 00.00 WIB, saat langit Ponorogo sebenarnya tengah riuh oleh sorak-sorai kembang api. Serangan stroke mendadak yang fatal telah menjemputnya tepat di gerbang tahun yang baru.
Kabar duka itu bagaikan petir di siang bolong. Suasana rumah Nenek Sudarmi yang tadinya hangat oleh kepul teh pagi, seketika berubah menjadi dingin dan mencekam. Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga besar. Nenek Sudarmi, yang merupakan kerabat dekat dan teman seperjuangan di masa tua bagi almarhum, tertunduk lesu di kursi goyangnya. Air mata perlahan mengalir di pipinya yang mulai berkerut, tanpa suara, namun menyiratkan kehilangan yang teramat sangat.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... Mbah Tohari sudah tidak ada," bisik Bu Puji dengan suara parau sambil memeluk Nara yang masih tampak kebingungan dengan perubahan suasana yang begitu drastis.
Rencana liburan keluarga yang semula telah disusun rapi—rencana untuk mengunjungi telaga atau sekadar berkeliling kota menikmati suasana Bumi Reog—seketika menguap begitu saja. Tawa Radit, Bagas, dan Daffa yang biasanya memenuhi ruangan kini berganti menjadi bisik-bisik koordinasi yang penuh duka. Suasana family party semalam berubah menjadi persiapan layat.
Daffa terdiam di sudut ruangan, memandangi kamera digitalnya yang masih berisi foto-foto keceriaan semalam. Ia teringat bahwa Mbah Tohari dan Mbah Ani tinggal di Desa Jabung, sebuah desa di Kecamatan Mlarak yang letaknya bertetangga dengan kecamatan mereka, Siman. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, rasa kehilangan ini membuat perjalanan ke sana terasa beribu-ribu kilometer jauhnya.
"Kita harus segera ke Jabung," ujar Om Anton Rifa’i sambil membetulkan letak sarungnya, wajahnya yang tadi malam penuh tawa kini tampak kaku dan serius. Beliau segera berkoordinasi dengan Om Ratono untuk menyiapkan kendaraan.
Tanpa menunggu lama, kesibukan baru tercipta. Namun kali ini bukan kesibukan membakar sate, melainkan kesibukan mencari pakaian berwarna gelap dan kain kafan. Daffa melihat ibunya, Bu Puji, mencoba menghubungi Pak Slamet di Jakarta. Meskipun Pak Slamet tidak harus hadir di bagian narasi ini karena masih terikat pekerjaan, Daffa bisa merasakan betapa hancurnya perasaan bapaknya di perantauan sana saat mendengar sosok ayah mertua dari pihak keluarga besarnya telah tiada.
Pagi itu, iring-iringan kendaraan keluarga besar meninggalkan Desa Kepuhrubuh menuju Kecamatan Mlarak. Melewati jalanan persawahan yang masih berkabut, mereka membawa sebingkai rindu yang kini telah bertambah satu lagi warnanya: warna kelabu kehilangan. Kehangatan di Bumi Reog pada awal tahun 2026 ini ternyata harus dibuka dengan sebuah perpisahan yang khidmat di Desa Jabung, mengingatkan mereka semua bahwa setiap yang pulang ke rumah, pada akhirnya akan pulang ke rumah yang paling abadi.
Hujan gerimis mulai membasahi aspal Desa Kepuhrubuh saat jam digital menunjukkan pukul 02.00 WIB pada tanggal 2 Januari 2026. Suasana hening yang biasanya menyelimuti dini hari kini terasa lebih mencekam. Di depan pintu rumah Nenek Sudarmi, sebuah taksi berhenti perlahan. Dari dalamnya, muncul sesosok pria dengan jaket tebal yang nampak lusuh. Gurat lelah terukir jelas di wajahnya, dengan kantung mata yang menghitam akibat kurang tidur dan beban pikiran yang berat.
Pria itu adalah Pak Slamet Mulyanto. Bapaknya Daffa itu baru saja menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari Jakarta menggunakan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Begitu mendengar kabar bahwa ayah mertuanya, Mbah Tohari—suami dari Mbah Ani yang tinggal di Desa Jabung—telah berpulang, Pak Slamet tidak berpikir dua kali. Ia langsung mencari tiket tercepat, meninggalkan segala urusan pekerjaan demi memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang sudah ia anggap sebagai ayah kandungnya sendiri.
"Bapak..." lirih Daffa yang memang sudah menunggu di teras. Ia segera meraih tangan ayahnya, menyalaminya dengan takzim. Telapak tangan Pak Slamet terasa sangat dingin, sedingin udara malam itu.
Pak Slamet hanya mengangguk lemah. Matanya yang sembab menatap Daffa dengan tatapan kosong yang penuh duka. "Ibu mana, Daf? Kita harus segera ke Jabung. Mbah Ani pasti sedang sangat terpukul. Mbah Tohari sudah menunggu kita untuk prosesi layat dan penghormatan terakhir sebelum dimakamkan pagi nanti," suaranya parau, nyaris habis.
Kedatangan Pak Slamet di tengah malam buta itu seolah melengkapi kepingan terakhir dari puzzle keluarga besar yang sedang berkumpul di Ponorogo. Namun, pertemuan ini terjadi dalam frekuensi yang sangat berbeda dari yang mereka rencanakan di grup WhatsApp keluarga selama bulan Desember. Kini, bukan lagi untuk kumpul ceria, barbeque, atau bernyanyi karaoke hingga serak, melainkan untuk berdiri bahu-membahu mengantar seorang sesepuh ke peristirahatan terakhir.
Pukul 04.30 WIB, tepat setelah azan Subuh berkumandang, keluarga besar sudah bersiap. Tidak ada keriuhan seperti saat menjemput Radit di stasiun tempohari. Yang ada hanyalah suara langkah kaki yang berat dan isak tangis tertahan.
"Inilah hidup, Dit, Daf," bisik Om Ratono sambil merangkul pundak para keponakannya di depan rumah sebelum mereka naik ke mobil. "Terkadang takdir mengumpulkan kita untuk tertawa dalam euphoria, tapi di lain waktu, kita dikumpulkan untuk saling menguatkan dalam belasungkawa. Yang paling penting bukanlah alasannya, melainkan fakta bahwa kita tetap bersama saat badai itu datang."
Di bawah langit Ponorogo yang mendung kelabu, iring-iringan mobil keluarga berangkat meninggalkan Desa Kepuhrubuh di Kecamatan Siman menuju Desa Jabung di Kecamatan Mlarak. Perjalanan melintasi batas kecamatan itu terasa begitu sunyi. Melewati hamparan sawah yang masih tertutup kabut twilight, Daffa memandang keluar jendela, melihat bendera kuning yang mulai terpasang di beberapa sudut jalan menuju kediaman Mbah Ani.
Bingkai rindu yang mereka susun dengan susah payah sejak awal Desember kini benar-benar telah utuh, namun dengan sapuan warna baru: warna ketabahan. Di Desa Jabung nanti, satu keluarga besar—mulai dari Nenek Sudarmi, Bu Puji, Pak Slamet, hingga para sepupu seperti Radit, Bagas, Nara, dan Aiko—akan berdiri bersaf-saf. Mereka akan membuktikan bahwa sejauh apa pun langkah kaki merantau ke Jakarta atau Tegal, keluarga adalah tempat terbaik untuk pulang. Baik itu pulang untuk merayakan tawa, maupun pulang untuk saling mendekap dalam lara yang paling dalam.
Mbah Tohari telah pergi tepat di pergantian tahun, meninggalkan kenangan yang kini tersimpan rapi dalam bingkai rindu yang takkan pernah pudar di Bumi Reog.
Setelah prosesi pemakaman di Desa Jabung usai, suasana duka yang semula menyelimuti perlahan memudar, berganti dengan kehangatan sisa waktu yang kian menipis. Sore itu, 2 Januari 2026, langit di atas Desa Kepuhrubuh nampak bersih, seolah turut merestui momen terakhir kebersamaan mereka. Di ruang tamu rumah Nenek Sudarmi, suasana riuh rendah kembali tercipta, namun kali ini bercampur dengan kesibukan packing. Tumpukan tas ransel, koper, dan kardus-kardus berisi oleh-oleh khas Bumi Reog—mulai dari jenang mirah yang manis hingga kaus bergambar barongan—sudah berjajar rapi di dekat pintu jati.
Radit, Bu Yuli, dan Om Ratono sudah bersiap-siap dengan pakaian rapi untuk perjalanan jauh. Malam nanti, mereka harus menempuh perjalanan menuju Stasiun Madiun untuk kembali ke Tegal.
"Rasanya baru kemarin kita ngobrol sampai subuh sambil membakar jagung, sekarang sudah mau ditinggal pulang saja," ujar Bu Puji Hastuti dengan nada getir. Tangannya telaten menata bungkusan jenang dan kerupuk puli ke dalam tas jinjing untuk dibawa kakak iparnya.
"Iya, Mbak Puji. Liburannya singkat sekali, tapi kenangannya luar biasa. Dari senang sampai sedih, dari tawa di malam tahun baru sampai tangis di Jabung, semua kita lalui bersama dalam sepuluh hari ini," sahut Bu Yuli dengan senyum tulus, meski matanya masih sedikit sembab.
Melihat suasana yang mulai melankolis, Daffa yang dikenal sebagai cameraman andalan di lingkungan RT-nya, tiba-tiba bangkit dari kursi lincak. Ia tidak ingin perpisahan ini hanya diisi dengan rasa sedih. Ia melangkah menuju kamar dan mengambil kamera mirrorless kesayangannya yang selalu ia jaga kebersihannya.
"Mumpung matahari belum benar-benar tenggelam dan mumpung semua masih di sini, bagaimana kalau kita foto keluarga besar? Jarang-jarang formasi lengkap begini ada di Ponorogo. Ada Bapak yang baru datang dari Jakarta, ada Om Ratono sekeluarga juga," usul Daffa dengan semangat.
Nenek Sudarmi yang sedang duduk di kursi goyangnya langsung mengangguk setuju. "Iya, Le. Foto yang bagus, buat kenang-kenangan Simbah kalau kalian sudah pada balik ke perantauan."
Tepat setelah azan Maghrib berkumandang dan mereka menunaikan shalat berjamaah di ruang tengah, seluruh anggota keluarga berkumpul di area depan. Di luar, mobil Daitsun berwarna putih milik Om Anton Rifa'i sudah terparkir gagah di halaman, siap untuk mengantar rombongan ke Madiun. Mesinnya belum dinyalakan, memberikan kesempatan bagi penghuni rumah untuk menyelesaikan ritual terakhir mereka.
Kebetulan, Bu Khomsatun, tetangga depan rumah yang paling akrab, baru saja melintas pulang dari masjid. Mukena putihnya masih melekat erat, kontras dengan keremangan senja yang mulai turun di Desa Kepuhrubuh.
"Bu Khomsatun! Sebentar Bu, boleh minta tolong?" panggil Daffa setengah berlari menuju pagar.
"Walah, ada apa toh, Le? Kok sepertinya penting sekali, sampai lari-lari?" tanya Bu Khomsatun ramah dengan dialek Jawa-nya yang kental.
"Tolong fotokan keluarga kami, Bu. Ini momen langka, Bapak baru pulang semalam, dan Om Ratono sekeluarga mau balik ke Tegal bakda Maghrib ini juga. Mohon bantuannya ya, Bu," pinta Daffa sambil menyerahkan kameranya yang sudah ia atur setting-annya agar mudah digunakan oleh orang awam.
"Oalah, boleh, boleh. Sini, ibu bantu. Ayo semuanya merapat! Jangan jauh-jauh, nanti tidak masuk frame!" seru Bu Khomsatun semangat. Ia pun dipersilakan masuk ke area teras rumah yang sudah terang benderang oleh lampu neon.
Kesibukan kecil pun terjadi. Daffa mulai mengatur posisi layaknya seorang pengatur gaya profesional. Nenek Sudarmi ditempatkan di kursi paling tengah sebagai poros keluarga. Pak Slamet Mulyanto dan Bu Puji berdiri tepat di belakang Nenek, memberikan kesan perlindungan. Om Ratono, Bu Yuli, dan Radit bergeser ke sisi kanan, sementara Om Anton, Bu Nita, Bagas, dan Aiko mengisi sisi kiri. Nara, sang adik, diminta duduk di lantai beralaskan karpet tepat di depan kaki Nenek agar formasi terlihat padat dan hangat.
"Ayo, Bagas, Radit, jangan tinggi-tinggi nanti menutupi yang belakang! Om Anton, agak geser sedikit ke dalam supaya tidak terpotong pintu!" instruksi Daffa sambil sesekali mengintip ke viewfinder untuk memastikan angle yang diambil sudah sempurna.
Di bawah sorot lampu teras yang hangat, di tengah aroma tanah basah sisa gerimis tipis, keluarga besar itu mulai memasang senyum terbaik mereka. Mereka berdiri bersisian, bahu membahu, menyatukan sisa-sisa rindu yang sempat terbingkai di Bumi Reog sebelum akhirnya roda mobil Daitsun putih itu berputar membawa mereka kembali ke garis nasib masing-masing.
Berikut adalah penulisan ulang Bagian 10 untuk cerpen Anda. Versi ini dibuat lebih panjang, emosional, dan mendalam dengan sinkronisasi detail dari bagian-bagian sebelumnya.
"Satu... dua... tiga... cheese!" seru Bu Khomsatun dengan semangat, tangannya sedikit gemetar memegang kamera canggih milik Daffa.
Cekrek!
Lampu flash menyambar, membelah keremangan senja di Desa Kepuhrubuh. Cahaya putih itu seolah membekukan waktu, mengabadikan belasan senyuman dalam satu bingkai abadi. Di sana, di teras rumah yang menjadi saksi bisu tawa dan air mata, mereka berdiri rapat. Nenek Sudarmi tersenyum simpul di kursi jengki-nya, diapit oleh anak-cucunya yang datang dari berbagai penjuru kota. Tak puas dengan satu gaya, mereka berfoto berkali-kali—mulai dari gaya formal layaknya foto keluarga di studio, hingga gaya bebas yang membuat Aiko dan Nara tertawa cekikikan hingga harus mengulang jepretan.
"Sudah, sudah. Terima kasih banyak ya, Bu Khomsatun. Ini bakal jadi foto paling bersejarah di rumah Nenek," kata Daffa tulus sambil menerima kembali kameranya. Ia segera memeriksa hasil jepretannya di layar digital; sebuah potret full team yang langka, di mana Pak Slamet yang baru tiba dini hari tadi tampak berdiri gagah meski guratan lelah akibat perjalanan Jakarta-Ponorogo masih tersisa.
Malam pun benar-benar jatuh di Kecamatan Siman. Jarum jam menunjukkan pukul 19.30 WIB, menandakan waktu bakda Maghrib telah lewat. Suasana yang tadinya penuh tawa berangsur-angsur berubah menjadi sibuk dan sedikit melankolis. Gemericik air dari pancuran di halaman rumah Nenek menambah suasana syahdu.
Radit, Bu Yuli, dan Om Ratono mulai mengangkat tas-tas travel dan koper mereka. Kardus-kardus berisi jenang mirah dan oleh-oleh khas Bumi Reog yang sudah dipacking rapi sejak sore tadi mulai dipindahkan. Di pinggir jalan depan rumah, mobil Datsun putih milik Om Anton Rifa’i sudah menyala. Suara mesinnya yang halus seolah memberi aba-aba bahwa waktu untuk tinggal telah habis.
Sesuai rencana, malam ini tanggal 2 Januari 2026, rombongan dari Tegal akan mengejar kereta malam melalui Stasiun Madiun. Karena mobil Om Ratono akan langsung dibawa kembali ke Jakarta nantinya, Om Anton Rifa’i dan Bu Nita menawarkan diri untuk menjadi "kurir rindu" terakhir, mengantar mereka menggunakan mobil Datsun putih agar perjalanan lebih santai dan Om Ratono bisa beristirahat sejenak sebelum menempuh jalur darat yang lebih panjang.
"Ayo, Dit, Mbak Yuli, segera masuk. Perjalanan ke Madiun lewat jalur Mlilir bisa satu jam lebih kalau jalanan sedang ramai kendaraan logistik," ajak Om Anton sambil memeriksa tekanan ban mobilnya.
Di depan pintu jati yang sudah mulai kusam dimakan usia, momen paling emosional itu terjadi. Nenek Sudarmi memeluk Bu Yuli erat-erat, seolah tidak ingin melepaskan kepingan terakhir dari keramaian rumahnya.
"Hati-hati di jalan ya, Yul. Sampaikan salam untuk keluarga di Tegal. Sering-sering kasih kabar lewat WhatsApp, jangan menunggu lebaran baru menelepon," bisik Nenek dengan suara yang mulai serak. Matanya yang mulai meredup seketika berkaca-kaca.
"Iya, Mak. Doakan kami selamat sampai tujuan. Liburan tahun depan, kalau umur panjang, kita kumpul lagi di sini dalam keadaan bahagia," jawab Bu Yuli lembut, berusaha tegar meski matanya sendiri tak bisa berbohong.
Radit menyalami Pak Slamet dan Bu Puji, lalu menghampiri Daffa dan Bagas. Tanpa kata-kata puitis, mereka melakukan fist bump ala remaja dan pelukan singkat—sebuah bahasa universal laki-laki yang berarti: "Sampai jumpa lagi, Saudaraku."
Pintu mobil Datsun putih itu pun tertutup. Saat kendaraan itu perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah di Desa Kepuhrubuh, Daffa berdiri di tepi jalan, melambai hingga lampu belakang mobil itu menghilang di tikungan jalan desa.
Daffa kembali masuk ke teras, duduk di samping Nenek, dan memandangi foto di kameranya. Di sana, di dalam frame digital itu, duka kehilangan Mbah Tohari di Desa Jabung dan sukacita pertemuan di malam tahun baru melebur menjadi satu kekuatan bernama keluarga. Mereka pulang bukan hanya membawa buah tangan, tapi membawa potongan-potongan rindu yang telah terbingkai sempurna di Bumi Reog.
"Jangan lupa mabar online ya, Daf, Gas! Biar tetap berasa di Ponorogo!" seru Radit dari jendela tengah mobil. Kepalanya menyembul sedikit, memberikan lambaian terakhir saat Datsun putih milik Om Anton itu mulai perlahan bergerak meninggalkan halaman rumah di Desa Kepuhrubuh.
Daffa, Pak Slamet, Bu Puji, dan anggota keluarga lainnya berdiri berjajar di tepi jalan, melambaikan tangan dengan ritme yang perlahan melambat seiring menjauhnya kendaraan. Mereka tetap terpaku di sana hingga lampu stoplamp merah mobil itu benar-benar hilang tertelan tikungan jalan desa yang mulai sepi. Suasana malam di Kecamatan Siman kembali ke setelan awal: tenang, sedikit dingin, dan hanya menyisakan suara jangkrik dari arah persawahan di belakang rumah.
Langkah kaki mereka terdengar berat saat kembali masuk ke dalam rumah. Ruang tengah yang beberapa jam lalu riuh rendah oleh suara tawa dan gesekan tas koper, kini terasa begitu lowong. Sambil duduk di kursi kayu jati yang kokoh di ruang tengah, Daffa segera mengeluarkan ponselnya. Ia tidak ingin membuang waktu untuk membagikan momen berharga yang baru saja terekam. Dengan cekatan, jemarinya menari di atas layar touchscreen, mengunggah hasil jepretan Bu Khomsatun ke grup WhatsApp keluarga yang diberi nama "Dulur Dhewe".
"Foto-foto sudah meluncur ke grup! Silakan di-download buat kenang-kenangan!" seru Daffa memecah keheningan. Namun, ternyata yang dikirim Daffa bukan sekadar foto original yang baru saja diambil.
Ponsel semua orang di ruangan itu—milik Pak Slamet, Bu Puji, hingga Bagas dan Nara—berdenting hampir bersamaan, menciptakan simfoni notifikasi yang unik. Tak lama kemudian, Daffa senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Menggunakan kecanggihan Gemini AI, ia mulai berkreasi dengan foto keluarga besar tersebut melalui fitur image generation dan editing tool yang mumpuni.
"Wah, apa ini? Kok kita ada di depan Menara Eiffel? Bajunya masih sama, tapi latarnya kok beda?" tanya Bu Puji heran. Ia mendekatkan ponsel ke matanya, mengamati foto keluarga mereka yang kini tampak sedang berdiri di Paris dengan latar langit twilight.
"Ini namanya Artificial Intelligence, Bu. Kecerdasan buatan. Lihat ini, ada foto Nenek Sudarmi dan kita semua sedang berdiri di depan Colosseum Roma. Terus yang ini, kita lagi di depan Opera House Sydney, Australia," terang Daffa sambil menunjukkan hasil editannya yang tampak sangat halus, pencahayaan yang menyatu, dan terlihat sangat nyata.
"Ya Allah, si Daffa ini ada-ada saja. Nenek jadi kelihatan seperti turis internasional, padahal cuma duduk di kursi jengki," timpal Nenek Sudarmi sambil tertawa renyah. Ia melihat fotonya sendiri yang tetap mengenakan kebaya lurik dan sanggul sederhana, namun berlatar belakang hamparan salju putih di kaki Gunung Fuji, Jepang.
Daffa tidak berhenti di situ. Ia terus meluncurkan "sihir" digitalnya ke grup. Satu per satu foto keluarga besar mereka berpindah tempat ke keajaiban dunia lainnya: berdiri tegak di depan megahnya Piramida Giza di Mesir, berpose di sepanjang jalur Tembok Besar China, hingga tampak basah oleh uap air di depan Air Terjun Niagara. Bahkan, ada satu foto yang memperlihatkan mereka sedang duduk santai di tengah rimbunnya Hutan Hujan Amazon.
Grup Dulur Dhewe pun langsung ramai dengan komentar, emoji hati, dan stiker lucu. Meskipun Radit, Bu Yuli, dan Om Ratono saat ini sedang duduk di dalam mobil Datsun putih menuju Stasiun Madiun, kehadiran mereka tetap terasa nyata melalui ruang digital tersebut. Balasan pesan singkat dari Radit muncul di layar: "Gokil Daf! Simbah jadi kelihatan kayak jetsetter!"
Daffa menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu, merasa puas. Baginya, teknologi bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jembatan emosional yang mampu merangkum rindu yang tercecer. Di Bumi Reog ini, tepatnya di Desa Kepuhrubuh, mereka telah membuktikan bahwa jarak hanyalah angka, dan keberangkatan hanyalah jeda singkat. Karena pada akhirnya, semua kenangan—baik yang nyata di depan mata maupun yang terbingkai dalam kreasi digital—akan selalu pulang ke satu tempat yang sama: hati keluarga.
Malam semakin larut di Ponorogo. Sisa-sisa aroma jagung bakar dari perayaan malam sebelumnya masih tercium tipis di udara, terbawa angin malam yang menyelinap masuk melalui celah ventilasi kayu di atas pintu. Di dalam kamar yang ia bagi bersama Bagas, Daffa merebahkan tubuhnya yang lelah namun hatinya terasa penuh. Di luar sana, di bawah langit malam tanggal 2 Januari 2026, ia tahu bahwa meski raga mereka terpisah kecamatan, kota, hingga provinsi, mereka tetap satu dalam bingkai rindu yang abadi.
Berikut adalah versi epilog yang lebih panjang, detail, dan emosional untuk bagian penutup cerpen Anda, dengan tetap menjaga konsistensi karakter serta suasana di Desa Kepuhrubuh.
Daffa tersenyum tipis, sebuah garis lengkung yang sarat akan makna. Di dalam remang kamar, ia membiarkan ingatannya berkelana kembali ke momen beberapa hari lalu di Stasiun Madiun. Ia teringat bagaimana ia menjemput Radit yang nampak asing dengan hawa panas Jawa Timur, hingga tawa yang pecah saat mereka menyantap mi pedas di Gacoan Ponorogo di tengah riuhnya suasana kota. Rasanya baru tadi pagi ia melihat Bagas kebingungan setengah mati mencari pecinya yang terselip di balik tumpukan sarung untuk shalat Jumat. Namun, kenyataannya, sebagian dari mereka kini sudah berada di perjalanan, menembus aspal gelap menuju rutinitas masing-masing.
"Belum tidur, Daf?" suara serak Bagas memecah kesunyian.
Saudara sepupunya itu masih duduk di tepi tempat tidur kayu yang sudah agak berderit. Tangan Bagas bergerak telaten melipat sarung kotak-kotak yang tadi mereka gunakan untuk shalat Isya berjamaah di bawah imaman Pak Slamet.
"Belum, Gas. Masih kepikiran soal foto-foto tadi," jawab Daffa sambil mengubah posisinya menjadi menyamping, menyangga kepala dengan satu tangan. "Cepat sekali ya semuanya berlalu? Dari kita yang bercanda ria merayakan New Year, sampai kita yang harus shock dan bertakziah ke rumah Mbah Tohari di Jabung. Benar kata Om Ratono, hidup itu seperti roller coaster."
Bagas mengangguk pelan, gerakannya melambat seolah ikut meresapi sisa duka yang tertinggal. "Iya, Daf. Tapi menurutku, justru duka kemarin yang bikin kita makin kuat. Aku tidak pernah membayangkan melihat Bapak, Om Ratono, dan Pak Slamet berdiri satu baris untuk menyalati jenazah di masjid tadi pagi. Itu pemandangan yang... heartwarming sekaligus sedih secara bersamaan."
Daffa terdiam sejenak, meresapi kata-kata Bagas. "Kau benar. Kadang kita butuh kehilangan untuk menyadari betapa berharganya apa yang masih kita miliki. Aku tadi sempat melihat Nenek Sudarmi berdiri sendirian di depan rumah setelah mobil Om Anton yang membawa rombongan Radit pergi. Beliau cuma diam memandangi jalan desa yang mulai berkabut, tapi senyumnya terlihat lega. Setidaknya, tahun ini kita semua sempat pulang dan saling menggenggam tangan."
Daffa kemudian membuka kembali aplikasi edit foto di ponselnya. Ia memandangi foto keluarga besar hasil jepretan Bu Khomsatun yang asli—tanpa latar belakang menara Eiffel, pohon sakura, atau megahnya Colosseum hasil olahan Artificial Intelligence yang tadi sempat membuat seisi rumah heboh. Foto itu menampilkan wajah-wajah yang lelah namun penuh ketulusan. Ada Pak Slamet yang matanya sembab sisa tangis di pemakaman, ada Nara dan Aiko yang berpose polos dengan wajah mengantuk, dan tentu saja, ada Nenek Sudarmi yang menjadi pusat gravitasi dari segalanya.
"Gas, menurutmu kenapa orang harus merantau jauh ke Jakarta atau Tegal kalau akhirnya rindu itu malah menyiksa?" tanya Daffa tiba-tiba, sebuah renungan khas anak muda yang sedang mencari makna hidup di tengah keheningan malam Siman.
Bagas terkekeh kecil, sebuah tawa pendek yang terdengar bijak. "Mungkin supaya kita tahu jalan pulang, Daf. Kalau tidak pernah pergi, kita tidak akan pernah tahu rasanya 'kepulangan'. Seperti Om Ratono atau Mbak Yuli. Perjalanan jauh itu adalah harganya, dan pelukan hangat Nenek tadi adalah upahnya. Tanpa jarak, kita mungkin lupa cara menghargai kehadiran."
Daffa mengangguk setuju, merasa jawaban Bagas telah menambal lubang kecil di hatinya. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kecil, lalu menarik selimut kainnya hingga ke dada. Di balik jendela kamar yang sedikit merenggang, ia bisa mendengar suara jangkrik yang bersahutan dari arah sawah Kepuhrubuh, seolah sedang mendiskusikan kehangatan yang baru saja berlalu di rumah ini.
Bingkai Rindu di Bumi Reog, batin Daffa. Judul itu terasa sangat tepat menyimpulkan liburan kali ini. Kepulangannya bukan sekadar tentang menghabiskan sisa cuti atau merayakan pergantian kalender. Ini tentang sebuah siklus abadi: ada yang datang dalam euforia, ada yang pergi dengan lambaian tangan, dan ada yang menetap abadi di dalam doa.
"Tidur, Daf. Besok pagi-pagi kita masih harus membantu Nenek merapikan kembali kursi-kursi di teras dan membereskan sisa kardus oleh-oleh," ajak Bagas sambil meraih saklar lampu. Klik. Lampu utama mati, digantikan oleh pendar lampu tidur yang redup dan menenangkan.
"Iya, Gas. Selamat tidur," bisik Daffa.
Sebelum benar-benar terlelap dan hanyut ke alam bawah sadar, Daffa sekali lagi membayangkan foto keluarga mereka. Ia merasa bahwa di dalam bingkai itu, tidak ada lagi sekat jarak antara Jakarta, Tegal, Madiun, atau Ponorogo. Semuanya menyatu dalam sebuah entitas yang tak akan pernah bisa dipisahkan oleh waktu: kasih sayang yang tak bertepi. Di bawah naungan langit malam Bumi Reog yang mistis namun hangat, Daffa akhirnya memejamkan mata dengan hati yang penuh, membawa sejuta kenangan ke dalam mimpinya yang paling damai.
Malam di Desa Kepuhrubuh, Kecamatan Siman, akhirnya benar-benar melarutkan sisa-sisa keriuhan dalam keheningan yang purba. Di dalam rumah kayu yang kini kembali terasa luas dan sunyi, hanya detak jam dinding tua yang seolah menghitung setiap detik kerinduan yang mulai tumbuh kembali. Perjalanan keluarga besar Daffa, mulai dari tawa di bawah kembang api tahun baru hingga isak tangis di pemakaman Desa Jabung, bukanlah sekadar catatan perjalanan di kalender. Ia adalah sebuah manifesto tentang apa artinya menjadi sebuah keluarga.
Amanat yang tersirat di balik bingkai rindu ini adalah bahwa keluarga bukanlah sekadar kumpulan orang yang memiliki pertalian darah, melainkan sebuah sanctuary—tempat perlindungan paling sakral di mana setiap luka mendapatkan perbannya dan setiap tawa mendapatkan gaungnya. Kita belajar dari Pak Slamet Mulyanto, bahwa sejauh apa pun kaki melangkah mengejar eksistensi di belantara Jakarta, kewajiban untuk memberikan last tribute atau penghormatan terakhir kepada orang tua adalah kompas moral yang tak boleh mati. Kita belajar dari Nenek Sudarmi, bahwa menjadi "pusat gravitasi" keluarga membutuhkan ketabahan seluas samudera untuk melepas kepergian dengan senyum, meski hati didera loneliness yang senyap.
Kehadiran teknologi, seperti Artificial Intelligence yang dimainkan Daffa, hanyalah sebuah medium atau perantara. Ia bisa memindahkan raga mereka ke Menara Eiffel atau Piramida Giza dalam sekejap mata, namun kecerdasan buatan secanggih apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan human touch—sentuhan tangan yang hangat, aroma masakan ibu yang khas, atau tatapan mata seorang ayah yang penuh proteksi. Di Bumi Reog ini, Daffa dan saudara-saudaranya memahami bahwa home is not a place, it’s a feeling. Rumah bukanlah sekadar titik koordinat di Kecamatan Siman, melainkan rasa nyaman yang muncul saat semua kepala tertunduk dalam doa yang sama.
Hidup memang penuh dengan unpredictable moments. Terkadang takdir memaksa kita pulang untuk merayakan suka, namun di lain waktu, ia menyeret kita kembali untuk memeluk duka. Namun, intinya tetap sama: kepulangan adalah cara semesta mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian di dunia yang luas ini. Sejauh apa pun Radit kembali ke Tegal, atau Pak Slamet kembali ke hiruk-pikuk ibu kota, mereka membawa sebuah invisible bond atau ikatan tak kasat mata yang akan selalu menarik mereka kembali ke Kepuhrubuh.
Pada akhirnya, bingkai rindu di Bumi Reog ini telah terpatri dengan sempurna. Ia mengajarkan bahwa dalam setiap perpisahan, selalu ada benih pertemuan yang lebih bermakna. Karena bagi keluarga ini, "pulang" adalah sebuah kata kerja yang tak pernah selesai dilakukan. Selama masih ada doa yang dipanjatkan dan foto yang disimpan, mereka akan selalu memiliki alasan untuk kembali, menyatukan kepingan hati, dan memastikan bahwa api kasih sayang mereka tidak akan pernah padam oleh jarak maupun waktu.

0 Komentar